x Pulau Seribu Asri

Stadion Kosong, Manajemen Risiko Dipertanyakan: Sampai Kapan Sepak Bola Indonesia Memilih Jalan Pintas?

waktu baca 3 menit
Senin, 3 Agu 2026 10:39 92 M Ary K

Opini : CEO ETV Sport, Erika

Keputusan menggelar semifinal Piala Presiden 2026 di Bali tanpa kehadiran penonton memunculkan kritik terhadap kesiapan panitia dalam mengelola pertandingan berisiko tinggi. Terlebih, babak tersebut mempertemukan empat klub dengan rivalitas dan basis suporter besar: Persib Bandung melawan Persija Jakarta serta Persebaya Surabaya menghadapi Arema FC.

Pemilihan Bali sebagai lokasi semifinal dan final diumumkan setelah koordinasi antara Steering Committee Piala Presiden, PSSI, Bali United, dan pihak-pihak terkait. Namun, keputusan mengosongkan stadion tetap menimbulkan pertanyaan: apakah langkah tersebut merupakan pilihan terakhir berdasarkan kajian keamanan yang matang, atau justru jalan pintas karena perencanaan yang kurang siap? Kilas Jatim

Suporter Kembali Menjadi Pihak yang Dikorbankan

Keselamatan tentu harus menjadi prioritas utama dalam setiap pertandingan sepak bola. Namun, menggelar laga tanpa penonton tidak semestinya terus-menerus dijadikan solusi utama.

Pertandingan dengan tingkat risiko tinggi seharusnya dihadapi melalui manajemen pengamanan profesional, mulai dari sistem penjualan tiket berbasis identitas, pembatasan kuota, pengaturan jalur kedatangan dan kepulangan, pemisahan kelompok suporter, hingga koordinasi matang antara panitia, klub, aparat keamanan, dan perwakilan pendukung.

Mengosongkan stadion memang dapat mengurangi risiko dalam jangka pendek. Akan tetapi, langkah tersebut tidak menyelesaikan persoalan mendasar dalam pengelolaan pertandingan. Jika setiap potensi konflik dijawab dengan larangan menghadirkan penonton, peningkatan kapasitas manajemen sepak bola nasional akan sulit terwujud.

Pertandingan Besar Bukanlah Kejutan

Lolosnya Persib, Persija, Persebaya, dan Arema seharusnya sudah masuk dalam perhitungan sejak awal turnamen. Keempat klub tersebut mempunyai kualitas tim, rivalitas panjang, serta basis pendukung yang besar. Pertemuan mereka pada fase gugur bukanlah kemungkinan yang sulit diprediksi.

Karena itu, panitia semestinya telah menyiapkan beberapa skenario venue dan pengamanan sejak kompetisi dimulai. Rencana kontingensi diperlukan untuk menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk munculnya pertandingan dengan tingkat rivalitas tinggi.

Penentuan venue yang terkesan mendekati pelaksanaan pertandingan memperlihatkan pentingnya transparansi. Publik berhak mengetahui dasar pemilihan lokasi, hasil penilaian risiko, alasan pertandingan harus digelar tertutup, serta pilihan lain yang sebelumnya telah dipertimbangkan.

Narasi Ekonomi Rakyat yang Kontradiktif

Sepanjang fase grup, manfaat ekonomi dari penyelenggaraan turnamen kerap menjadi bagian dari narasi keberhasilan. Kehadiran penonton dapat menggerakkan sektor transportasi, penginapan, kuliner, penjualan atribut, dan UMKM di sekitar stadion.

Namun, manfaat tersebut justru menghilang ketika kompetisi memasuki fase puncak—momentum yang seharusnya menghasilkan perputaran ekonomi lebih besar. Stadion kosong tidak hanya merugikan suporter, tetapi juga pedagang kecil serta pelaku usaha yang berharap memperoleh penghasilan dari keramaian pertandingan.

Jika UMKM memang dipandang sebagai bagian penting dari ekosistem turnamen, kepentingan mereka seharusnya masuk dalam perencanaan sejak awal, bukan sekadar menjadi materi publikasi ketika situasi sedang menguntungkan.

Federasi Harus Naik Kelas

Sepak bola tanpa penonton kehilangan atmosfer, identitas, dan sebagian nilai ekonominya. Meski demikian, kritik terhadap pertandingan tertutup juga harus disertai pengakuan bahwa keselamatan tidak dapat ditawar. Persoalannya bukan memilih antara keamanan atau kehadiran suporter, melainkan membangun sistem yang mampu menghadirkan keduanya.

PSSI dan panitia penyelenggara perlu menunjukkan peningkatan kualitas melalui perencanaan berbasis risiko, prosedur yang transparan, serta pengamanan yang profesional. Klarifikasi setelah keputusan dibuat belum cukup apabila persoalan serupa terus berulang.

Sepak bola Indonesia tidak akan naik kelas hanya melalui besarnya hadiah, kemeriahan seremoni, atau kuatnya promosi. Kemajuan juga ditentukan oleh kemampuan penyelenggara mengelola pertandingan besar secara aman tanpa terus menjadikan suporter sebagai pihak pertama yang dikorbankan.

Sumber : https://www.instagram.com/p/Dbj-N9Ikeh9/?img_index=4&igsh=cG9qNHd0dXdlYXNx

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri