Acara peluncuran buku Ragam Warna Sepak Bola dan Sepak Bola Kita Semua di Kompas Institute, Jakarta, Jumat, 5 Juni 2026. Foto : Viralterkini.id/MAK Viralterkini.id, Jakarta – Sepak bola bukan sekadar soal statistik, skor pertandingan, atau hasil akhir di papan klasemen. Di balik hiruk-pikuk pertandingan, terdapat kisah-kisah kemanusiaan yang kerap luput dari perhatian publik.
Perspektif itulah yang diangkat jurnalis senior Harian Kompas, Adi Prinantyo, melalui peluncuran dua bukunya berjudul Sepak Bola Kita Semua dan Ragam Warna Sepak Bola di Kompas Institute, Jakarta, Jumat (5/6/2026).

“Membaca buku ini akan jadi tahu sepak bola yang sebenarnya,” ujar Adi dalam acara peluncuran buku yang dihadiri sejumlah jurnalis dan pegiat sepak bola nasional.
Kedua buku tersebut merupakan rangkuman perjalanan panjang Adi sebagai wartawan olahraga selama lebih dari dua dekade. Dari total 3.534 artikel sepak bola yang ditulisnya sepanjang 2005 hingga 2025, sebagian dikurasi menjadi dua karya yang menyajikan sisi lain dunia sepak bola, baik di dalam maupun luar lapangan.
“Selama ini saya menulis sepak bola sejak 2005. Ketika sudah tidak lagi di desk olahraga pun, saya tetap menulis sepak bola. Setelah dicek, ternyata totalnya mencapai 3.534 artikel dalam 20 tahun,” ungkapnya.
Buku tersebut menghadirkan berbagai cerita dari ajang-ajang besar dunia, mulai dari keberhasilan Prancis menjuarai Piala Dunia 1998, tragedi Brasil saat dibantai Jerman 1-7 pada Piala Dunia 2014, hingga atmosfer Piala Eropa 2008.
Dalam acara yang sama, mantan jurnalis Tabloid BOLA, Sapto Haryo Rajasa, membagikan pengalaman unik saat meliput Piala Dunia 2014 di Brasil bersama Adi Prinantyo.
“Pada 2014 kami tinggal di tempat Jacksen F. Tiago di Rio de Janeiro,” kenang Sapto.
Menurutnya, kehidupan wartawan peliput Piala Dunia jauh dari kesan mewah yang sering dibayangkan masyarakat.
“Waktu itu kami benar-benar seperti anak kos. Mengganti galon sendiri, memasak untuk sahur, bahkan sempat kebanjiran gara-gara mencuci pakaian,” katanya sambil tertawa.
Cerita-cerita semacam itu menjadi gambaran bahwa sepak bola tidak hanya hadir dalam kemegahan stadion atau sorotan kamera televisi, tetapi juga menyimpan banyak kisah manusia di balik layar.
Namun, di balik romantisme sepak bola dunia yang dituangkannya dalam buku, Adi juga menyampaikan kritik tajam terhadap perkembangan sepak bola Indonesia. Dalam sesi doorstop bersama wartawan, ia menyoroti sejumlah persoalan mendasar yang dinilai masih menghambat kemajuan kompetisi nasional.
Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah minimnya striker lokal berkualitas yang mampu bersaing di kompetisi domestik.
“Kalau melihat data, striker Indonesia sangat minim dalam daftar pencetak gol terbanyak liga. Itu pertanyaan mendasar yang harus dijawab federasi dan operator liga,” katanya.
Adi juga menilai kebijakan naturalisasi pemain tidak boleh dijadikan solusi permanen bagi peningkatan prestasi sepak bola nasional.
“Menurut saya naturalisasi itu gimmick jangka pendek, bukan fondasi utama. Yang lebih penting adalah pembenahan profesional kompetisi dan pembinaan pemain muda,” tegasnya.
Menurut dia, peningkatan kualitas sepak bola nasional harus dimulai dari pembinaan usia dini yang terstruktur. Klub-klub peserta liga diwajibkan memiliki akademi dan sistem pengembangan pemain yang berkelanjutan.
“Negara lain membangun pemain sejak usia di bawah 10 tahun. Kalau klub tidak punya pembinaan jangka panjang, sebenarnya mereka tidak layak secara kualitas menjadi peserta liga,” ujarnya.
Selain itu, Adi turut mengkritik regulasi pemain asing di kompetisi domestik yang saat ini memungkinkan klub memiliki delapan hingga sembilan pemain asing dalam satu tim.
“Kebijakan itu mengecewakan. Kalau delapan starter pemain asing, lalu hanya tersisa tiga pemain lokal, apa artinya ini disebut Liga Indonesia?” katanya.
Menurutnya, dominasi pemain asing membuat pemain lokal kehilangan kesempatan bermain secara reguler sehingga menghambat proses perkembangan mereka.
“Kalau minim jam tanding dan kalah bersaing dengan pemain asing, bagaimana kita bisa punya striker andalan? Itu sangat berpengaruh,” ujarnya.
Adi menegaskan bahwa profesionalisme kompetisi tidak akan tercapai tanpa komitmen kuat dari federasi, operator liga, dan seluruh pemangku kepentingan untuk menghapus konflik kepentingan dalam pengelolaan sepak bola nasional.
“Kalau masih ada konflik dan kepentingan tertentu, jangan berharap liga kita bisa profesional dan melahirkan pemain domestik berkualitas,” pungkasnya. (ma)