x Pulau Seribu Asri

IKLIM Luncurkan Album Baru Vol. 2

waktu baca 4 menit
Kamis, 14 Nov 2024 08:42 364 M Ary K

Viralterkini.id, Jakarta – Setelah sukses meluncurkan album kompilasi sonic/panic tahun lalu dengan melibatkan 13 musisi lintas genre, inisiatif IKLIM (The Indonesian Climate Communications, Arts, and Music Lab) kembali menghadirkan sonic/panic Vol. 2. Album kompilasi ini menyatukan 15 musisi dari berbagai wilayah Indonesia yang bersama-sama menyuarakan urgensi krisis iklim dan mengajak pendengar untuk beraksi demi menjaga bumi.

Pada Sabtu (9/11), IKLIM menggelar konferensi pers di Biji World, Ubud, Bali yang dihadiri oleh para musisi dan seniman, termasuk I Gede Robi Supriyanto (vokalis Navicula dan inisiator IKLIM), Cholil Mahmud (Efek Rumah Kaca), Bob Gloriaus (LAS!), Cabrini Asteriska, Maghfiro Izzani Mauliana Ikwan, serta I Dewa Gde Pariyatna (Camat Ubud).

Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca menekankan pentingnya lokakarya yang diadakan oleh IKLIM pada bulan Juli lalu sebagai bagian dari proses album ini.

“Sebelum mengerjakan album, kami mengikuti workshop pendalaman materi. Ini yang membedakan sonic/panic Vol. 2 dari kompilasi-kompilasi serupa yang pernah kami ikuti sebelumnya. Workshop ini memberikan kesempatan bagi musisi yang belum terlalu memahami isu perubahan iklim untuk belajar lebih dalam,” jelas Cholil.

I Gede Robi Supriyanto, salah satu inisiator IKLIM, juga menegaskan kekuatan musik sebagai alat untuk perubahan.

“Musik itu powerful. Untuk membuat perubahan, kita harus menyentuh hati orang, dan seni adalah media yang paling efektif untuk itu. Isu lingkungan adalah isu yang penting untuk dibicarakan. Jika kita sebagai masyarakat tidak berbicara, pemerintah tidak akan mendengarkan dan tidak akan mengangkat isu ini dalam kebijakan publik,” ungkap Robi.

Bagi musisi yang terlibat, sonic/panic Vol. 2 bukan hanya sekadar album, tetapi juga sebuah perjalanan untuk memahami dampak nyata perubahan iklim. Salah satunya Bob Gloriaus, vokalis LAS!, yang berbagi pengalaman menyentuh tentang perjalanannya ke daerah terpencil di Kalimantan Baratbersama mitra pendukung IKLIM Fest, Trend Asia. Di sana, ia menyaksikan langsung dampak buruk yang ditimbulkan oleh aktivitas perusahaan tambang terhadap lingkungan.

“Kami menyaksikan bagaimana hutan adat yang menjadi sumber kehidupan masyarakat tradisional hancur akibat proyek energi yang seharusnya ramah lingkungan. Ini memberi kami refleksi mendalam dan menginspirasi lagu yang kami ciptakan untuk album ini,” ujar Bob.

Kolaborasi ini juga memupuk rasa tanggung jawab bersama. Asteriska menambahkan, “Bergerak sendirian sering terasa tanpa harapan. Tapi bergerak bersama, kita bisa mencapai lebih banyak. Dalam menjaga bumi, kita harus melangkah bersama.”

Selain musisi, IKLIM juga melibatkan seniman dalam menyuarakan harapan dan keresahan terhadap krisis iklim. Karya-karya mereka dipamerkan dalam Pameran Titik Kritis di Biji World, Ubud. Salah satu karya dari Maghfiro Izzani Mauliana Ikwan mengeksplorasi isu ketahanan pangan, mengangkat perubahan lahan kebun menjadi pabrik dan ironi kebijakan impor beras yang dipengaruhi perubahan iklim.

Saat ditanya mengenai kemungkinan IKLIM Fest diselenggarakan di lokasi lain, Asteriska menjelaskan bahwa acara ini bisa dilaksanakan di mana saja, dengan syarat adanya dukungan dari penyelenggara acara yang mendukung festival ramah lingkungan. I Dewa Gde Pariyatna, Camat Ubud, menyampaikan apresiasi atas digelarnya IKLIM Fest dan menekankan bahwa isu iklim harus terus diangkat agar rekomendasi kebijakan dapat disusun.

Krisis iklim bukan hanya isu global, namun kenyataan yang harus dihadapi setiap negara, termasuk Indonesia. Dampaknya sudah terasa dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari meningkatnya frekuensi bencana alam hingga kerusakan ekosistem. Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu rata-rata di Indonesia meningkat 0,03°C per tahun dalam beberapa dekade terakhir, yang berdampak serius bagi ekosistem dan masyarakat.

Melalui sonic/panic Vol. 2, IKLIM menggunakan musik sebagai medium untuk meningkatkan kesadaran terhadap krisis iklim, mengajak masyarakat untuk bertindak, dan mendorong industri musik untuk mengadopsi praktik ramah lingkungan. Para musisi yang terlibat percaya bahwa musik memiliki kekuatan untuk menjangkau berbagai kalangan dan memotivasi aksi nyata dalam memerangi krisis iklim.

Dirilis oleh Alarm Records, label rekaman ramah lingkungan pertama di Indonesia, sonic/panic Vol. 2menghadirkan 15 lagu dari musisi yang peduli terhadap isu perubahan iklim, di antaranya Efek Rumah Kaca, Petra Sihombing, Voice of Baceprot, Asteriska, Matter Mos, Bsar, Daniel Rumbekwan, Bachoxs, Down For Life, Jangar, LAS!, Poker Mustache, Rhosy Snap, The Vondallz, dan Wake Up Iris!. Para musisi ini berasal dari berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta, Makassar, Pontianak, Madiun, Malang, Bandung, Solo, Fakfak, hingga Denpasar, turut serta dalam gerakan lingkungan yang lebih besar.

Album sonic/panic Vol. 2 kini dapat dinikmati di berbagai platform streaming digital. Sebagai bagian dari peluncuran album, IKLIM mengajak publik untuk berpartisipasi dalam mewujudkan praktik industri musik yang lebih ramah lingkungan dan mengadopsi langkah-langkah praktis untuk keberlanjutan bumi dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk mengimbangi jejak karbon dari acara ini sekaligus meningkatkan kontribusi terhadap pelestarian lingkungan, IKLIM Fest juga membagikan bibit pohon kepada para penonton. Bibit pohon ini diharapkan dapat ditanam di rumah masing-masing sebagai bentuk partisipasi aktif dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. (ma)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

WhatsApp Image 2026-01-11 at 14.22.35

INSTAGRAM

17 hours ago
18 hours ago
20 hours ago
20 hours ago
20 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri
error: Content is protected !!