x Viralterkini

Saat Teknologi Membuka Pintu bagi Arwah, Aplikasi Iblis Mengubah Obsesi Cinta Menjadi Teror

waktu baca 4 menit
Kamis, 8 Okt 2026 21:25 13 Denny Pohan

Viralterkini.id,Jakarta — Keinginan untuk berbicara kembali dengan orang yang telah meninggal mungkin terdengar seperti jawaban bagi seseorang yang belum mampu berdamai dengan kehilangan. Namun, bagaimana jika keinginan itu bisa diwujudkan melalui sebuah aplikasi? Pertanyaan tersebut menjadi pijakan cerita Aplikasi Iblis, film horor terbaru garapan Dimas Anggara yang akan tayang di bioskop mulai 15 Oktober 2026.

Film produksi NIH Pictures ini tidak memulai terornya dari sosok hantu, melainkan dari sebuah persoalan manusiawi: kehilangan orang yang dicintai.

Arya (Junior Roberts) tengah mempersiapkan lamaran untuk kekasihnya, Laras (Dosma Hazenbosch), ketika sebuah tragedi mengubah hidupnya. Laras meninggal dan meninggalkan Arya dalam kondisi yang belum siap menerima kenyataan.

Alih-alih berdamai dengan kehilangan, Arya mencari jalan untuk kembali terhubung dengan Laras. Sebuah aplikasi kemudian menjadi medium yang memungkinkan komunikasi antara manusia dan arwah.

Keputusan tersebut menjadi titik balik cerita.

Hubungan yang seharusnya telah berakhir oleh kematian justru kembali dibuka melalui teknologi. Namun, Arya tidak benar-benar tahu apa yang akan ia temui setelah membuka pintu tersebut. Teror kemudian muncul ketika batas antara dunia manusia dan dunia arwah mulai kehilangan maknanya.

Di titik ini, Aplikasi Iblis mencoba menempatkan obsesi sebagai sumber utama ketakutan. Arya bukan sekadar korban yang dikejar makhluk supernatural. Ia juga menjadi bagian dari penyebab munculnya teror karena tidak mampu menerima kepergian Laras.

Dimas Anggara mengatakan film ini ingin melihat konsekuensi ketika seseorang melakukan sesuatu secara berlebihan, termasuk ketika rasa cinta berubah menjadi obsesi.

“Film ini ingin memperlihatkan bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik dan pasti ada dampak negatifnya,” ujar Dimas.

Pendekatan tersebut membuat konflik film memiliki lapisan yang lebih luas daripada sekadar pertarungan manusia melawan hantu. Teror juga berasal dari keputusan karakter utama sendiri. Semakin Arya berusaha mempertahankan hubungan dengan Laras, semakin jauh ia masuk ke situasi yang tidak lagi dapat dikendalikan.

Sebagai debut penyutradaraan horornya, Dimas juga mencoba membawa Aplikasi Iblis keluar dari pola horor yang hanya mengandalkan jumpscare. Unsur psychological horror menjadi bagian penting untuk membangun tekanan terhadap karakter, sementara action-thriller digunakan untuk meningkatkan eskalasi konflik.

Junior Roberts, sebagai Arya, harus menghadapi tuntutan fisik yang cukup besar. Selain memainkan karakter yang berada dalam tekanan emosional, ia menjalani adegan pertarungan dengan melibatkan atlet profesional.

“Secara fisik memang harus ekstra karena Aplikasi Iblis bukan hanya lari-larian, tetapi juga memiliki adegan fighting,” kata Junior.

Perpaduan horor dan action tersebut menjadi salah satu tantangan film. Action dapat mempercepat ritme dan memperbesar skala konflik, tetapi terlalu dominan juga berisiko mengurangi atmosfer dan ketegangan psikologis. Karena itu, efektivitas pendekatan ini akan sangat ditentukan oleh bagaimana adegan laga ditempatkan sebagai bagian dari perkembangan cerita, bukan sekadar pelengkap.

Lokasi produksi ikut memainkan peran dalam membangun atmosfer. Salah satu lokasi yang digunakan adalah gedung bekas supermarket yang telah terbengkalai. Ruang kosong dan kondisi bangunan tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan adegan horor sekaligus action.

Bagi Junior, persoalan Arya bukan hanya menghadapi teror dari arwah yang dipanggilnya. Karakter tersebut juga harus menghadapi kenyataan bahwa obsesinya sendiri telah membawanya ke situasi yang semakin berbahaya.

“Dari karakter Arya aku juga belajar bahwa kita perlu mengikhlaskan yang telah pergi dan tak bersama kita,” ujarnya.

Sementara itu, Dosma Hazenbosch mendapat tantangan untuk memerankan dua kondisi Laras, yakni ketika masih hidup dan setelah kembali sebagai arwah. Perubahan tersebut tidak hanya dibangun melalui tata rias, tetapi juga suara.

Dosma mengubah karakter vokalnya menjadi lebih berat untuk membedakan sosok Laras setelah kembali dari dunia kematian. Proses tersebut membutuhkan latihan dan riset agar perubahan karakter tidak hanya terlihat secara visual.

Di balik premisnya yang cukup kuat, Aplikasi Iblis juga memiliki tantangan yang tidak kecil. Konsep aplikasi sebagai penghubung manusia dengan arwah menarik karena membawa teknologi sehari-hari ke dalam wilayah supernatural. Namun, konsep tersebut harus ditopang aturan cerita yang konsisten agar aplikasi tidak sekadar menjadi alat instan untuk menghadirkan teror.

Begitu pula dengan perpaduan psychological horror dan action. Film perlu menjaga keseimbangan antara ketegangan, atmosfer, dan adegan laga agar identitas horornya tidak tenggelam oleh aksi.

Aplikasi Iblis disutradarai Dimas Anggara, dengan skenario Tisa TS dan diproduseri R. Dimas Aryanto. Film ini dibintangi Junior Roberts, Dosma Hazenbosch, Aulia Deas, Aldo Irawan Putra, Muhammad Daffa Al Harits, dan Valdes Herera, serta menghadirkan Della Dartyan dalam penampilan spesial.

Pada akhirnya, inti Aplikasi Iblis bukan semata-mata tentang teknologi yang mampu memanggil arwah. Film ini berbicara tentang konsekuensi ketika seseorang menolak menerima kehilangan dan berusaha memaksakan kembali sesuatu yang seharusnya telah berakhir.

Teknologi menjadi pintunya. Obsesi menjadi pemicunya. Dan dunia arwah menjadi konsekuensi yang harus dihadapi Arya.(DP)

VIRAL NETWORK

VIRAL TERBARU

LAINNYA
x Viralterkini