x Viralterkini

Penipuan Digital Rugikan Masyarakat Rp9,1 Triliun, Literasi Keuangan Remaja Jadi Perhatian

waktu baca 3 menit
Sabtu, 17 Okt 2026 16:42 0 Denny Pohan

viralterkini.id,TANGERANG SELATAN – Risiko penipuan digital menjadi tantangan bagi industri jasa keuangan seiring meningkatnya penggunaan transaksi elektronik. Di tengah kondisi tersebut, penguatan literasi keuangan sejak usia sekolah dinilai penting agar generasi muda mampu mengelola uang, memahami risiko transaksi, dan melindungi informasi pribadi.

Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) menerima 702.342 laporan penipuan selama periode 22 November 2024 hingga 30 September 2026. Total kerugian yang dilaporkan mencapai Rp9,1 triliun, sedangkan dana yang berhasil diblokir tercatat sebesar Rp811,1 miliar hingga September 2026.

Besarnya kerugian yang dilaporkan menunjukkan bahwa keamanan transaksi masih menjadi persoalan serius. Pemahaman mengenai cara mengenali penipuan, menjaga kerahasiaan data, dan melaporkan aktivitas mencurigakan menjadi bagian penting dari kecakapan masyarakat dalam menggunakan layanan keuangan digital.

Tantangan tersebut juga berkaitan dengan tingkat literasi keuangan generasi muda. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan kelompok usia 15–17 tahun tercatat sebesar 56,04%.

Angka tersebut menjadi salah satu gambaran pentingnya pendidikan keuangan bagi remaja, terutama ketika mereka mulai mengenal berbagai metode pembayaran digital dan mengambil keputusan terkait penggunaan uang secara mandiri.

Di tengah tantangan itu, Permata Bank menjalankan program Permata CERITA 2026 yang menyasar siswa sekolah menengah pertama (SMP) di 24 kota di Indonesia. Program tersebut melibatkan lebih dari 500 karyawan sebagai relawan edukasi keuangan.

Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli mengatakan, pemahaman keuangan perlu dibangun sejak dini agar generasi muda mampu mengambil keputusan finansial secara bijak dan bertanggung jawab, termasuk ketika menggunakan layanan keuangan digital.

Pengelolaan Uang Saku hingga Keamanan Transaksi

Materi edukasi dalam Permata CERITA 2026 mencakup pengelolaan uang saku, penentuan prioritas pengeluaran, kebiasaan menabung, serta pemahaman mengenai transaksi digital.

Siswa diajak membedakan kebutuhan dan keinginan, mempertimbangkan keputusan sebelum membeli barang, serta menyisihkan sebagian uang untuk tabungan. Materi juga mencakup pengenalan pembayaran menggunakan QRIS dan transfer daring, termasuk hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menghindari risiko transaksi.

Selain pengelolaan uang, siswa diperkenalkan pada metode 3A, yakni Amati, Awasi, dan Adukan, untuk membantu mengenali potensi penipuan digital.

Mereka juga diingatkan agar tidak membagikan PIN dan kode one-time password (OTP) kepada pihak lain. Jika menemukan pesan, permintaan informasi, atau aktivitas digital yang mencurigakan, siswa diarahkan untuk meminta bantuan orang tua atau guru.

Salah satu kegiatan tersebut berlangsung di SMP PGRI 2 Ciputat, Tangerang Selatan.

Tantangan Literasi di Era Keuangan Digital

Perkembangan layanan keuangan digital membuat transaksi semakin mudah dilakukan. Namun, kemudahan tersebut perlu diimbangi pemahaman mengenai keamanan akses, perlindungan data pribadi, dan mekanisme pengaduan ketika terjadi dugaan penipuan.

Bagi generasi muda, literasi keuangan tidak cukup hanya mencakup kemampuan menabung atau mengatur pengeluaran. Pemahaman tentang konsekuensi keputusan finansial dan kewaspadaan dalam menggunakan layanan digital juga menjadi bagian penting.

Permata CERITA merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial Permata Bank melalui Permata Hati. Berdasarkan data perusahaan, program tersebut telah menjangkau lebih dari 50.000 penerima manfaat selama periode 2016–2025.

Edukasi keuangan bagi remaja juga sejalan dengan upaya peningkatan literasi dan inklusi keuangan nasional melalui Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) dan Bulan Inklusi Keuangan yang diinisiasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Penguatan literasi sejak usia sekolah menjadi salah satu langkah untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi ekosistem keuangan yang semakin digital. Kemampuan mengelola uang, mengenali modus penipuan, dan menjaga keamanan informasi pribadi diperlukan agar kemudahan transaksi tidak berujung pada risiko kerugian finansial.(DP)

VIRAL NETWORK

VIRAL TERBARU

LAINNYA
x Viralterkini