Kredit Foto: Theweek.com Viralterkini.id – Kelompok Hizbullah Lebanon menyatakan solidaritas penuh kepada Iran pada Sabtu (28/2/2026) setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran.
Dalam pernyataan resminya, Hizbullah memperingatkan bahwa konflik tersebut dapat menimbulkan dampak serius bagi seluruh kawasan Timur Tengah, meskipun belum memastikan apakah mereka akan ikut terlibat secara langsung dalam perang.
Hizbullah merupakan kelompok milisi Syiah sekaligus partai politik yang berdiri pada 1982 dengan dukungan Garda Revolusi Iran. Sejak berdiri, kelompok ini telah terlibat dalam berbagai konflik bersenjata dengan Israel.
Namun, kekuatan Hizbullah melemah secara signifikan setelah perang besar dengan Israel pada 2024. Dalam konflik tersebut, pemimpin mereka, Hassan Nasrallah, tewas. Kekalahan itu mengurangi kemampuan militer dan pengaruh politik Hizbullah di Lebanon maupun kawasan.
Pemerintah Israel sebelumnya telah menyampaikan peringatan keras kepada Beirut. Israel menyatakan akan menyerang Lebanon secara besar-besaran jika Hizbullah ikut campur dalam perang antara Amerika Serikat dan Iran.
Israel juga mengancam akan menargetkan infrastruktur sipil penting, termasuk bandara internasional Beirut, apabila Hizbullah membuka front baru dari wilayah Lebanon.
Ancaman tersebut meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya perang ke negara-negara tetangga Iran dan Israel, serta berpotensi menyeret Lebanon kembali ke konflik besar setelah bertahun-tahun dilanda krisis ekonomi dan politik.
Dalam pernyataan resminya, Hizbullah menyebut rencana militer Amerika Serikat dan Israel akan membawa konsekuensi luas bagi seluruh kawasan.
“Dampak dari rencana Amerika dan Israel ini akan memengaruhi semua pihak tanpa pengecualian jika tidak dihentikan,” demikian bunyi pernyataan kelompok tersebut.
Hizbullah juga menyampaikan keyakinan bahwa Amerika Serikat dan Israel akan menerima pukulan besar atas tindakan mereka.
“Kami yakin Amerika dan Israel akan menghadapi serangan balasan yang berat,” lanjut pernyataan itu.
Meski demikian, Hizbullah tidak secara eksplisit menyatakan akan terjun langsung ke medan perang. Pernyataan mereka lebih menekankan dukungan politik dan moral kepada Iran, sekaligus peringatan akan risiko eskalasi regional.
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menegaskan sikap pemerintah yang menolak keterlibatan Lebanon dalam konflik regional.
Ia menyatakan tidak akan membiarkan siapa pun menyeret negaranya ke dalam “petualangan” militer yang dapat mengancam keamanan nasional dan persatuan rakyat Lebanon.
“Saya tidak akan menerima siapa pun membawa Lebanon ke dalam petualangan yang membahayakan keamanan dan persatuan negara,” kata Salam dalam pernyataan yang secara tidak langsung ditujukan kepada Hizbullah.
Pernyataan itu mencerminkan kekhawatiran pemerintah Lebanon bahwa langkah sepihak Hizbullah dapat memicu serangan balasan Israel dan menghancurkan infrastruktur yang sudah rapuh.
Sikap Hizbullah yang menyatakan solidaritas kepada Iran memperbesar risiko meluasnya perang di Timur Tengah.
Para pengamat menilai bahwa jika Hizbullah benar-benar terlibat secara militer, konflik tidak lagi terbatas pada Iran dan Israel, tetapi dapat berubah menjadi perang regional yang melibatkan Lebanon, Suriah, dan negara-negara Teluk.
Untuk saat ini, Hizbullah masih membatasi diri pada pernyataan politik. Namun, tekanan dari sekutunya di Iran dan dinamika di lapangan dapat mengubah posisi tersebut sewaktu-waktu.
Komunitas internasional terus memantau situasi dengan cermat, sementara pemerintah Lebanon berusaha menjaga agar negaranya tidak kembali terjerumus ke dalam konflik bersenjata yang dapat memperburuk krisis ekonomi dan kemanusiaan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. (**)
Tidak ada komentar