Wakil pemimpin redaksi Kompas, Tri Agung Kristanto. Foto : MAK/Viralterkini.id Viralterkini.id, JAKARTA — Kekayaan laut Pulau Obi, Maluku Utara, kini terdokumentasikan melalui buku Keindahan Laut Pesisir Barat Pulau Obi. Buku tersebut menjadi upaya untuk memperkenalkan sekaligus mendokumentasikan keanekaragaman hayati laut di kawasan tersebut.
Dalam sambutannya, wakil pemimpin redaksi Kompas, Tri Agung Kristanto menilai penerbitan buku ini memiliki arti penting karena memperlihatkan bahwa kekayaan alam Pulau Obi tidak hanya berada di daratan, tetapi juga di wilayah laut.
Ia mengaku pernah mengunjungi Pulau Obi pada Agustus 2025. Saat itu, dirinya mendapat kesan kuat terhadap kondisi lingkungan di kawasan tersebut dan hanya menggunakan satu kata untuk menggambarkannya, yakni “segar”.

“Kenapa segar? Karena meskipun memasuki area tambang, saya masih melihat hijaunya daun di sekitar Pulau Obi,” ujar Tri Agung Kristanto.

Menurut dia, kesan tersebut menjadi semakin kuat ketika dirinya melihat langsung kondisi laut dan mendapatkan ikan kakap merah saat memancing. Kesegaran ikan yang diperoleh dinilai menjadi salah satu gambaran bahwa kekayaan laut di Pulau Obi masih terjaga.
Ia juga mengapresiasi perhatian Harita terhadap dokumentasi keanekaragaman hayati. Sebelumnya, ketika berkunjung ke Obi, ia telah melihat buku mengenai burung-burung yang hidup di kawasan tersebut.
“Kalau kemudian burung di udara, kenapa yang di laut tidak?” katanya.
Pertanyaan tersebut, menurutnya, akhirnya terjawab dengan lahirnya buku Keindahan Laut Pesisir Barat Pulau Obi.
Namun, ia menyebut buku tersebut baru mendokumentasikan kawasan pesisir barat Pulau Obi. Masih terdapat wilayah lain yang berpotensi menjadi objek dokumentasi, seperti pesisir timur, selatan, utara, hingga kekayaan perairan darat.
“Jadi nanti masih ada banyak lagi bukunya,” ujarnya.
Selain mengapresiasi isi dan kualitas cetakan buku, ia juga memberikan masukan agar edisi berikutnya mencantumkan nama ikan yang lebih dikenal masyarakat umum, selain nama ilmiahnya.
Menurutnya, penggunaan nama lokal atau nama yang populer di tengah masyarakat akan memudahkan komunikasi, khususnya dengan warga sekitar.
Ia mencontohkan pengalamannya ketika melakukan penelitian mengenai ikan di kawasan Baron, Gunungkidul, saat masih duduk di bangku SMA. Saat itu, ia mengenal sejumlah ikan tidak hanya berdasarkan nama ilmiah, tetapi juga nama yang digunakan masyarakat.
“Jadi ini mungkin yang pada edisi berikutnya akan bisa ditambahkan,” katanya.
Ia berharap buku tersebut tidak hanya menjadi dokumentasi visual, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan baru mengenai kekayaan laut Pulau Obi.
“Terima kasih Harita yang sudah mendokumentasikan ikan-ikan yang ada di sana. Ini akan memberikan tambahan pengetahuan, warna baru untuk kita semua,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Harita dan Kompas atas kolaborasi dalam penerbitan buku tersebut.
“Terima kasih untuk kepercayaan pada Kompas untuk menerbitkan buku ini,” tuturnya. (ma)