x Viralterkini

Demokrat Mainkan “Loyalitas Berjarak”, Pengamat: Jaga Pemilih Kritis Menuju 2029

waktu baca 3 menit
Selasa, 8 Sep 2026 11:56 24 M Ary K

Viralterkini.id, JAKARTA – Partai Demokrat dinilai tengah membangun posisi politik yang memungkinkan partai tetap berada dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sekaligus mempertahankan dukungan pemilih kritis. Pengamat politik dari Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, menyebut langkah tersebut sebagai strategi “loyalitas berjarak”.

Menurut Arifki, strategi itu tercermin dari sikap Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang menekankan pentingnya pembatasan kekuasaan, hak rakyat untuk memilih dan dipilih, serta mekanisme pengawasan dan keseimbangan dalam demokrasi.

“Demokrat sedang mencari posisi di tengah. Mereka ingin tetap berada di dalam pemerintahan Prabowo, tetapi tidak ingin seluruh identitas politiknya ikut melebur menjadi identitas pemerintah,” kata Arifki di Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Arifki menilai langkah tersebut rasional secara elektoral. Jika terlalu identik dengan pemerintah, Demokrat berisiko kehilangan pemilih yang menginginkan partai tetap menyuarakan kritik terhadap kebijakan penguasa.

“Demokrat tidak ingin keluar dari pemerintahan, tetapi juga tidak ingin keluar dari radar pemilih yang kritis. Mereka bisa tetap mendukung pemerintah yang kuat dan efektif, sekaligus mengingatkan bahwa kekuasaan harus dibatasi dan kritik wajib dihormati,” ujarnya.

Dalam pandangan Arifki, strategi “loyalitas berjarak” penting untuk menjaga identitas Demokrat menjelang Pemilu 2029. Dengan posisi tersebut, Demokrat dapat mempertahankan ciri politiknya di tengah koalisi pemerintah.

Strategi ini juga dinilai berpotensi membuka peluang bagi AHY dalam bursa calon presiden maupun calon wakil presiden pada 2029.

Arifki menilai ketiadaan ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold dapat memberi ruang bagi Demokrat untuk membangun poros politik sendiri apabila peluang AHY menjadi pendamping Prabowo melemah.

Meski demikian, persaingan menuju kontestasi tersebut dinilai tidak mudah. AHY disebut harus berhadapan dengan sejumlah figur yang memiliki modal politik kuat, termasuk Gibran Rakabuming Raka.

“Loyal kepada pemerintahan dalam hal-hal yang memang menjadi komitmen koalisi, tetapi tetap memiliki jarak yang cukup untuk menyampaikan kritik dan memperjuangkan kepentingan publik,” jelas Arifki.

Di sisi lain, Arifki mengingatkan bahwa strategi tersebut menyimpan risiko inkonsistensi. Publik akan menilai apakah kritik Demokrat benar-benar diwujudkan dalam sikap politik atau hanya menjadi upaya menjaga citra menjelang pemilu.

Menurutnya, mempertahankan dukungan pemilih kritis membutuhkan keberanian untuk menunjukkan perbedaan sikap ketika ada kebijakan pemerintah yang perlu dikoreksi.

“Jangan sampai sikap kritis ini hanya menjadi kosmetik politik semata. Jika ingin mempertahankan kepercayaan pemilih kritis, Demokrat harus berani menunjukkan perbedaan nyata ketika ada kebijakan yang perlu dikritisi, atau bahkan mengambil keputusan yang lebih berani dengan berada di luar pemerintahan,” pungkasnya. (ma)

5 Poin Penting

  1. Demokrat dinilai menjalankan “loyalitas berjarak”. Arifki menyebut partai tetap mendukung pemerintahan Prabowo sambil menjaga ruang untuk bersikap kritis.
  2. Mempertahankan identitas dan pemilih kritis. Strategi tersebut dinilai dapat mencegah identitas Demokrat melebur dengan pemerintah dan partai lain dalam koalisi.
  3. Pernyataan AHY menjadi sorotan. Penekanan pada pembatasan kekuasaan, hak politik rakyat, serta pengawasan dan keseimbangan dinilai mencerminkan posisi tersebut.
  4. Membuka peluang politik menuju 2029. Menurut Arifki, langkah ini dapat memperluas pilihan Demokrat dan AHY dalam menghadapi pilpres mendatang.
  5. Konsistensi menjadi ujian utama. Arifki mengingatkan bahwa kritik harus disertai sikap nyata agar tidak dianggap sekadar kosmetik politik.

VIRAL NETWORK

VIRAL TERBARU

LAINNYA
x Viralterkini