Sekitar 50 alumni arsitektur menghadiri peluncuran buku Jaras Pusaka 1 Jilid 1 di Cafe ALIEN DC HQ, Jalan Karang Tengah I No. 1A, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (26/9/2026). Foto : ist Viralterkini.id, Jakarta – Sekitar 50 alumni arsitektur menghadiri peluncuran buku Jaras Pusaka 1 Jilid 1 di Cafe ALIEN DC HQ, Jalan Karang Tengah I No. 1A, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (26/9/2026).
Peluncuran ini menjadi momentum untuk menelusuri perjalanan pendidikan arsitektur sekaligus mengangkat pentingnya menjaga arsip dan kesaksian para pelaku sejarah.
Di balik penerbitan buku tersebut, terdapat proses panjang pengumpulan dokumen, wawancara, dan penelusuran pengalaman para pendidik serta alumni senior. Ingatan mereka menjadi sumber penting untuk melengkapi catatan mengenai perkembangan jurusan dari masa ke masa.
Pendidik Program Studi Arsitektur, Siti Utomini, dan arsitek pendidik Prof. Gunawan Tjahjono membagikan kesaksian tentang perjalanan itu. Keduanya menyoroti bagaimana pengalaman pribadi, pengabdian dosen, dan dokumen kelembagaan saling melengkapi dalam membangun rekam sejarah yang utuh.
Menggali Sejarah dari Ingatan Para Senior

Siti Utomini menceritakan keterlibatannya dalam pengumpulan informasi yang dilakukan oleh Ikatan Alumni Arsitektur. Ia mengingat dirinya mulai diwawancarai sekitar 2012 untuk memberikan keterangan mengenai masa awal dan perkembangan jurusan.
Saat itu, para alumni berupaya menjangkau dosen-dosen senior yang masih dapat ditemui secara langsung. Kesaksian mereka diharapkan dapat memperkaya informasi yang tersedia dalam dokumen tertulis.
Siti, yang telah menjadi bagian dari perjalanan jurusan sejak 1976, memiliki pengalaman panjang untuk dibagikan. Namun, proses menggali pengalaman tersebut membutuhkan pemahaman konteks dan pendalaman pertanyaan.

Ia mengenang wawancara pertama yang dilakukan oleh mahasiswa semester awal. Meski telah menyiapkan pertanyaan, pewawancara dinilainya belum sepenuhnya memahami penjelasan yang disampaikan.
“Dia sudah membawa beberapa pertanyaan untuk wawancara saya. Saya merasa waktu wawancara itu dia kelihatannya juga tidak begitu menangkap betul penjelasan-penjelasan saya. Karena dia baru semester kedua,” katanya.
Untuk melengkapi informasi, wawancara kemudian dilakukan kembali. Pada kesempatan berikutnya, mahasiswa yang lebih senior datang dengan pertanyaan yang lebih banyak.
“Kelihatannya apa yang kami dapatkan selama ini masih banyak kekurangannya. Ya sudah, saya diwawancarai lagi untuk kedua kalinya,” ujar Siti.
Pengalaman itu memperlihatkan bahwa penyusunan sejarah memerlukan proses bertahap. Keterangan yang telah terkumpul perlu diperdalam agar hubungan antara peristiwa, tokoh, dan perkembangan institusi dapat dipahami dengan lebih jelas.
Kesaksian para senior tersebut menjadi bagian dari bahan dokumentasi sejarah pusaka arsitektur yang dihimpun untuk jilid 1 hingga 3.
Proses Panjang di Balik Penerbitan Buku
Prof. Gunawan Tjahjono menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyusunan buku sejarah tersebut. Ketua Jurusan Arsitektur periode 1997–2003 itu memahami besarnya pekerjaan yang dibutuhkan untuk menghadirkan sebuah penerbitan.
Gunawan memimpin selama dua periode sebagai ketua jurusan ke-8 dan ke-9. Pengalamannya juga mencakup keterlibatan dalam penyusunan rencana induk kawasan kampus Depok, termasuk pengembangan kompleks gedung rektorat.
Ia membandingkan proses penyusunan buku sejarah arsitektur dengan pengalamannya menjadi editor Indonesian Heritage volume enam, yang membutuhkan waktu lima tahun.
“Saya tahu betapa sulit membuat sebuah buku. Saya pernah menjadi editor buku Indonesian Heritage, volumenya enam. Saya dipercayakan menjadi editor dan membutuhkan waktu lima tahun,” kata Gunawan.
Menurut penuturannya, proses penyusunan buku sejarah arsitektur tersebut berlangsung sekitar 12 tahun.
“Jadi tadi ini 12 tahun memang jauh lebih lama,” ujarnya.
Panjangnya proses itu menjadi gambaran mengenai usaha yang dibutuhkan untuk menghimpun pengalaman lintas generasi dan melengkapi rekam perjalanan sebuah institusi.
Dokumentasi Menopang Perkembangan Pendidikan
Bagi Gunawan, pentingnya dokumentasi semakin terasa ketika ia menjabat sebagai ketua jurusan. Saat itu, jurusan memperoleh kesempatan mengikuti program Quality Undergraduate Education atau Q Project yang didanai Bank Dunia.
“Pada saat saya jadi ketua jurusan, ada dana dan ada masalah juga. Kami berhasil memimpin jurusan mendapatkan Q Project, Quality Undergraduate Education, yang didanai Bank Dunia,” tuturnya.
Dalam proses penyiapan berbagai kebutuhan dokumen, termasuk untuk akreditasi, ia menemukan bahwa arsip jurusan belum tersusun secara lengkap.
“Saya merasakan dokumen akreditasi jurusan itu kok tidak lengkap,” katanya.
Gunawan menyebut Bu Doti dan Veronika sebagai pihak yang turut membantu melengkapi dokumen. Ia menilai pengalaman tersebut memperlihatkan betapa pentingnya pencatatan yang tertib bagi keberlanjutan jurusan.
Program itu juga dikenangnya memberikan manfaat bagi pengembangan akademisi, termasuk kesempatan untuk belajar ke Inggris.
“Kalau tidak ada Q Project, kayaknya tidak seperti sekarang dokumen-dokumen administratif yang ternyata penting bagi kelanjutan jurusan,” ujarnya.
Dari pengalaman tersebut, dokumentasi memiliki fungsi yang langsung berkaitan dengan kebutuhan pendidikan. Arsip membantu institusi menelusuri perjalanan, memenuhi kebutuhan pengembangan, dan menjaga kesinambungan antarkepemimpinan.
Mengabadikan Pemikiran dan Pengabdian Dosen
Perhatian Gunawan terhadap dokumentasi juga mencakup pemikiran dan pengabdian para profesor serta dosen yang turut membangun jurusan.
Ia mengaku memperoleh inspirasi setelah melihat penerbitan dari Universitas Diponegoro yang mengangkat sosok Profesor Sidarta. Dari sana, muncul gagasan untuk menghadirkan karya serupa bagi para profesor di lingkungan arsitektur.
“Kenapa kita nggak bikin untuk profesor kita juga, Profesor Soemojo,” katanya.
Gunawan menjelaskan bahwa penggunaan istilah yang berkaitan dengan api, cahaya, lilin, dan penerangan dalam penerbitan tersebut memiliki filosofi tentang peran pendidik.
Lilin, misalnya, menggambarkan sosok yang memberikan penerangan kepada lingkungan sekitarnya melalui pengorbanan dirinya sendiri.
“Kalau lilin lestari kenapa lilin? Itu membakar dirinya, lilin itu membakar dirinya menerangkan sekitarnya, tapi dia korbankan diri. Jadi maknanya itu, selalu ada maknanya,” jelasnya.
Filosofi tersebut mencerminkan penghargaan terhadap dosen yang mencurahkan pengetahuan, waktu, dan tenaga untuk mendidik generasi berikutnya.
Menjaga Sejarah Tetap Berlanjut
Gunawan memandang dokumentasi sejarah sebagai jalan untuk memahami perkembangan institusi dan perubahan orientasi pendidikan arsitektur.
Perjalanan itu mencakup masa pendidikan di Salemba hingga perkembangan kampus Depok, serta pengaruh tradisi pendidikan arsitektur ITB yang kemudian berkembang dengan perspektif lebih luas.
Karena itu, ia berharap upaya pencatatan terus dilanjutkan. Pemikiran dan kontribusi para pendidik perlu mendapat ruang dalam penerbitan berikutnya agar dapat dipelajari oleh generasi penerus.
Ia juga menyinggung keberlanjutan penerbitan yang sebelumnya dirintis untuk mengabadikan para dosen, termasuk kebutuhan pendanaan yang menyertainya.
Peluncuran Jaras Pusaka 1 Jilid 1 menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut. Melalui arsip dan kesaksian para senior, pengalaman yang selama ini tersimpan dalam ingatan dapat diteruskan sebagai sumber pengetahuan bagi generasi arsitektur berikutnya. (ma)
