x Pulau Seribu Asri

Dulu Tahun Baru Bukan di Januari, Tapi di Maret. Ini Sejarahnya!

waktu baca 3 menit
Minggu, 12 Apr 2026 08:48 50 Rainy Bintang

Viralterkini.id—Setiap tahun kita merayakan tahun baru pada 1 Januari. Tapi ternyata, dulu tidak selalu begitu. Pada masa Romawi Kuno, tahun baru justru dimulai pada bulan Maret.

Lalu, kenapa sekarang kita memulai tahun pada Januari? Ceritanya cukup panjang—mulai dari kalender Romawi yang hanya punya 10 bulan, reformasi oleh Julius Caesar, hingga perubahan sistem kalender dunia.

Kalendar Romawi Pertama

Manusia telah meggunakan kalender setidaknya selama 10.000 tahun. Namun, cara menghitung waktu berbeda-beda di setiap peradaban.

  • Masyrakat Mesolitikum di Inggris melacak fase bulan.
  • Bangsa Mesir Kuno menggunakan pergerakan matahari.
  • Sementara bangsa Tiongkok menggabungkan keduanya dalam kalender lunisolar.

Kalender yang kemudian berkembang menjadi sistem yang kita gunakan sekarang berasal dari Romawi Kuno.

Menurut legenda, kalender pertama dibuat oleh Romulus, pendiri kota Roma. Kalender ini hanya memiliki 10 bulan dengan total 304 hari dalam setahun.

Yang menarik, tahun dimulai pada bulan Maret (Martius), yang dinamai dari dewa perang Romawi, Mars. Kalender ini berlanjut hingga bulan Desember, yang menandai masa panen di wilayah Roma.

Setelah panen berakhir, musim dingin bahkan tidak memiliki nama bulan. Periode ini hanya dianggap sebagai waktu tanpa perhitungan kalender.

Penambahan Bulan Januari dan Februari

Pada abad ke-7 SM, raja Romawi kedua, Numa Pompilius, memperbarui kalender tersebut.

Ia menambahkan dua bulan musim dingin:

  • Ianuarius (Januari), dinamai dari dewa Janus, dewa waktu dan perubahan.
  • Februarius (Februari), berasal dari festival penyucian Romawi bernama Februa.

Dengan tambahan ini, kalender menjadi lebih panjang, tetapi masih belum sempurna. Sistem tersebut tetap menggunakan pergerakan bulan, sehingga kalender sering tidak sinkron dengan musim.

Untuk mengatasi masalah itu, bangsa Romawi kadang menambahkan bulan tambahan bernama Marcedonius setiap dua atau tiga tahun. Namun, penambahan ini tidak selalu dilakukan secara konsisten, sehunggan kalender semakin membingungkan.

Keadaan semakin rumit karena para pendeta Romawi tidak membuka kalender untuk umum. Mereka mengendalikan sistem kalender dan menentukan sendiri tanggal festival, hari libur, serta kapan kegiatan bisnis boleh dilakukan.

Reformasi Kalender oleh Julius Caesar

Pada tahun 45 SM, Julius Caesar akhirnya memutuskan untuk mereformasi kalender Romawi.

Dengan bantuan astronom dari Alexandria bernama Sosigenes, ia menciptakan kelender Julian, yang memiliki: 365 hari dalam setahun dan tahun kabisat setiap empat tahun.

Kalender baru ini jauh lebih akurat karena didasarkan pada pergerakan matahari, bukan bulan.

Caesar juga menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun, bertetapan dengan hari ketika para konsul Romawi mulai menjabat.

Kalender Gregorian yang Digunakan Saat Ini

Meskipun kalender Julian bertahan selama berabad-abad, sistem ini masih memiliki sedikit kesalahan perhitungan. Tahun yang dihitung terlalu panjang sekitar 11 menit.

Pada tahun 1582, Paus Gregory XIII memperbaiki sistem tersebut dan memperkenalkan kalender Gregorian, yang digunakan oleh sebagian besar dunia saat ini.

Kalender ini menghitung panjang tahun sekitar 265,2425 hari, sehingga lebih sesuai dengan pergerakan Bumi mengelilingi Matahari.

Sejak reformasi ini, 1 Januari benar-benar menjadi awal tahun baru bagi banyak negara.

Namun, tidak semua budaya mengikuti sistem yang sama. Beberapa kalender tradisional masih digunakan hingga sekarang, seperti:

  • Tahun Baru Imlek di Tiongkok
  • Nowruz di Persia
  • Rosh Hashanah dalam tradisin Yahudi.

Hal ini menunjukkan bahwa cara manusia menandai awal tahun berbeda-beda di setiap budaya. (rby)

Sumber: The new year once started in March—here’s why | National Geographic

VIRAL NETWORK

INSTAGRAM

6 hours ago
6 hours ago
6 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri