Viralterkini.id, TANGERANG — Minat konsumen terhadap kendaraan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) mulai menunjukkan tanda penguatan di pasar Indonesia. Hal itu tercermin dari performa DFSK E5 Plus selama GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, yang menjadi penyumbang terbesar Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) DFSK sepanjang pameran.
Hingga sehari menjelang penutupan GIIAS 2026 di ICE BSD City, DFSK mencatat 625 SPK. Dari jumlah tersebut, sebanyak 380 SPK atau sekitar 61 persen berasal dari E5 Plus. Sementara SERES E1 menyumbang 125 SPK dan Gelora E sebanyak 120 SPK.
Angka tersebut menempatkan E5 Plus sebagai model dengan kontribusi terbesar terhadap penjualan DFSK selama GIIAS 2026. Antusiasme terhadap SUV PHEV itu juga terlihat dari aktivitas test drive yang menembus lebih dari 700 kali.
Dari total tersebut, 427 aktivitas test drive menggunakan E5 Plus. Dengan kata lain, sekitar enam dari setiap 10 pengunjung yang menjajal kendaraan DFSK memilih E5 Plus.

Data itu menjadi sinyal penting bagi DFSK. Konsumen tidak lagi sebatas melihat kendaraan elektrifikasi di area pameran, tetapi mulai mencari pengalaman langsung untuk mengetahui karakter teknologi PHEV sebelum mengambil keputusan pembelian.
“Menjelang penutupan GIIAS 2026, kami melihat antusiasme terhadap E5 Plus tetap sangat tinggi. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat kendaraan, tetapi juga ingin mencoba dan merasakan langsung teknologi PHEV yang kami hadirkan,” ujar Director Sales Center PT Sokonindo Automobile Cing Hok Rifin.
E5 Plus menjadi salah satu taruhan DFSK untuk memperluas penetrasinya di pasar kendaraan elektrifikasi Indonesia. Model tersebut mengusung teknologi Smart Power System DE-i yang memadukan motor listrik dengan mesin pembakaran internal.
DFSK mengklaim E5 Plus mampu menawarkan combined range hingga 1.400 kilometer. Teknologi PHEV memungkinkan kendaraan menggunakan tenaga listrik untuk kebutuhan tertentu, tetapi tetap memiliki mesin pembakaran internal sebagai sumber tenaga tambahan sehingga konsumen tidak sepenuhnya bergantung pada infrastruktur pengisian daya.
Kombinasi tersebut menjadi salah satu alasan PHEV kembali mendapat perhatian di tengah persaingan kendaraan listrik yang semakin ketat. Teknologi ini menawarkan jalan tengah bagi konsumen yang menginginkan efisiensi kendaraan elektrifikasi sekaligus fleksibilitas untuk perjalanan jarak jauh.
Namun, besarnya perhatian di GIIAS belum otomatis menunjukkan bahwa PHEV telah menjadi arus utama. Segmen tersebut masih relatif kecil dibandingkan keseluruhan pasar kendaraan elektrifikasi. Tantangan terbesar justru berada pada bagaimana produsen mengubah ketertarikan konsumen menjadi pemahaman dan keputusan pembelian.
Cing Hok Rifin mengakui proses tersebut membutuhkan waktu. Menurut dia, teknologi PHEV masih tergolong baru bagi sebagian konsumen Indonesia sehingga pengalaman langsung menjadi bagian penting dalam membangun penerimaan pasar.
“E5 Plus merupakan produk premium dengan teknologi PHEV yang masih tergolong baru bagi pasar Indonesia. Karena itu, kami memahami bahwa membangun penerimaan pasar tidak terjadi dalam waktu singkat,” katanya.

Bagi DFSK, GIIAS 2026 karena itu bukan sekadar panggung untuk mengejar SPK, tetapi juga menjadi arena untuk menguji respons pasar terhadap PHEV. Tingginya aktivitas test drive E5 Plus memberikan gambaran awal mengenai rasa ingin tahu konsumen terhadap teknologi tersebut.
Di sisi lain, E5 Plus tidak sepenuhnya mengandalkan impor. SUV PHEV tersebut telah diproduksi secara massal di fasilitas manufaktur DFSK di Cikande, Banten, yang menerapkan standar Industry 4.0.
Produksi lokal menjadi bagian penting dari strategi DFSK di tengah percepatan transformasi industri otomotif menuju elektrifikasi. Dengan basis manufaktur di dalam negeri, perusahaan memiliki fondasi untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus mengembangkan ekosistem kendaraan elektrifikasi di Indonesia.
Setelah GIIAS 2026 berakhir, tantangan DFSK berikutnya adalah membawa momentum tersebut keluar dari area pameran. Perusahaan berencana memperluas jaringan dealer dan service point, termasuk menjangkau wilayah rural, serta memperkenalkan E5 Plus ke sejumlah kota besar dan wilayah regional.
Langkah tersebut penting karena keberhasilan PHEV tidak hanya ditentukan oleh produk, tetapi juga kesiapan jaringan penjualan, layanan purnajual, edukasi konsumen, dan kemudahan akses terhadap kendaraan.
“GIIAS adalah momentum, tetapi perjalanan kami tidak berhenti di pameran. Kami akan terus berekspansi ke berbagai regional dan kota-kota besar, memperluas jaringan, meningkatkan akses terhadap layanan, serta memberikan lebih banyak kesempatan kepada konsumen untuk mengenal dan merasakan langsung E5 Plus,” ujar Cing Hok Rifin.
Dengan 380 SPK dan 427 aktivitas test drive, E5 Plus menjadi sorotan utama DFSK di GIIAS 2026. Lebih dari sekadar capaian satu model, respons tersebut memperlihatkan bahwa konsumen mulai membuka ruang bagi teknologi PHEV.
Kini, pekerjaan DFSK adalah membuktikan apakah ketertarikan yang muncul di GIIAS dapat berlanjut menjadi permintaan yang lebih luas setelah pameran berakhir. Jika momentum tersebut mampu dikonversi menjadi penjualan berkelanjutan, PHEV berpeluang mengambil porsi yang lebih besar dalam peta kendaraan elektrifikasi Indonesia.(DP)