x Viralterkini

Larico Ranggamone Soroti Pengamanan Stadion Usai Kericuhan Suporter, Minta PSSI Kaji Ulang Pengurangan Poin

waktu baca 4 menit
Senin, 19 Okt 2026 09:10 46 M Ary K

Viralterkini.id, JAKARTA – Mantan Ketua Umum The Jakmania periode 2010–2014, Muhammad Larico Ranggamone, menyoroti kericuhan yang terjadi di tribun stadion saat pertandingan yang melibatkan Persija Jakarta. Ia menilai insiden tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bersama, terutama terkait pengamanan stadion, peran steward, dan kedewasaan suporter dalam menjaga keamanan pertandingan.

Larico mengaku menyaksikan langsung kejadian tersebut. Menurut dia, situasi awalnya berlangsung seperti pertandingan sepak bola pada umumnya, dengan nyanyian suporter, saling bersahutan, serta kehadiran The Jakmania yang memberikan dukungan kepada tim kesayangannya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada warga Tangerang, kelompok suporter Pendekar Cisadane, dan seluruh pihak yang telah menyambut kehadiran suporter Persija.

Namun, situasi kemudian memanas setelah diduga terjadi aksi provokasi oleh sejumlah oknum. Gariko menuturkan, beberapa orang berbaju putih terlihat mendekati kelompok suporter Persija dengan gestur yang dinilainya memancing emosi.

Menurut Larico, salah satu pemicu ketegangan adalah tindakan pencopotan atribut berupa bendera berlambang Persija yang kemudian dibuang. Dalam kultur suporter sepak bola, tindakan terhadap bendera dan atribut klub dapat dianggap sebagai bentuk penghinaan.

“Kalau di dunia suporter, bendera sudah dibalik atau diperlakukan seperti itu, bisa dianggap sebagai penghinaan. Hal tersebut akhirnya memancing emosi teman-teman The Jakmania,” ujar Larico saat diwawancara langsung oleh Viralterkini.id, Minggu (19/10).

Larico menilai, situasi tersebut semestinya dapat diantisipasi apabila pengamanan di dalam stadion berjalan lebih optimal. Ia menyoroti keberadaan steward dan aparat kepolisian yang menurutnya belum mampu meredam ketegangan sejak awal.

Ia juga menilai perlu adanya pemisahan kelompok suporter yang lebih efektif, termasuk melalui pembatas fisik yang memadai, serta penambahan personel pengamanan untuk mengantisipasi potensi bentrokan.

“Yang saya kurang respek adalah pengamanan dan steward di sana. Seharusnya kedua kelompok suporter dipisahkan dengan pembatas yang memadai. Pengamanannya juga harus ditambah,” kata Larico.

Ia menyebut kericuhan tidak hanya terjadi di satu sisi tribun, tetapi juga merembet ke bagian lain. Meski demikian, berdasarkan pengamatannya, situasi di luar stadion relatif aman, termasuk perjalanan rombongan suporter Persija hingga kembali ke Jakarta.

Larico turut menyampaikan keprihatinan atas adanya suporter yang mengalami luka dalam insiden tersebut. Ia berharap kejadian serupa tidak kembali terulang dan seluruh pihak dapat mengambil pelajaran dari insiden itu.

Minta Wacana Pengurangan Poin Dikaji Ulang

Selain menyoroti kericuhan, Larico menanggapi wacana pemberian sanksi pengurangan poin kepada klub apabila terjadi pelanggaran yang melibatkan suporter.

Menurut dia, sanksi tersebut berpotensi menjadi pukulan bagi tim yang harus menanggung konsekuensi atas tindakan sebagian suporternya. Karena itu, ia berharap kebijakan tersebut dikaji secara menyeluruh sebelum diterapkan.

“Sanksi yang diberikan oleh I.League atau PSSI tentu menjadi pukulan bagi tim. Harapan saya, kebijakan ini dikaji ulang terlebih dahulu, apakah dampaknya benar-benar positif atau tidak,” ujarnya.

Meski meminta evaluasi, Larico menegaskan bahwa suporter juga harus memahami tanggung jawab mereka dalam menjaga nama baik klub. Ia mengingatkan bahwa kecintaan terhadap tim tidak boleh diwujudkan melalui tindakan yang membahayakan orang lain atau merugikan klub yang didukung.

Menurut dia, suporter perlu menjaga ketertiban, menghormati kelompok suporter lain, serta memastikan pertandingan berlangsung aman bagi seluruh pihak.

Momentum Membuka Kembali Akses Suporter Tamu

Larico juga menyayangkan terjadinya kericuhan setelah akses kehadiran suporter tamu kembali dibuka. Ia mengingatkan bahwa kesempatan tersebut merupakan hasil dari proses panjang dan pertimbangan matang berbagai pihak.

Setelah sekitar empat tahun tidak dapat hadir langsung di stadion lawan akibat sanksi, kembalinya suporter tamu seharusnya menjadi momentum untuk membangun hubungan yang lebih baik antarkelompok suporter.

“Setelah empat tahun kita terhukum untuk tidak bisa hadir di stadion tamu, akhirnya akses dibuka kembali dengan pemikiran yang matang. Kenapa kejadian seperti ini harus terulang lagi?” tuturnya.

Ia mengajak seluruh suporter untuk menjaga nama baik klub, daerah asal, serta tuan rumah yang menerima kedatangan mereka.

Larico menegaskan, sepak bola semestinya menjadi sarana untuk mempererat persaudaraan dan mempersatukan masyarakat, bukan justru menjadi pemicu perpecahan.

“Sepak bola untuk persatuan. Tidak perlu membawa politik atau hal-hal lain yang memecah belah. Saya ingin sepak bola menjadi sarana untuk mempersatukan anak bangsa, bukan memecah belah,” katanya.

Ia pun mengajak seluruh kelompok suporter di Indonesia untuk mengedepankan perdamaian dan menjadikan pertandingan sebagai ruang dukungan yang positif.

“Jaga nama baik Persija, jaga nama baik The Jakmania. Untuk suporter mana pun, mari jaga perdamaian di antara kita. Sepak bola untuk perdamaian,” pungkasnya. (ma)

VIRAL NETWORK

VIRAL TERBARU

LAINNYA
x Viralterkini