x Viralterkini

11 UMKM Jakarta Kantongi 18 LoI, Potensi Ekspor Tembus Rp46,94 Miliar

waktu baca 3 menit
Selasa, 20 Okt 2026 17:15 36 M Ary K

Viralterkini.id, Jakarta – Produk UMKM binaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menarik minat calon pembeli dari lima negara. Sebanyak 11 UMKM berhasil memperoleh 18 surat pernyataan minat atau Letter of Intent (LoI) dengan potensi transaksi ekspor yang dilaporkan mencapai 2.625.000 dolar Amerika Serikat (AS), atau sekitar Rp46,94 miliar.

Capaian tersebut diperoleh melalui Business Matching Ekspor 2026 bertema “Jakarta to Global Market – Business Matching & Buyer Connect” yang diselenggarakan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) DKI Jakarta di Hotel Swiss-Belinn Kemayoran, Selasa (13/10/2026).

Para calon pembeli berasal dari Jepang, Belanda, Vietnam, Malaysia, dan Kamerun. Produk yang diminati mencakup makanan dan minuman, fesyen, perawatan alami atau wellness, hingga kriya.

Kepala Dinas PPKUKM DKI Jakarta, Elisabeth Ratu Rante Allo, mengatakan kegiatan tersebut membuka kesempatan bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk sekaligus membangun hubungan bisnis dengan calon mitra mancanegara.

“Melalui business matching ini kami ingin pengusaha UKM Jakarta bisa membangun kepercayaan, memahami kebutuhan pasar, dan membuka peluang kerja sama yang berkelanjutan,” ujar Ratu dalam keterangannya, Selasa (20/10/2026).

Kategori makanan dan minuman mendominasi dengan perolehan 10 LoI. Sementara itu, produk fesyen memperoleh empat LoI, serta kategori wellness dan kriya masing-masing dua LoI.

Produk pangan yang menarik perhatian calon pembeli antara lain buah segar dan buah kering, makanan siap saji berbahan oat, ikan asin, jelly, saus kacang, serta sambal. Potensi transaksi produk-produk tersebut berkisar antara 50.000 hingga 200.000 dolar AS per produk.

Produk propolis menarik minat calon pembeli asal Kamerun dengan potensi transaksi mencapai 1 juta dolar AS. Adapun minyak Tamanu dari kategori perawatan alami mencatat potensi transaksi sebesar 125.000 dolar AS. Produk fesyen berupa mukena dan hijab juga diminati calon pembeli dari Belanda dan Malaysia.

Meski demikian, Ratu menegaskan bahwa penandatanganan LoI belum berarti transaksi ekspor telah terealisasi. Dokumen tersebut merupakan pernyataan minat awal yang masih membutuhkan pembahasan lanjutan.

“Setelah penandatanganan, kedua pihak masih perlu membahas sejumlah hal, mulai dari spesifikasi produk, jumlah pesanan, harga, dan pengiriman sampel hingga persyaratan pengiriman ke negara tujuan,” tuturnya.

Keberhasilan memperoleh minat pembeli internasional tersebut didahului rangkaian pembinaan sejak Agustus 2026. Sebanyak 57 pelaku UKM mengikuti Bimbingan Teknis Peningkatan Kualitas Produk Ekspor pada 31 Agustus 2026 di Hotel Tavia The Heritage, Jakarta Pusat.

Dari jumlah tersebut, 40 pelaku UKM terpilih mengikuti pendampingan selama sekitar satu bulan yang dimulai pada 14 September 2026. Materinya meliputi mutu produk, standardisasi dan sertifikasi, kemasan ekspor, pemasaran digital, penetapan harga, dokumen kepabeanan, serta teknik negosiasi.

Pendampingan berlangsung secara daring dan tatap muka, termasuk di Jakarta Creative Hub pada 24–25 September 2026, sebelum peserta dipertemukan dengan calon pembeli.

Ratu mengajak pelaku UKM yang belum mendapatkan LoI untuk terus berinovasi dan menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar. Masukan dari calon pembeli diharapkan menjadi bekal untuk meningkatkan kesiapan ekspor.

“Kami berharap pendampingan ini membantu semakin banyak UKM Jakarta menembus pasar internasional,” pungkasnya. (ma)

5 poin penting:

  1. 11 UMKM memperoleh 18 LoI dengan potensi transaksi ekspor yang dilaporkan sebesar 2.625.000 dolar AS atau sekitar Rp46,94 miliar.
  2. Calon pembeli berasal dari lima negara, yakni Jepang, Belanda, Vietnam, Malaysia, dan Kamerun.
  3. Makanan dan minuman mendominasi dengan 10 LoI, disusul fesyen empat LoI, serta wellness dan kriya masing-masing dua LoI.
  4. LoI belum merupakan transaksi final. Pelaku usaha dan calon pembeli masih harus menyepakati spesifikasi, jumlah pesanan, harga, sampel, serta persyaratan pengiriman.
  5. Pembinaan menjadi bekal memasuki pasar ekspor. Sebanyak 57 pelaku UKM mengikuti bimbingan teknis, dengan 40 di antaranya melanjutkan ke tahap pendampingan sebelum business matching.

VIRAL NETWORK

VIRAL TERBARU

LAINNYA
x Viralterkini