Bupati Halteng (mengenakan seragam dinas coklat) memimpin jalannya dialog perdamaian dan penandatanganan deklarasi damai antara warga Desa Sibenpopo dan Banemo. Kegiatan ini berlangsung di depan Gereja Sibenpopo, Selasa (7/4/2026). Foto: Supriansah Nurdin
Viralterkini.id, HALTENG – Gema perdamaian membumbung tinggi di langit Patani Barat pada Selasa, 7 April 2026. Di bawah naungan mendung yang seolah ikut berempati, dua komunitas yang bertetangga, Desa Sibenpopo dan Desa Banemo, secara resmi mengakhiri masa kelam pertikaian mereka melalui sebuah Deklarasi Perdamaian yang tertulis dan mengikat.
Sebuah prosesi rekonsiliasi yang mengharukan berlangsung di pelataran Gereja Sibenpopo, menandai kembalinya semangat Fagogoru yang sempat terkoyak.
Pertemuan bersejarah ini dipimpin langsung oleh Bupati Halmahera Tengah, Ikram Malan Sangadji, didampingi Wakil Bupati Ahlan Djumadil, Sekretaris Daerah Bahri Sudirman, serta jajaran pimpinan tinggi keamanan wilayah Maluku Utara termasuk Kapolda, Dandim, dan Kapolres.

Upaya deklarasi perdamaian ini bukanlah proses instan. Sejak ketegangan memuncak pada Jumat, 3 April 2026, pemerintah daerah bersama aparat gabungan TNI dan Polri telah bersiaga di lokasi untuk mencegah eskalasi konflik.
Kehadiran Kapolda Maluku Utara, Dandim 1512/Weda, Koramil Malut, dan Kapolres Halteng, Kepala Kejaksaan Halteng, Ketua DPRD Hateng, di tengah massa menjadi bukti nyata bahwa negara hadir untuk memastikan keamanan rakyatnya.
Di hadapan ratusan warga yang berkumpul dengan raut wajah penuh harapan, Bupati Ikram Malan Sangadji menyampaikan pidato yang menggetarkan hati.

Ia menekankan bahwa perpisahan fisik dan emosional yang terjadi beberapa hari terakhir adalah sebuah kerugian besar bagi tatanan sosial masyarakat.
“Kita telah hidup berdampingan dalam waktu yang sangat lama. Namun, karena kejadian memilukan itu, kita sempat terpisah. Sebagai kepala daerah, saya memikul tanggung jawab penuh atas kehidupan rakyat Halmahera Tengah. Saya tidak ingin konflik ini terulang, karena bapak dan ibu jugalah yang akan memikul beban berat, baik secara ekonomi maupun sosial,” ujar Bupati Ikram dengan nada penuh penekanan.
Puncak dari pertemuan ini adalah prosesi penandatanganan dokumen Deklarasi Perdamaian oleh perwakilan kedua belah pihak.

Dokumen ini bukan sekadar simbolis, melainkan sebuah pakta integritas yang memuat poin-poin krusial bagi stabilitas wilayah.
Dalam deklarasi tersebut, warga Sibenpopo dan Banemo sepakat untuk:
Bupati mengingatkan bahwa stabilitas keamanan adalah kunci utama kesejahteraan.
“Ini adalah tugas kolektif kita semua untuk merajut kembali kehidupan yang harmonis. Mari kita jadikan deklarasi ini sebagai titik balik untuk bangkit. Hukum akan berdiri tegak bagi siapa saja yang mencoba merusak kedamaian yang telah kita tandatangani hari ini,” tambahnya.
Momen yang paling dinantikan terjadi usai penandatanganan dokumen. Tanpa dikomando, warga dari Desa Banemo dan Sibenpopo mulai saling mendekat. Yang awalnya hanya tatapan canggung, berubah menjadi jabat tangan erat, dan puncaknya adalah pelukan persaudaraan yang tulus sebagai bentuk pengesahan deklarasi damai di tingkat akar rumput.

Isak tangis warga pecah di halaman gereja. Mereka yang sebelumnya terjebak dalam rasa takut dan amarah, kini larut dalam emosi pengampunan.
Beberapa tetua desa terlihat saling merangkul sambil terisak, menyesali pertikaian yang sempat merenggangkan tali silaturahmi mereka.
Masyarakat kedua desa sepakat bahwa nilai Fagogoru—yang menjunjung tinggi rasa malu, rasa memiliki, dan saling menghormati—harus menjadi benteng utama agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Mereka menyadari bahwa memaafkan bukanlah sebuah kekalahan, melainkan kemenangan atas ego untuk menjaga hubungan yang abadi.
Dengan ditandatanganinya kesepakatan batin dan administratif ini, masyarakat Banemo dan Sibenpopo berkomitmen untuk hidup dalam damai, rukun, dan penuh ketenteraman.
Konflik masa lalu kini diletakkan sebagai pelajaran berharga, sebuah sejarah hitam yang dikubur dalam-dalam untuk menumbuhkan pohon persaudaraan yang lebih kokoh di Bumi Halmahera Tengah.

Kini, warga mulai kembali ke rumah masing-masing dengan hati yang lebih ringan, membawa janji bahwa kedamaian di Patani Barat akan dijaga seteguh karang di lautan Maluku Utara. (Dano)
Foto Dokementasi Kegiatan:






