x Viralterkini

Santri Berdaya, Pesantren Mandiri: GP Ansor Perkuat Sinergi Pendidikan dan Dunia Usaha

waktu baca 4 menit
Rabu, 28 Okt 2026 21:08 24 M Ary K

Viralterkini.id, JAKARTA – Penguatan ekonomi pesantren dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi perhatian penting dalam mendorong kemajuan bangsa. Hal tersebut sejalan dengan semangat Gerakan Pemuda (GP) Ansor yang menempatkan kemandirian ekonomi dan pendidikan sebagai bagian dari upaya membangun masa depan Indonesia.

Dalam pemaparan pada seminar bertema “Santri Berdaya, Ekonomi Digdaya: Menjawab Tantangan Ekonomi Global dan Kebijakan Fiskal Nasional Menuju Indonesia Emas” di Gedung Gerakan Pemuda Ansor pada Rabu, (28/10) Jakarta, Ketua GP Ansor Dr. H. Addin Jauharudin menegaskan bahwa kekuatan organisasi dan bangsa perlu ditopang oleh kemampuan ekonomi serta kualitas pendidikan kader.

Ia mengaitkan arah perjuangan tersebut dengan sejarah pemikiran Nahdlatul Ulama (NU), terutama mengenai pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan penguatan ekonomi umat.

Menurutnya, terdapat tiga prinsip penting yang menjadi pijakan dalam membangun kekuatan NU, yakni pengembangan pemikiran, peningkatan kualitas pendidikan, dan penguatan ekonomi.

“kader NU itu harus pendidikannya mumpuni, baik itu pendidikan formal maupun vokasional,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun kemandirian ekonomi agar organisasi dan masyarakat memiliki fondasi yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Prinsip tersebut, menurutnya, telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah NU dalam mengembangkan pendidikan dan perekonomian umat.

“Yang ketiga adalah menjadikan NU itu harus ekonominya kuat,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penguatan ekonomi dan sumber daya manusia tidak hanya relevan bagi organisasi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pembangunan nasional.

Menurutnya, keberhasilan suatu negara sangat bergantung pada kemampuan mengelola investasi ekonomi dan meningkatkan kualitas masyarakatnya.

“Bernegara ini ujungnya dua, investasi di bidang ekonomi dan investasi di bidang sumber daya manusia. Kalau ini bagus, maka negara bagus,” ungkapnya.

Atas dasar itu, GP Ansor menaruh perhatian pada pengembangan ekonomi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Keduanya dipandang sebagai unsur yang saling berkaitan dalam membangun masyarakat yang mandiri dan meningkatkan kesejahteraan.

Dalam seminar tersebut, pembahasan mengenai kemandirian ekonomi pesantren juga diperkuat melalui pengalaman para narasumber dari sektor pembiayaan, perbankan, pengelolaan koperasi pesantren, dan dunia usaha.

Perwakilan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi, Rido Arifin, menjelaskan bahwa pesantren memiliki modal sosial yang besar untuk mengembangkan kegiatan ekonomi. Keberadaan santri, alumni, serta jaringan masyarakat di sekitar pesantren dinilai dapat menjadi kekuatan dalam membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan.

Namun, ia mengingatkan bahwa pengembangan usaha pesantren perlu disertai pembenahan kelembagaan dan administrasi, termasuk pencatatan keuangan yang tertib. Menurutnya, tata kelola yang baik akan membantu koperasi pesantren memenuhi persyaratan untuk memperoleh pendampingan maupun pembiayaan usaha.

Agenda Seminar Santripreneur yang Diselenggarakan Pimpinan Pusat GP Ansor pada 28 Oktober 2026. Foto : IST

Sementara itu, Gus Anas Al-Hifni, yang terlibat dalam pengembangan koperasi di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Drajat, membagikan pengalaman mengenai pentingnya keberanian, penguasaan ilmu, dan kemampuan membaca peluang dalam membangun bisnis.

Ia merangkum prinsip pengembangan usaha dalam tiga pesan, yakni berdiri tegak, berlari cepat, dan berdampak. Menurutnya, pengusaha tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan bisnis, tetapi juga perlu memastikan usahanya memberikan manfaat bagi masyarakat.

Disisi lain Kanwil 15 BNI Koko Prawira Butar Butar, yang hadir mewakili direksi perbankan, menegaskan bahwa peran BNI saat ini telah bertransformasi tidak hanya sekadar memberikan pembiayaan modal, melainkan juga menjadi jembatan strategis dalam mengelola alur bisnis, membuka akses pasar, serta menghubungkan jaringan antarnasabah untuk mendorong usaha santri agar naik kelas.

“Di bank itu kita lebih bagaimana menjembatani bisnis-bisnis yang di-create untuk dibuka pasarnya, dijaga alir-alurnya.”

Praktisi bisnis Eko Pujianto juga menceritakan pengalamannya membangun perusahaan hingga berhasil membawa bisnisnya melantai di Bursa Efek Indonesia. Pengalaman tersebut menjadi contoh bahwa latar belakang yang sederhana tidak harus menjadi penghalang untuk membangun usaha berskala besar apabila disertai pengelolaan profesional dan kerja keras.

Melalui seminar tersebut, penguatan ekonomi pesantren diharapkan tidak berhenti pada pengembangan usaha semata. Pesantren juga berpotensi menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan kapasitas generasi muda dalam menghadapi tantangan ekonomi.

Sinergi antara pendidikan, pembiayaan, perbankan, koperasi, dan dunia usaha menjadi salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk memperkuat kemandirian pesantren sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia Emas. (ma)

Agenda Seminar Santripreneur yang Diselenggarakan Pimpinan Pusat GP Ansor pada 28 Oktober 2026. Foto : IST

VIRAL NETWORK

VIRAL TERBARU

LAINNYA
x Viralterkini