Viralterkini.id, JAKARTA — Kekerasan seksual terhadap anak menjadi isu utama yang diangkat film Pemburu Pemangsa. Memadukan horor, crime, action, dan investigasi, film produksi Sinemaku Pictures tersebut mencoba menghadirkan kengerian kejahatan terhadap anak sekaligus mempertanyakan sejauh mana orang dewasa mengambil peran dalam melindungi mereka.
Sutradara Umay Shahab mengatakan gagasan film berangkat dari keresahannya terhadap kasus kekerasan terhadap anak yang masih terjadi di tengah masyarakat.
“Pemangsa anak itu lebih iblis daripada iblis. Bahkan iblis saja minder dengan mereka,” ujar Umay.
Menurut Umay, genre horor dipilih untuk menerjemahkan kengerian isu tersebut secara emosional. Dalam film, sosok iblis justru digunakan sebagai pembanding terhadap kejahatan manusia yang menyasar anak.

Meski mengangkat tema sensitif, proses produksi disebut dilakukan dengan mempertimbangkan aspek perlindungan terhadap korban maupun pemeran anak. Penulis Rezi Julio mengatakan pengembangan cerita melibatkan riset, diskusi, forum group discussion (FGD), serta konsultasi dengan pihak terkait.
“Kami melakukan riset dan asistensi agar cerita ini tidak sembarangan diangkat dan terkesan eksploitatif,” kata Rezi.
Perlindungan juga menjadi perhatian selama proses syuting. Jordan Omar mengatakan pemeran anak tidak menerima keseluruhan skenario, melainkan materi yang disesuaikan dengan kebutuhan adegan. Orang tua dan psikolog turut dilibatkan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan mereka.
Pendampingan psikologis juga diberikan kepada pemain dewasa. Teguh Rifnu Wicaksono, pemeran karakter iblis, menyebut peran tersebut sebagai salah satu pengalaman paling berat sepanjang kariernya.
“Ini adalah syuting terberat sepanjang saya berkarier dalam film,” ujar Rifnu.
Sementara itu, Prilly Latuconsina yang memerankan Cia menghadapi tantangan berbeda. Selain tuntutan adegan action, ia harus menjaga emosi karakter di tengah koreografi fisik yang cukup kompleks.
“Yang paling susah adalah mengingat gerakannya, tapi jangan melupakan emosinya,” kata Prilly.
Bagi para pemain, persoalan yang diangkat Pemburu Pemangsa tidak berhenti pada keberanian untuk berbicara. Yasamin Jasem menekankan pentingnya peran orang dewasa dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak.
Pesan serupa disampaikan Tasya yang berharap perhatian terhadap perlindungan anak tidak terbatas pada kelompok atau wilayah tertentu.
Umay menilai penanganan kasus kekerasan terhadap anak juga tidak seharusnya baru bergerak ketika sebuah kasus menjadi viral.
“Jangan lagi baru viral dulu, baru ada justice-nya,” ujarnya.
Melalui kampanye #JagaAnakAnak, film ini berupaya membuka ruang percakapan mengenai kekerasan terhadap anak yang masih kerap dianggap tabu.
Bagi Umay, persoalan tersebut tidak selesai ketika film berakhir. Perlindungan terhadap anak membutuhkan perhatian dan tindakan berkelanjutan dari orang dewasa.
“Film ini bukan akhirnya, perburuan tidak akan pernah selesai. Jangan diam, lawan dan jaga anak,” kata Umay.(DP)