Nilai Mata Uang Rupiah Merosot Lagi. Foto : ist Viralterkini.id, Jakarta – Pelemahan rupiah hingga menyentuh Rp18.120 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi sorotan di tengah tekanan harga energi global dan kebutuhan pembiayaan negara. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai kenaikan harga minyak dunia serta tekanan defisit anggaran menjadi faktor penting yang membebani mata uang Garuda.
Menurut Ibrahim, ketergantungan Indonesia terhadap impor energi membuat kebutuhan dolar meningkat ketika harga minyak dunia melonjak. Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap rupiah sekaligus memperbesar beban anggaran pemerintah.
“Ya, berarti ini sudah mengalami kenaikan yang cukup signifikan sehingga kebutuhan dolar cukup tinggi,” kata Ibrahim, dikutip dari Inilah.com, Selasa (27/10/2026).
Harga Minyak Memperbesar Beban Impor

Ibrahim menyebut kebutuhan impor energi Indonesia mencapai sekitar 1 juta barel per hari. Ia membandingkan asumsi harga minyak dalam APBN sebesar US$70 per barel dengan harga pasar yang disebutnya telah melampaui US$100 per barel.
Selisih tersebut, menurutnya, membuat pembiayaan impor energi meningkat. Beban semakin berat karena pelemahan rupiah menambah biaya dalam mata uang domestik untuk memenuhi kebutuhan energi yang dibayar menggunakan dolar AS.
Ia juga menyoroti selisih antara nilai tukar Rp18.120 per dolar AS dan asumsi kurs APBN yang disebutnya berada di level Rp16.500 per dolar AS. Kombinasi kenaikan harga minyak dan pelemahan kurs dinilai mempersempit ruang fiskal pemerintah.
Subsidi dan Belanja Pemerintah Disorot
Di sisi anggaran, Ibrahim menilai pemerintah menghadapi tantangan dalam menjaga subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan gas di tengah kebutuhan belanja berbagai program.
Ia menyoroti alokasi untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih sebagai bagian dari belanja yang, menurut penilaiannya, turut memengaruhi kapasitas APBN dalam menghadapi lonjakan biaya energi.
“Nah, defisit anggaran ini yang sebenarnya penyebab utama harga rupiah ini mengalami pelemahan,” ujarnya.
Penilaian tersebut menempatkan pengelolaan belanja negara sebagai salah satu aspek yang perlu diperhatikan untuk menjaga kepercayaan pasar dan stabilitas nilai tukar.
Risiko Arus Modal Keluar Menambah Tekanan
Selain persoalan energi dan fiskal, Ibrahim menyinggung kekhawatiran mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI. Menurutnya, risiko tersebut dapat memengaruhi keputusan investor asing untuk mempertahankan investasi di pasar domestik.
Pernyataan mengenai perubahan klasifikasi MSCI tersebut merupakan penilaian Ibrahim. Keterangan yang menjadi dasar pemberitaan ini tidak menyertakan konfirmasi resmi dari MSCI.
Arus modal keluar dapat menambah permintaan valuta asing ketika investor melepas aset dalam negeri dan mengonversi dananya. Meski demikian, Ibrahim tetap menempatkan kenaikan harga minyak sebagai faktor paling dominan dalam tekanan yang dibahasnya.
Ia menyebut Bank Indonesia telah melakukan intervensi di pasar domestik maupun internasional. Namun, tingginya kebutuhan dolar untuk impor energi dan tekanan anggaran dinilai membuat upaya menjaga stabilitas rupiah semakin menantang. (ma)
5 Poin Penting:
- Rupiah menyentuh Rp18.120 per dolar AS. Ibrahim menilai pelemahan ini berkaitan dengan kenaikan harga minyak dan tekanan fiskal.
- Biaya impor energi meningkat. Menurut Ibrahim, kebutuhan impor sekitar 1 juta barel per hari membuat Indonesia rentan terhadap lonjakan harga minyak.
- Selisih asumsi APBN menjadi sorotan. Harga minyak dan nilai tukar yang disebut dalam keterangan melampaui asumsi anggaran, sehingga menambah beban pembiayaan energi.
- Subsidi dan belanja program pemerintah disorot. Ibrahim menilai subsidi BBM dan gas, MBG, serta Koperasi Merah Putih turut memengaruhi ruang fiskal.
- Risiko modal asing keluar menambah tekanan. Ibrahim mengaitkannya dengan kekhawatiran terhadap klasifikasi MSCI, tetapi bahan pemberitaan belum menyertakan konfirmasi resmi lembaga tersebut.