Striker Timnas Indonesia, Mitchell Baker kesal atas hasil melawan Vietnam, Foto : MAK/Viralterkini.id Viralterkini.id, Jakarta – Tim nasional sepak bola Indonesia harus turun ke peringkat ketiga klasemen sementara Grup A Piala AFF 2026 usai menelan kekalahan telak 0-3 dari Vietnam pada laga ketiga fase grup di Stadion Pakansari, Bogor, Jawa Barat, Senin (3/8) malam.
Kekalahan ini membuat persaingan memperebutkan dua tiket menuju babak semifinal kian membara hingga matchday terakhir.
Vietnam tampil sangat efektif sejak awal laga. Tim asuhan Kim Sang Sik tersebut sudah unggul dua gol di babak pertama lewat aksi cepat Nguyen Van Vi pada menit ke-6 dan Nguyen Hai Long pada menit ke-15. Penyerang naturalisasi Nguyen Xuan Son kemudian menyempurnakan kemenangan The Golden Star Warriors menjadi 3-0 lewat golnya di babak kedua.
Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, mengakui Vietnam tampil lebih baik secara taktik dalam pertandingan yang berakhir dengan kekalahan bagi skuad Garuda. Ia meminta para pemain segera bangkit karena Indonesia masih memiliki satu pertandingan penting melawan Singapura.
Herdman mengawali konferensi pers dengan memberikan apresiasi kepada Vietnam. Menurutnya, meraih kemenangan di Indonesia bukan perkara mudah, terlebih dengan besarnya dukungan yang diberikan suporter tuan rumah.

“Selamat kepada Vietnam. Datang ke Indonesia bukan hal yang mudah dan bukan tempat yang mudah untuk meraih kemenangan. Kredit penuh untuk mereka karena pantas mendapatkan tiga poin malam ini,” ujar Herdman.
Pelatih asal Inggris tersebut tidak mencari alasan atas kekalahan timnya. Ia secara terbuka mengakui bahwa performa Indonesia belum cukup baik dan Vietnam mampu menjalankan strategi dengan lebih efektif.
“Kami harus bertanggung jawab atas performa sendiri. Secara taktik, mereka lebih baik daripada kami,” katanya.
Indonesia kini dituntut belajar dalam waktu singkat. Herdman menegaskan bahwa kekecewaan dan kemarahan akibat kekalahan tidak boleh berlangsung terlalu lama karena laga penentuan melawan Singapura sudah menanti.
“Kami kalah dan kami harus belajar. Tentu kami kecewa dan marah untuk sementara waktu, tetapi sekarang fokus harus segera dialihkan. Kami masih berada dalam persaingan dan akan datang ke Singapura dengan satu tujuan yang jelas, yaitu memenangkan pertandingan,” tegasnya.
Dalam pertandingan tersebut, Indonesia hanya mencatatkan tiga tembakan tepat sasaran. Lini pertahanan Garuda juga terlihat beberapa kali mengalami masalah koordinasi yang kemudian mampu dimanfaatkan Vietnam.
Herdman mengakui Indonesia seharusnya memulai pertandingan dengan pendekatan yang lebih langsung, terutama untuk menghadapi intensitas dan duel fisik Vietnam dalam 10 hingga 15 menit pertama.
“Kami memberikan gol yang terlalu mudah. Ketika menghadapi tim seperti Vietnam dan memberikan mereka keunggulan lebih dahulu, pertandingan akan menjadi sangat sulit. Mereka kemudian bisa mengandalkan serangan balik dan itulah yang mereka lakukan,” jelas Herdman.
Menurutnya, organisasi permainan Indonesia harus lebih rapat, baik ketika menyerang maupun bertahan. Manajemen pertandingan dan transisi bertahan juga menjadi dua aspek penting yang harus segera diperbaiki.
Herdman mengambil tanggung jawab atas kelemahan tersebut. Ia tidak ingin kesalahan sepenuhnya dibebankan kepada para pemain.
“Itu tanggung jawab pelatih terlebih dahulu, bukan pemain. Kami harus memastikan 15 menit pertama menjadi periode yang sulit bagi tim bagus seperti Vietnam,” ujarnya.
Meski demikian, Herdman tidak berniat meninggalkan identitas permainan menyerang yang sedang dibangun. Ia ingin Indonesia menjadi tim yang berani menekan lawan dan membangun serangan dari lini belakang, bukan hanya bertahan dan menunggu kesempatan melalui serangan balik.
Gaya bermain tersebut diakuinya memiliki risiko. Karena itu, para pemain perlu lebih cermat menentukan waktu untuk menyerang sekaligus menjaga keseimbangan ketika kehilangan bola.
“Tim ini ingin menyerang, menekan lawan, dan membangun permainan dari belakang. Kami tidak ingin hanya bertahan di area sendiri. Cara bermain seperti itu membutuhkan keberanian dan tentu memiliki risiko,” katanya.
Herdman juga mengingatkan bahwa ini baru pertandingan resmi ketiga bagi kelompok pemain tersebut. Kekalahan dari Vietnam harus diterima sebagai bagian dari proses perkembangan tim.
Kapten Timnas Indonesia, Rizky Ridho, juga mengakui Vietnam bermain lebih baik. Menurutnya, para pemain belum mampu menjalankan instruksi pelatih secara optimal.
Ridho secara terbuka mengakui melakukan sejumlah kesalahan yang berujung pada gol lawan. Ia berjanji menjadikan kesalahan tersebut sebagai bahan evaluasi agar tidak kembali terulang.
“Saya sadar melakukan beberapa kesalahan yang berujung pada gol lawan. Dalam pertandingan seperti ini, kesalahan kecil bisa mengakibatkan kekalahan. Itu harus saya evaluasi dan pelajari,” ujar Ridho.
Bek Persija Jakarta itu meminta seluruh anggota tim tetap bersatu dalam menghadapi situasi sulit. Kebersamaan, menurutnya, tidak hanya diperlukan ketika tim meraih kemenangan.
“Jangan hanya saat menang kita merayakannya bersama. Ketika kalah, kita juga harus menerima hasilnya bersama dan melakukan evaluasi,” katanya.
Ridho pun siap menghadapi kritik yang muncul setelah pertandingan. Ia menilai komentar negatif merupakan hal yang wajar ketika tim gagal menunjukkan performa terbaik.
“Saya menerima semua kritik yang membangun. Kalau sudah mengarah ke hal-hal di luar sepak bola, saya tidak akan terlalu memikirkannya. Saya tahu melakukan kesalahan dan akan belajar agar bisa tampil lebih baik melawan Singapura,” tuturnya.
Terkait miskomunikasi dengan Jordi Amat dan Nadeo Argawinata, Ridho memastikan masalah koordinasi akan dibahas bersama seluruh anggota tim.
Sebagai kapten, ia menegaskan tanggung jawabnya tidak hanya berlaku ketika Indonesia menang, tetapi juga saat tim mengalami kekalahan.
“Saya akan berbicara bukan hanya dengan Jordi atau Nadeo, tetapi dengan seluruh tim. Sebagai kapten yang ditunjuk pelatih, saya harus bertanggung jawab ketika tim menang maupun kalah,” tegasnya.
Di tengah persiapan menghadapi Singapura, Indonesia juga menerima kabar buruk mengenai kondisi Marselino Ferdinan. Herdman mengonfirmasi bahwa hasil pemeriksaan MRI menunjukkan sang pemain tidak dapat melanjutkan turnamen akibat cedera.
Herdman belum mengungkapkan secara terperinci jenis cedera yang dialami Marselino. Namun, kondisi tersebut membuat pemain yang dikenal memiliki kreativitas dan daya ancam di lini serang itu harus mengakhiri turnamen lebih cepat.
“Sayangnya, Marselino mengalami cedera. Hasil MRI telah mengonfirmasi bahwa dia tidak bisa melanjutkan turnamen ini,” kata Herdman.
“Tentu ini sangat disayangkan karena dia memberikan ancaman besar di lini serang. Namun, dia memahami bahwa situasi ini menjadi kesempatan bagi pemain lain untuk mengambil peran dan membantu tim,” lanjutnya.
Pertandingan menghadapi Singapura akan menjadi laga hidup-mati bagi Indonesia. Herdman menilai persiapan taktik dan mental sama pentingnya untuk menghadapi pertandingan tersebut.
Ia mewaspadai Singapura sebagai tim yang memiliki organisasi permainan kuat. Penampilan mereka ketika merepotkan Vietnam menjadi bukti bahwa laga berikutnya tidak akan berjalan mudah.
“Secara taktik, pertandingan nanti akan sangat sulit. Singapura sangat terorganisasi dan pelatih mereka melakukan pekerjaan yang bagus. Kita melihat bagaimana mereka mampu merepotkan Vietnam dan hampir memenangkan pertandingan,” jelas Herdman.

Kendati demikian, Herdman tetap percaya Indonesia memiliki kualitas dan mentalitas untuk meraih hasil yang dibutuhkan. Proses pemulihan fisik, perubahan pola pikir, dan pengembalian fokus menjadi prioritas dalam waktu tiga hari menjelang pertandingan.
“Kami tidak bersembunyi dari kenyataan bahwa performa malam ini belum cukup baik. Namun, saya percaya kami memiliki kualitas dan pemain-pemain yang tahu bagaimana memenangkan pertandingan. Kami tahu apa yang harus dilakukan untuk negara ini,” tegasnya.
Optimisme serupa disampaikan Rizky Ridho. Ia mengungkapkan para pemain telah membuat komitmen bersama di ruang ganti untuk menghadapi Singapura.
Dalam setiap pemusatan latihan, Herdman menunjuk enam hingga tujuh pemain untuk menjadi bagian dari kelompok kepemimpinan. Mereka bertugas membantu menjaga kondisi dan kebersamaan tim, khususnya saat menghadapi tekanan.
“Kami sudah berkomitmen di ruang ganti. Kami berangkat ke Singapura dengan satu target: harus menang. Tidak ada pilihan lain,” ujar Ridho.
“Malam ini kami memang lelah, kecewa, dan frustrasi. Namun, besok ketika bangun, kami harus kembali fokus menghadapi Singapura. Saya yakin teman-teman sangat siap untuk meraih kemenangan di sana,” pungkasnya.
Herdman juga menyampaikan permintaan maaf kepada para suporter Indonesia yang terus memberikan dukungan hingga pertandingan berakhir. Kini, skuad Garuda harus mengubah kekecewaan menjadi energi untuk bangkit dan mempertahankan peluang dalam persaingan fase grup. (ma)