Viralterkini.id, JAKARTA – Sebanyak tujuh ekor Merak Hijau (Pavo muticus) hasil pengembangbiakan terkontrol Jagat Satwa Nusantara (JSN) diberangkatkan menuju Pulau Handeuleum, kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, untuk menjalani tahapan persiapan pelepasliaran ke habitat alami.
Ketujuh burung tersebut terdiri atas dua jantan dan lima betina. Pemberangkatan dilakukan pada 3 November 2026, menjelang peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) pada 5 November.
Merak Hijau merupakan salah satu satwa dilindungi di Indonesia. Spesies ini juga masuk kategori Endangered (EN) atau terancam punah dalam Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Ahmad Munawir, mengatakan upaya pelestarian satwa membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari lembaga konservasi hingga pemerintah dan masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi dan menyambut baik inisiatif yang dilakukan Jagat Satwa Nusantara. Ini merupakan langkah positif yang patut diketahui masyarakat luas,” kata Ahmad dalam seremoni pemberangkatan di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.
Direktur Operasional Jagat Satwa Nusantara, Muhammad Fardhan Khan, menjelaskan pengembangbiakan merupakan salah satu bagian dari rangkaian konservasi, bukan tujuan akhir. Upaya tersebut perlu dilanjutkan dengan penelitian, pengamatan perilaku, dan persiapan satwa sebelum dikembalikan ke habitat alaminya.
Sebelum diberangkatkan, tim Life Science JSN melakukan serangkaian persiapan, antara lain pengenalan pakan alami seperti buah ara, pengayaan lingkungan, serta pemantauan aktivitas dan perilaku menggunakan kamera pengawas atau CCTV.
Pengamatan tersebut dilakukan untuk mengevaluasi perkembangan perilaku alami sekaligus menilai kesiapan satwa menghadapi lingkungan baru.
Persiapan juga dilakukan melalui survei awal bersama pengelola Taman Nasional Ujung Kulon di Pulau Handeuleum. Survei mencakup kondisi lingkungan, ketersediaan sumber pakan, dan air yang menjadi faktor penting bagi keberlangsungan satwa di lokasi tujuan.
Meski demikian, proses rehabilitasi dan pengenalan pakan alami tidak serta-merta menjamin keberhasilan adaptasi setelah pelepasliaran. Kondisi fisik satwa, kemampuan beradaptasi, serta kesesuaian habitat tetap memerlukan penilaian teknis dan pemantauan berkelanjutan.

Setelah tiba di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, ketujuh merak akan menjalani penanganan dan tahapan persiapan lanjutan sesuai arahan pihak berwenang dan pengelola kawasan.
Pemantauan setelah pelepasliaran nantinya diperlukan untuk mengetahui keberadaan, perkembangan perilaku, dan kemampuan adaptasi satwa di habitat alaminya. Data tersebut juga menjadi bahan evaluasi untuk menentukan efektivitas program konservasi.
Seremoni pemberangkatan dilaksanakan di TMII, bukan di lokasi yang direncanakan sebagai habitat pelepasliaran. Pemilihan lokasi tersebut dimaksudkan untuk membatasi aktivitas manusia di kawasan habitat agar tidak menimbulkan gangguan tambahan terhadap lingkungan.
Program ini melibatkan Jagat Satwa Nusantara, TMII, Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta, dan Balai Taman Nasional Ujung Kulon.
Dukungan juga datang dari sektor swasta, termasuk PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. melalui balé by BTN.
Sejumlah perwakilan lembaga konservasi, organisasi profesi, media, dan kebudayaan turut menghadiri seremoni pemberangkatan tersebut.
Pemberangkatan tujuh Merak Hijau ini menjadi bagian dari proses panjang konservasi satwa terancam punah. Keberhasilannya tidak hanya diukur dari pemindahan satwa ke habitat alami, tetapi juga dari kemampuan mereka bertahan hidup dan berkembang biak di lingkungan tersebut.(DP)