Ketua Umum HMI Cabang Ternate, Yusril Buang. Foto: ist
Viralterkini.id, TERNATE – Eskalasi ketegangan menyusul rentetan kasus kematian tragis di wilayah Hutan Patani, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, memicu reaksi keras dari elemen mahasiswa.
Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ternate, Yusril Buang, secara terbuka menantang Kapolda Maluku Utara, Irjen Pol. Waris Agono, untuk membongkar tuntas akar masalah hingga ke aktor intelektual di balik tragedi tersebut.
Keresahan ini memuncak pasca ditemukannya jenazah Ustad Ali Abas, warga Desa Bobane Jaya, dalam kondisi mengenaskan di Hutan Patani.
Peristiwa tersebut dinilai sebagai dejavu atas tragedi serupa pada tahun 2021 di Hutan Damuli, Patani Timur, yang hingga kini menyisakan teka-teki meski tim gabungan TNI-Polri telah diterjunkan.
Ketua Umum HMI Cabang Ternate, Yusril Buang, menegaskan bahwa rangkaian pembunuhan ini tidak bisa dilihat sebagai tindak kriminalitas biasa. Menurutnya, ada pola sistematis yang mengarah pada kejahatan terencana.
“Kami menantang Kapolda Maluku Utara untuk tidak sekadar bermain di permukaan. Menangkap pelaku lapangan tanpa menyentuh dalangnya adalah bentuk kegagalan dalam menegakkan keadilan secara utuh,” tegas Yusril dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Jumat (3/4).
HMI menilai, negara tidak boleh membiarkan skenario kejahatan ini terus berulang. Fokus penyelidikan harus digeser dari sekadar “eksekutor” menuju pihak yang memiliki motif, kepentingan, dan kendali atas rangkaian aksi berdarah tersebut.
Dalam perspektif hukum, Yusril menekankan bahwa aktor intelektual adalah kunci dari seluruh konstruksi perkara. Tanpa mengungkap siapa yang berada di balik layar, potensi keberulangan kasus serupa akan tetap tinggi.
Untuk itu, aparat penegak hukum didesak untuk:
HMI mengingatkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian kini berada di titik nadir terkait keamanan di wilayah Halmahera Tengah. Pengungkapan kasus yang hanya menyasar “kaki tangan” dianggap tidak akan memberikan rasa aman jangka panjang bagi warga.
“Masyarakat tidak butuh sekadar rilis penangkapan formalitas. Yang dituntut adalah keberanian institusi kepolisian membuka tabir kebenaran secara menyeluruh. Negara tidak boleh kalah oleh kelompok perusuh yang mengancam stabilitas dan keutuhan bangsa,” tutup Yusril.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Polda Maluku Utara belum memberikan pernyataan resmi terkait tantangan dan tuntutan yang dilayangkan oleh HMI Cabang Ternate tersebut. Penjagaan di sekitar perbatasan hutan dilaporkan masih diperketat guna mencegah konflik susulan. (Dano)