x Viralterkini

Dari Bawah Laut ke Halaman Buku, Harita Nickel Kenalkan Kekayaan Ikan Karang Pulau Obi

waktu baca 4 menit
Selasa, 8 Sep 2026 11:40 26 M Ary K

Viralterkini.id, JAKARTA – Keanekaragaman ikan karang di pesisir barat Pulau Obi, Maluku Utara, kini terdokumentasi dalam buku yang dapat menjadi sumber edukasi bagi masyarakat. Harita Nickel bersama Penerbit Buku Kompas meluncurkan buku Keindahan Laut Pesisir Barat Pulau Obi – Seri I Ikan Karang: Mosaik Kehidupan Laut yang Memikat di Kompas Institute, Palmerah, Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Buku tersebut menyajikan foto dan informasi mengenai karakteristik, sebaran, habitat, serta peran ikan dalam ekosistem laut. Materinya dikembangkan dari hasil pemantauan keanekaragaman hayati laut di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Harita Nickel atau PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) merupakan bagian dari Harita Group yang mengoperasikan pertambangan dan pemrosesan nikel terintegrasi di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan.

Direktur Health, Safety, and Environment (HSE) Harita Nickel, Tonny H. Gultom, mengatakan penerbitan buku ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mengenali dan mendokumentasikan kekayaan alam di sekitar wilayah operasionalnya.

“Laut Pesisir Barat Pulau Obi menyimpan potensi hayati luar biasa. Keanekaragaman organisme yang hidup di dalamnya tidak hanya penting secara ekologis, tetapi juga menyimpan nilai edukatif dan sosial yang tinggi,” ujar Tonny.

Salah satu kekuatan buku ini adalah dokumentasi visual dari pengamatan langsung di lapangan. Foto-foto ikan diambil oleh tim Marine Environment Harita Nickel saat melakukan pemantauan bawah laut di perairan pesisir barat Pulau Obi.

Setiap foto dilengkapi informasi yang membantu pembaca mengenali jenis ikan, habitat, dan perannya dalam kehidupan laut.

Jenis ikan yang ditampilkan antara lain napoleon wrasse, parrotfish atau ikan kakatua, butterflyfish atau ikan kepe-kepe, serta grouper atau kerapu. Buku ini juga mendokumentasikan surgeonfish dan kelompok trevally, termasuk bobara.

Keragaman tersebut memperlihatkan peran berbeda dalam ekosistem. Ikan kakatua dikenal sebagai pemakan alga, sedangkan kerapu memiliki nilai ekologis sekaligus ekonomi bagi masyarakat pesisir.

Menurut Tonny, publikasi ini diharapkan dapat memperluas pemanfaatan hasil pemantauan menjadi media informasi dan pendidikan publik. Perusahaan juga menempatkannya sebagai bagian dari upaya mendukung konservasi berbasis sains.

Buku ikan karang tersebut menjadi seri pertama dari rangkaian publikasi keanekaragaman hayati laut Pulau Obi. Dokumentasi selanjutnya direncanakan membahas terumbu karang dan makrobentos untuk memperluas informasi mengenai ekosistem laut di wilayah itu.

Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba, menyambut baik penerbitan buku tersebut. Ia menilai dokumentasi kekayaan bahari dapat membantu memperkenalkan potensi lingkungan laut daerahnya kepada masyarakat luas.

“Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat perlu terus diperkuat demi menjaga laut sekaligus memastikan pembangunan daerah berjalan berkelanjutan,” tutur Bassam.

Dari kalangan akademisi, Guru Besar Manajemen Kesehatan Ikan Universitas Khairun, Muh. Aris, menilai dokumentasi keanekaragaman hayati dapat mendukung pengelolaan lingkungan berbasis pengetahuan dan data. Menurutnya, praktik pertambangan yang baik perlu berjalan beriringan dengan perlindungan ekosistem.

Sementara itu, ahli genetika ikan Universitas Sam Ratulangi, Ari Berty Rondonuwu, menekankan pentingnya publikasi tersebut untuk mengenalkan kekayaan hayati kepada generasi muda, terutama anak-anak di Pulau Obi.

“Saat anak-anak di Pulau Obi mulai bisa menyapa nama dan mengenali rupa ikan di halaman rumah mereka sendiri, di situlah benih rasa memiliki dan kesadaran menjaga alam tumbuh paling kuat,” tutur Ari.

Melalui buku ini, Harita Nickel berharap hasil pemantauan bawah laut dapat dimanfaatkan lebih luas untuk meningkatkan literasi lingkungan dan memperkuat kolaborasi perlindungan ekosistem pesisir. Perusahaan menyebut langkah tersebut selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDG 14, Life Below Water, yang berfokus pada ekosistem laut. (ma)

5 Poin Penting

  1. Buku ikan karang Pulau Obi diluncurkan. Harita Nickel bersama Penerbit Buku Kompas meluncurkannya di Kompas Institute, Jakarta, pada 8 September 2026.
  2. Bersumber dari pemantauan langsung. Foto dan informasi disusun dari pengamatan tim Marine Environment Harita Nickel di pesisir barat Pulau Obi.
  3. Mengenalkan keragaman dan peran ikan. Buku membahas karakteristik, sebaran, habitat, serta fungsi ekologis berbagai ikan, termasuk napoleon, kakatua, kerapu, dan bobara.
  4. Menjadi sarana edukasi lingkungan. Pemerintah daerah dan akademisi menekankan manfaat dokumentasi untuk memperkenalkan kekayaan bahari serta menumbuhkan kepedulian generasi muda.
  5. Akan dilanjutkan dengan seri berikutnya. Publikasi mengenai terumbu karang dan makrobentos direncanakan untuk melengkapi dokumentasi ekosistem laut Pulau Obi.

VIRAL NETWORK

VIRAL TERBARU

LAINNYA
x Viralterkini