x Viralterkini

DFSK Gandeng EVSafe Indonesia, Dorong Edukasi Keamanan dan Teknologi PHEV

waktu baca 4 menit
Sabtu, 8 Agu 2026 07:58 8 Denny Pohan

Viralterkini.id, TANGERANGPerkembangan kendaraan elektrifikasi di Indonesia tidak hanya menuntut kehadiran teknologi baru, tetapi juga pemahaman publik mengenai keamanan, keandalan, dan cara penggunaannya. Hal itu menjadi sorotan PT Sokonindo Automobile (DFSK) bersama EVSafe Indonesia melalui talkshow bertajuk “The Next Drive: Why PHEV?” di Booth DFSK, Hall 2B, GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026.

Forum tersebut membahas sejumlah isu yang masih menjadi perhatian konsumen terhadap kendaraan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), mulai dari keamanan baterai, risiko overheating, ketahanan kendaraan, usia pakai baterai, hingga kemampuan kendaraan menempuh perjalanan jarak jauh.

Diskusi menghadirkan Head of Sales & Marketing PT Sokonindo Automobile Doni Putra Okten, Product Expert PT Sokonindo Automobile Ichsan Aria Putra, serta Founder EVSafe Indonesia Mahaendra Gofar dan Abdul Rahman Elly.

Pembahasan mengenai PHEV menjadi semakin relevan seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kendaraan elektrifikasi. DFSK melihat respons terhadap E5 Plus sejak diperkenalkan di GIIAS 2026 sebagai salah satu indikasi bahwa konsumen mulai mempertimbangkan teknologi yang menawarkan efisiensi listrik sekaligus fleksibilitas mesin pembakaran internal.

Dalam konteks tersebut, PHEV dinilai memiliki posisi strategis karena memungkinkan kendaraan digunakan dalam mode listrik untuk kebutuhan harian, sementara mesin pembakaran tetap tersedia untuk perjalanan lebih jauh.

“Kami percaya elektrifikasi tidak boleh mengorbankan kebebasan berkendara. PHEV menghadirkan pengalaman berkendara elektrik untuk aktivitas sehari-hari sekaligus memberikan ketenangan untuk melakukan perjalanan jarak jauh tanpa dibayangi range anxiety,” ujar Doni Putra Okten.

Menurut Doni, DFSK E5 Plus dikembangkan dengan pendekatan Dual-Energy Premium Urban SUV yang menggabungkan sistem penggerak listrik dan mesin pembakaran. Kendaraan tersebut menggunakan teknologi Smart Power System DE-i yang mengatur perpindahan sumber tenaga sesuai kondisi berkendara.

Dari sisi penyimpanan energi, E5 Plus dibekali baterai berkapasitas 25 kWh. DFSK menyebut baterai tersebut telah melalui serangkaian pengujian untuk memastikan aspek keamanan, ketahanan, dan performanya dalam berbagai kondisi.

Ichsan Aria Putra mengatakan aspek keselamatan baterai menjadi salah satu perhatian utama dalam pengembangan kendaraan elektrifikasi. Selain pengujian, sistem pengelolaan baterai atau Battery Management System (BMS) berperan dalam mengatur proses pengisian dan penggunaan energi sekaligus menjaga kondisi baterai.

“Setiap baterai DFSK E5 Plus telah melalui pengujian keselamatan dan ketahanan yang komprehensif sebelum digunakan oleh konsumen. Sistem Battery Management System (BMS) kami juga dirancang untuk menjaga kesehatan baterai dalam jangka panjang,” kata Ichsan.

Persoalan keamanan baterai menjadi penting karena masih terdapat kekhawatiran masyarakat terhadap kendaraan elektrifikasi, termasuk risiko panas berlebih, ketahanan baterai, serta kemampuan kendaraan digunakan untuk perjalanan jarak jauh.

DFSK menyebut E5 Plus memiliki jarak tempuh kombinasi hingga 1.400 kilometer berdasarkan metode pengujian NEDC. Mobil tersebut juga mendukung pengisian cepat DC Fast Charging, dengan waktu pengisian baterai dari 30 persen hingga 80 persen sekitar 20–28 menit.

Namun, EVSafe Indonesia menilai pembahasan mengenai elektrifikasi tidak bisa berhenti pada spesifikasi teknis kendaraan. Keselamatan dan keberhasilan adopsi kendaraan elektrifikasi juga bergantung pada kesiapan ekosistem serta pemahaman pengguna.

Founder EVSafe Indonesia Mahaendra Gofar mengatakan setidaknya terdapat tiga fondasi yang perlu diperkuat, yakni keselamatan, edukasi, dan infrastruktur.

Keselamatan mencakup kendaraan, baterai, serta prosedur penanganan dalam kondisi darurat. Edukasi diperlukan agar pengguna memahami karakteristik kendaraan elektrifikasi dan dapat mengoperasikannya secara tepat. Sementara infrastruktur mencakup ketersediaan fasilitas pengisian daya, layanan purnajual, hingga sumber daya manusia yang memiliki kompetensi terkait kendaraan listrik.

“Tidak ada satu solusi yang dapat menjawab seluruh kebutuhan elektrifikasi. PHEV memiliki peran strategis sebagai jembatan yang mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Namun, keberhasilan transisi ini tidak hanya bergantung pada teknologinya, melainkan juga pada edukasi yang mampu membangun kepercayaan dan pemahaman masyarakat,” ujar Mahaendra.

Bagi DFSK, pengembangan kendaraan elektrifikasi juga diikuti dengan upaya membangun ekosistem kepemilikan. Jaringan dealer, layanan purnajual, serta kesiapan teknisi menjadi bagian penting untuk memastikan kendaraan PHEV dapat digunakan dan dirawat secara optimal.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya DFSK memperluas pemahaman publik mengenai teknologi elektrifikasi. Di tengah meningkatnya pilihan kendaraan listrik dan hybrid di pasar Indonesia, edukasi mengenai teknologi, keamanan, serta kesiapan ekosistem menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan konsumen terhadap kendaraan elektrifikasi.(DP)

VIRAL NETWORK

VIRAL TERBARU

LAINNYA
x Viralterkini