x Viralterkini

Menlu Iran Sentil Prancis: “Hentikan Air Mata Buaya”, Singgung Sejarah Kolonial di Aljazair

waktu baca 2 menit
Minggu, 20 Sep 2026 05:13 33 Iim Mustaqiem

Viralterkini.id — Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melontarkan kritik tajam kepada Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot setelah Paris menyoroti persoalan hak asasi manusia (HAM) di Iran. Araghchi mempertanyakan sikap Prancis yang disebutnya diam terhadap serangan Amerika Serikat yang menewaskan anak-anak sekolah di negaranya.

Melalui unggahan di platform X pada Sabtu (19/9/2026), Araghchi juga membawa sejarah kolonial Prancis di Aljazair ke dalam perdebatan. Ia menuding Paris belum menunjukkan pertanggungjawaban atas kekerasan pada masa tersebut.

Menurut Araghchi, sekitar 1,5 juta warga Aljazair tewas selama perang kemerdekaan melawan Prancis. Ia mengklaim jumlah korban yang dicatat Paris bahkan tidak mencapai sepersepuluh dari angka itu.

“1,5 juta warga Aljazair dibantai oleh Prancis dalam Perang Kemerdekaan mereka. Kurang dari 1/10 dari mereka tercatat oleh Paris, yang menolak untuk meminta maaf atas kejahatan kolonialnya,” tulis Araghchi.

Angka korban dan tudingan mengenai sikap Paris tersebut merupakan klaim yang disampaikan Araghchi dalam unggahannya.

Kritik Langsung kepada Barrot

Araghchi kemudian mengarahkan kritik secara langsung kepada Barrot dengan menyebut akun resmi diplomat Prancis tersebut.

“Hentikan air mata buaya Anda @jnbarrot,” tulisnya.

Ia menilai sikap Prancis terhadap serangan Amerika Serikat yang disebutnya menewaskan anak-anak sekolah Iran bertentangan dengan kritik Paris mengenai HAM.

Dalam pernyataan itu, Araghchi menuding Prancis memilih diam ketika anak-anak Iran menjadi korban. Tuduhan tersebut menjadi inti bantahannya terhadap kritik yang dilontarkan Barrot.

Polemik ini berkaitan dengan unggahan Barrot mengenai peringatan kematian Mahsa Amini. Dalam unggahan tersebut, Barrot mengecam represi di Iran dan menyinggung tuntutan kebebasan, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera.

Isu HAM dan Ketegangan Diplomatik

Teheran memandang tuduhan pelanggaran HAM tersebut sebagai bentuk intervensi terhadap urusan dalam negeri Iran. Sementara itu, Araghchi membalas kritik dengan mempertanyakan konsistensi Prancis dalam menyikapi korban kekerasan.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana perdebatan HAM antara kedua negara meluas hingga menyentuh sejarah kolonial dan sikap terhadap konflik terkini. Perselisihan ini berlangsung di tengah ketegangan terkait serangkaian serangan terhadap Iran. (ma)

5 Poin Penting:

  1. Araghchi membalas kritik HAM Prancis melalui unggahan di X pada Sabtu, 19 September 2026.
  2. Sejarah kolonial Aljazair disinggung, dengan klaim Araghchi bahwa 1,5 juta warga Aljazair tewas selama perang kemerdekaan.
  3. Paris dituding belum meminta maaf atas kejahatan kolonial dan hanya mencatat sebagian kecil korban.
  4. Barrot mendapat sindiran “air mata buaya”, karena Prancis dinilai tidak konsisten dalam menyikapi persoalan HAM.
  5. Prancis dituduh diam atas kematian anak-anak sekolah Iran dalam serangan Amerika Serikat, yang menjadi pokok kritik Araghchi.

Editor : M Ary K

VIRAL NETWORK

VIRAL TERBARU

LAINNYA
x Viralterkini