x Viralterkini

GIFA dan METEC Indonesia 2026 Dorong Industri Logam Masuk Era Efisiensi Energi dan AI

waktu baca 4 menit
Selasa, 29 Sep 2026 11:54 35 Denny Pohan

Viralterkini.id, JAKARTA — Industri logam Indonesia menghadapi tekanan baru untuk meningkatkan efisiensi energi, menekan emisi karbon, dan mempercepat digitalisasi produksi. Tantangan tersebut menjadi sorotan utama dalam penyelenggaraan GIFA Indonesia dan METEC Indonesia 2026 yang mempertemukan teknologi pengecoran logam, metalurgi, pembuatan baja, dan pemrosesan logam dari berbagai negara.

Edisi ketiga pameran yang berlangsung di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran pada 9–12 September 2026 itu menghimpun 260 perusahaan dari 20 negara dan lebih dari 6.000 pengunjung profesional. Pameran digelar bersamaan dengan Mining Indonesia untuk mempertemukan pelaku industri, pemasok teknologi, insinyur, manajer, hingga perwakilan asosiasi.

Penyelenggara menilai tingginya partisipasi menunjukkan kebutuhan industri terhadap teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjawab tuntutan efisiensi dan keberlanjutan.

Managing Director Messe Düsseldorf Asia Lars Wismer mengatakan interaksi antara pemilik smelter, pabrik pengecoran, pengolah aluminium, dan penyedia teknologi menjadi salah satu aspek penting dalam gelaran tahun ini.

Menurut dia, pelaku industri tidak hanya mencari peningkatan produktivitas dan kualitas, tetapi juga mulai mengukur kemampuan operasional mereka terhadap standar global serta peluang penciptaan nilai tambah di sektor hilir.

Hal serupa disampaikan Lia Indriasari, Country General Manager PT Pamerindo Indonesia. Menurutnya, GIFA dan METEC Indonesia menjadi penghubung antara produsen lokal dan inovasi global, terutama dalam otomatisasi dan teknologi metalurgi yang lebih ramah lingkungan.

Pameran tahun ini mengangkat tiga isu utama, yakni dekarbonisasi dan efisiensi energi, smart factory dan kecerdasan buatan (AI), serta ekonomi sirkular dan teknologi masa depan.

Perubahan tersebut mencerminkan tantangan yang semakin besar di industri logam. Produsen dituntut menghasilkan produk dengan jejak karbon lebih rendah, sementara biaya energi dan kebutuhan efisiensi produksi tetap menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing.

Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr. Sri Raharno mengatakan industri metalurgi dan pengecoran Indonesia perlu bergerak menuju sistem produksi yang rendah karbon, hemat energi, terdigitalisasi, dan berbasis ekonomi sirkular.

Menurutnya, kemampuan sumber daya manusia dalam menguasai teknologi metalurgi sekaligus teknologi digital juga akan menjadi faktor penting dalam menentukan posisi industri nasional di rantai pasok manufaktur global.

Teknologi AI mulai menjadi salah satu jawaban yang ditawarkan pelaku industri. Salah satunya diperlihatkan qoncept Technology GmbH dari Austria melalui perangkat lunak yang mengolah data produksi untuk mengidentifikasi hubungan antara penggunaan bahan baku, konsumsi energi, dan jejak karbon.

Sementara itu, Indaid Thermal Engineers Private Limited dari India menawarkan teknologi tungku industri dengan sistem pembakar yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar. Perusahaan tersebut menyebut teknologi regenerative burners berpotensi mengurangi konsumsi bahan bakar sekitar 25–45%, tergantung pada aplikasi dan kondisi operasional.

Bagi industri Indonesia, adopsi teknologi semacam ini menjadi semakin relevan karena tekanan untuk meningkatkan produktivitas tidak lagi berdiri sendiri. Efisiensi energi, pengurangan emisi, otomatisasi, dan kemampuan mengolah data mulai menjadi bagian dari tuntutan daya saing manufaktur.

Aluminium Jadi Fokus Baru

Selain efisiensi dan digitalisasi, aluminium menjadi fokus strategis baru dalam GIFA dan METEC Indonesia 2026.

Sektor aluminium dinilai memiliki peluang besar seiring peningkatan kapasitas produksi nasional. Namun, pertumbuhan di sektor hulu juga membawa tantangan baru, terutama apabila kapasitas peleburan dan produk midstream tumbuh lebih cepat dibandingkan kemampuan industri hilir.

Kesenjangan tersebut berpotensi menciptakan bottleneck dalam rantai pasok, khususnya pada pengolahan aluminium menjadi sheet, foil, produk ekstrusi, hingga komponen otomotif dan kendaraan listrik.

Karena itu, penyelenggara mulai memperluas cakupan GIFA dan METEC Indonesia menuju rantai nilai aluminium secara lebih menyeluruh. Langkah awalnya ditandai dengan rencana pengembangan Aluminium Pavilion pada penyelenggaraan 2028.

Fokus tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk tidak berhenti pada peningkatan kapasitas produksi bahan mentah dan setengah jadi, tetapi memperkuat kemampuan industri dalam menghasilkan produk bernilai tambah di dalam negeri.

Ketua Umum GAMMA (Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia) Dadang Asikin mengatakan GIFA dan METEC Indonesia memberikan ruang bagi industri domestik untuk berinteraksi langsung dengan pemasok teknologi global sekaligus mengevaluasi solusi untuk meningkatkan produktivitas, kualitas, dan nilai tambah.

Setelah penyelenggaraan 2026, Messe Düsseldorf Asia dan PT Pamerindo Indonesia memastikan GIFA Indonesia dan METEC Indonesia akan kembali digelar di JIExpo Kemayoran pada September 2028.

Dengan fokus yang semakin melebar dari teknologi pengecoran dan metalurgi menuju efisiensi energi, digitalisasi, ekonomi sirkular, serta rantai nilai aluminium, pameran dua tahunan tersebut diarahkan untuk mengikuti perubahan kebutuhan industri manufaktur Indonesia.(DP)

VIRAL NETWORK

VIRAL TERBARU

LAINNYA
x Viralterkini