Viralterkini.id, DENMARK – Kecerdasan buatan (AI) mulai memainkan peran lebih besar dalam penelitian farmasi. Novo Nordisk, perusahaan farmasi asal Denmark, menggandeng Anthropic untuk memanfaatkan model AI Claude dalam membantu ilmuwan mempercepat penelitian dan pengembangan obat baru.
Kerja sama yang diumumkan pada 7 Oktober 2026 itu diarahkan untuk mengatasi berbagai tantangan dalam proses penemuan obat, mulai dari analisis persoalan ilmiah hingga pemahaman mekanisme biologis yang mendasari suatu penyakit. Teknologi AI juga akan digunakan untuk mendukung pengembangan perangkat lunak internal Novo Nordisk.
Melalui kolaborasi tersebut, kedua perusahaan akan mengidentifikasi bidang penelitian yang berpotensi memperoleh manfaat dari kemampuan analisis dan penalaran AI. Pada tahap awal, Novo Nordisk akan menguji Claude Science dalam sejumlah alur kerja penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D).
Pemanfaatan AI diharapkan membantu peneliti mengolah informasi ilmiah, mengeksplorasi hipotesis, serta memahami biologi manusia dan mekanisme kerja obat secara lebih mendalam. Pendekatan ini berpotensi meningkatkan efisiensi penelitian yang selama ini membutuhkan waktu dan sumber daya besar.

Presiden dan CEO Novo Nordisk, Mike Doustdar, mengatakan kerja sama dengan Anthropic merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas penerapan AI dalam kegiatan penelitian.
Menurut dia, teknologi tersebut tidak hanya berpotensi meningkatkan produktivitas tim R&D, tetapi juga membuka peluang untuk mengeksplorasi pendekatan ilmiah baru dalam pengembangan terapi bagi penderita penyakit kronis.
Sementara itu, CEO sekaligus salah satu pendiri Anthropic, Dario Amodei, menilai perkembangan AI dapat mempercepat kemajuan penelitian biologi dan kedokteran. Akses terhadap model AI yang mumpuni, menurut dia, dapat membantu ilmuwan meningkatkan efisiensi riset dan mengeksplorasi kemungkinan pengembangan obat serta terapi baru.
Tantangan Membawa AI dari Riset ke Pengobatan
Meski menawarkan peluang untuk mengubah cara penelitian dilakukan, penggunaan AI dalam industri farmasi bukan berarti proses penemuan obat dapat berlangsung tanpa tahapan panjang. Hasil analisis AI tetap harus diuji melalui eksperimen laboratorium, penelitian praklinis, uji klinis, dan evaluasi regulator sebelum suatu obat dapat digunakan secara luas.
Akurasi prediksi, validitas hasil analisis, serta kemampuan peneliti memverifikasi keluaran sistem menjadi faktor penting dalam penerapan teknologi ini. Kesalahan analisis pada tahap awal dapat memengaruhi arah penelitian dan keputusan dalam pengembangan kandidat obat.
Aspek keamanan data dan pengawasan manusia juga menjadi perhatian dalam kolaborasi Novo Nordisk dan Anthropic. Kedua perusahaan menyatakan penerapan AI akan disertai tata kelola data yang ketat dan pengawasan manusia untuk menjaga keamanan, etika, serta kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.
Selain mendukung penelitian obat, model AI Anthropic akan dimanfaatkan untuk memperkuat pengembangan perangkat lunak internal Novo Nordisk. Penggunaan ini menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas integrasi AI dalam operasionalnya.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bagaimana perusahaan farmasi mulai mengintegrasikan AI ke dalam proses penelitian yang kompleks. Namun, ukuran keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknologi menghasilkan analisis lebih cepat, melainkan juga oleh sejauh mana pendekatan tersebut mampu menghasilkan temuan ilmiah yang valid dan membantu menghadirkan terapi yang aman serta efektif bagi pasien.(DP)