Viralterkini.id, TANGERANG – IKEA meningkatkan kandungan material daur ulang pada tas FRAKTA menjadi minimal 90 persen setelah melalui pengembangan selama beberapa tahun. Pembaruan yang dilakukan menjelang 30 tahun sejak produk tersebut diperkenalkan pada 1996 ini mencakup perubahan komposisi bahan dan proses produksi.
Tas FRAKTA terbaru menggunakan polipropilena (PP) daur ulang, dengan sedikitnya 70 persen material berasal dari plastik bekas industri kemasan makanan. IKEA masih menggunakan sebagian kecil polipropilena baru untuk mempertahankan kekuatan produk.
Tas yang tersedia dalam ukuran 36 liter dan 71 liter tersebut dirancang untuk menahan beban hingga 25 kilogram. Perusahaan menyatakan perubahan material dilakukan tanpa mengubah fungsi dasar dan desain tas.
Pengembangan ini dimulai pada 2017 melalui kolaborasi tim pengembang produk, insinyur, dan pemasok. Pada 2020, kandungan material daur ulang FRAKTA tercatat mencapai 60 persen, sebelum meningkat menjadi minimal 90 persen pada versi terbaru.

Pembaruan FRAKTA tidak hanya mencakup penggunaan bahan daur ulang, tetapi juga penyederhanaan komponen produk. Badan tas dan tali pegangan kini menggunakan jenis material yang sama untuk mengurangi keragaman bahan dalam proses produksi.
Metode pembuatan tali pegangan turut berubah. Jika sebelumnya tali dijahit secara manual, kini bagian tersebut terintegrasi dengan badan tas melalui proses otomatis. Perubahan ini mengurangi penggunaan benang dan menyederhanakan tahapan produksi.
IKEA memperkirakan penghematan benang dari perubahan tersebut mencapai sekitar 89.000 kilometer per tahun. Sisa material produksi juga dikumpulkan untuk digunakan kembali dalam pembuatan tas baru.
Meski demikian, penggunaan plastik daur ulang memerlukan proses penyortiran, pengolahan, dan pengendalian mutu tambahan. Perusahaan mengembangkan metode produksi baru untuk mengatasi tantangan tersebut sekaligus menjaga konsistensi kualitas produk.
Public Relations Manager IKEA Indonesia, Ririn Basuki, mengatakan peningkatan kandungan material daur ulang membutuhkan pengujian teknis selama beberapa tahun. Tantangannya adalah mempertahankan kekuatan dan fungsi tas ketika sebagian besar bahan bakunya berasal dari material daur ulang.
Penggunaan material daur ulang menjadi salah satu pendekatan industri untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku plastik baru berbasis fosil. Namun, penerapannya pada produk yang diproduksi secara massal juga bergantung pada ketersediaan bahan baku, konsistensi kualitas, dan efisiensi biaya.
Dalam kasus FRAKTA, IKEA menggunakan plastik bekas industri kemasan makanan sebagai salah satu sumber material. Sebagian kecil plastik baru tetap digunakan untuk memenuhi kebutuhan teknis produk.
Diperkenalkan pada 1996, FRAKTA awalnya dirancang sebagai tas untuk membawa barang belanjaan. Seiring waktu, penggunaannya meluas untuk berbagai keperluan rumah tangga, seperti menyimpan barang, membawa cucian, memilah sampah, dan membantu proses pindahan.
IKEA mencatat penjualan FRAKTA secara global mencapai lebih dari 44 juta unit per tahun. Angka tersebut menunjukkan besarnya skala produksi produk ini sekaligus relevansi pemilihan material terhadap upaya pengurangan penggunaan plastik baru.
Peningkatan kandungan material daur ulang pada FRAKTA menjadi bagian dari perubahan proses produksi yang dilakukan perusahaan. Dampak lingkungan secara keseluruhan tetap bergantung pada berbagai faktor, termasuk sumber bahan baku, kebutuhan energi selama produksi, masa pakai produk, dan pengelolaan limbah setelah produk tidak lagi digunakan.(DP)