Petugas kebersihan membersihkan tribun Stadion si Jalak Harupat. Foto : Dok Media Piala Presiden 2026 “Datang bersih, berjualan bersih, dan pulang pun harus tetap bersih”
Viralterkini.id, Jakarta – Perputaran ekonomi UMKM dalam Piala Presiden 2026 telah mencapai Rp1,5 miliar hingga babak semifinal. Di balik pencapaian tersebut, ada tanggung jawab lain yang tak kalah penting: menjaga kebersihan sebagai bagian dari kualitas pelayanan dan keberlanjutan sebuah perhelatan.
Riuh pertandingan Piala Presiden 2026 tidak hanya menghadirkan persaingan antarklub di atas lapangan. Di luar arena, para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) turut menjalani “pertandingan” mereka sendiri—menawarkan produk, melayani pembeli, dan menggerakkan perekonomian masyarakat.
Hingga babak semifinal, transaksi UMKM dalam turnamen pramusim bergengsi tersebut telah menembus Rp1,5 miliar. Angka itu meningkat 27 persen dibandingkan penyelenggaraan Piala Presiden 2025.

Ketua Organizing Committee Piala Presiden 2026, Tsamara Amany, menyebut jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena turnamen masih menyisakan laga perebutan tempat ketiga dan partai final di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Kamis, 6 Agustus 2026.
“Angka ini meningkat jauh, meningkat 27 persen dari turnamen Piala Presiden 2025,” kata Tsamara dalam jumpa pers menjelang laga final.
Peningkatan transaksi tersebut membuktikan bahwa kompetisi sepak bola dapat menciptakan manfaat yang lebih luas daripada sekadar hiburan. Sebuah turnamen dapat menjadi ruang promosi, tempat bertemunya penjual dan pembeli, sekaligus peluang bagi usaha kecil untuk memperluas pasar.
Namun, keberhasilan UMKM seharusnya tidak hanya dihitung dari besarnya transaksi. Ada nilai lain yang perlu tumbuh bersama peningkatan penjualan, yakni kepedulian terhadap kebersihan.
Di sinilah semangat “Datang Bersih, Pulang Bersih” menjadi penting.
Kebersihan adalah wajah UMKM
Bagi pelaku UMKM, kebersihan bukan persoalan tambahan, melainkan bagian dari kualitas produk dan pelayanan. Tenant yang bersih akan lebih dipercaya konsumen. Makanan yang disajikan secara higienis, peralatan yang tertata, serta area berjualan yang bebas sampah menjadi cerminan profesionalisme suatu usaha.
Karena itu, “Datang Bersih, Pulang Bersih” bukan sekadar ajakan untuk membersihkan tempat setelah berjualan. Semangat tersebut dimulai sejak pelaku usaha memasuki area kegiatan dengan perlengkapan yang bersih, produk yang higienis, serta kemasan yang tidak menghasilkan sampah secara berlebihan.
Ketika kegiatan berakhir, para tenant juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan area yang ditempati kembali bersih. Sampah harus dipilah dan dibuang pada tempatnya, sisa makanan tidak dibiarkan berserakan, dan perlengkapan usaha dibawa kembali tanpa meninggalkan jejak kotor.
Sikap sederhana itu membawa pesan besar: UMKM tidak hanya datang untuk memperoleh keuntungan, tetapi juga turut merawat ruang yang telah memberikan mereka kesempatan.
Kebersihan bahkan dapat menjadi bagian dari identitas dan daya saing UMKM. Konsumen masa kini tidak hanya mempertimbangkan rasa dan harga, tetapi juga memperhatikan cara produk dibuat, disajikan, dan dikemas. Pelaku usaha yang konsisten menjaga kebersihan akan lebih mudah membangun kepercayaan dan membuat konsumen kembali membeli produknya.

Tetap berjualan meski tanpa penonton
Komitmen Piala Presiden terhadap pemberdayaan UMKM tetap terlihat ketika pertandingan semifinal harus dilaksanakan tanpa kehadiran penonton. Sebanyak 25 tenant UMKM tetap difasilitasi untuk berjualan di Stadion Kapten I Wayan Dipta.
Jumlah tersebut memang lebih sedikit dibandingkan dengan 80 tenant yang sebelumnya hadir di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, dan 50 tenant di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung. Namun, kegiatan ekonomi tidak berhenti.
Panitia menggerakkan perangkat pertandingan dan petugas penyelenggara untuk membeli makanan serta minuman dari tenant yang tersedia. Suporter juga didorong mengadakan kegiatan nonton bareng secara tertib dengan tetap mengutamakan keamanan.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa keberpihakan terhadap UMKM tidak boleh bergantung sepenuhnya pada jumlah penonton. Ketika akses pasar menjadi terbatas, penyelenggara dapat mengambil peran dengan menciptakan ekosistem yang membuat roda ekonomi tetap berputar.
“Harapannya besok di final pun kita tetap bisa memberikan dampak yang baik dari sisi kompetisi, dari segi keamanan, dari segi perputaran ekonomi, dan juga tentu saja dari segi kebersihan,” ujar Tsamara.
Pernyataan itu menempatkan kebersihan sejajar dengan kualitas kompetisi, keamanan, dan pertumbuhan ekonomi. Artinya, kesuksesan suatu turnamen tidak cukup diukur dari pertandingan yang menarik atau transaksi yang tinggi. Kondisi lingkungan setelah kegiatan selesai juga menjadi tolok ukur penting.
Semua harus pulang sebagai pemenang
Di lapangan, hanya satu klub yang akan mengangkat trofi Piala Presiden 2026. Namun, di luar lapangan, semua pihak dapat pulang sebagai pemenang.
UMKM menang ketika produknya terjual dan semakin dikenal. Penyelenggara menang ketika kegiatan berlangsung aman dan tertib. Suporter menang ketika mendapatkan hiburan yang berkualitas. Lingkungan pun harus ikut menang dengan tetap terjaga kebersihannya.
Peningkatan transaksi UMKM hingga Rp1,5 miliar patut diapresiasi. Akan tetapi, pencapaian tersebut juga perlu menjadi momentum untuk membangun budaya usaha yang semakin bertanggung jawab.
Penyelenggara dapat mendukungnya dengan menyediakan tempat sampah terpilah, titik pencucian yang memadai, serta aturan kebersihan yang jelas bagi tenant. Pelaku UMKM dapat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan memilih kemasan yang lebih ramah lingkungan. Sementara itu, pembeli dan suporter wajib membuang sampah pada tempat yang telah disediakan.
Kolaborasi inilah yang akan membuat dampak sebuah turnamen bertahan lebih lama daripada sorak-sorai pertandingan.
Pada akhirnya, omzet besar akan menjadi lebih bermakna ketika dihasilkan melalui kegiatan yang tertib, aman, dan ramah lingkungan. Jangan sampai pesta sepak bola yang menghidupkan usaha kecil justru meninggalkan tumpukan sampah sebagai cerita penutupnya.
Piala Presiden 2026 menunjukkan bahwa sepak bola mampu menggerakkan ekonomi rakyat. Kini, para pelaku UMKM memiliki kesempatan untuk memperkuat pesan tersebut: datang membawa produk terbaik dalam keadaan bersih, melayani konsumen dengan bersih, lalu pulang tanpa meninggalkan sampah.
Sebab, usaha yang baik bukan hanya tentang berapa banyak keuntungan yang dibawa pulang, tetapi juga tentang bagaimana tempat berjualan ditinggalkan. (ma)