x Viralterkini

Musik Robohkan Tembok Perbedaan, 31 Talenta Muda Bersinar di Antibully Jakarta Festival 2026

waktu baca 4 menit
Kamis, 3 Sep 2026 07:34 29 Rainy Bintang

Viralterkini.id, Jakarta – Musik menjadi jembatan yang menyatukan perbedaan dalam gelaran Antibully Jakarta Festival 2026. Sebanyak 31 performer muda, terdiri atas anak berkebutuhan khusus dan anak tipikal, tampil bersama dalam satu panggung yang penuh semangat, keberanian, dan pesan kesetaraan.

Festival yang diselenggarakan PasarLagu tersebut berlangsung di Citra Xperience, Sunken Plaza Lantai LG, Jakarta Pusat, Minggu (30/8/2026), mulai pukul 15.00 WIB.

Bukan sekadar pertunjukan musik, Antibully Jakarta Festival menghadirkan ruang bagi anak-anak dari berbagai latar belakang untuk berkarya, berinteraksi, dan saling mendukung. Mereka menunjukkan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk tumbuh dan bersinar bersama.

Antibully Jakarta Festival 2026 menjadi penyelenggaraan keempat sejak festival tersebut pertama kali digelar di Yogyakarta pada 2023. Gerakan ini kemudian berkembang dan hadir di sejumlah kota, termasuk Jakarta dan Cirebon.

Puluhan Talenta dari Empat Label

Sebanyak 31 performer yang tampil berasal dari empat label musik, yakni Teman Hebat Records, Superkids Records, Hebat Records, dan Senada Digital Records.

Teman Hebat Records menghadirkan 14 performer, di antaranya Junior Noya, Shafaminata, Ben Hite, Kinanti Ulfidiyanaa, Aisha Natasya, Vanessa Adelynn, Azka Farzana, Kaysan Raffan, Kenneth Trevi, Kenzie Rachel, Evi Lugvianty Craib, Jevon Christoper, Felice Rinardi, dan Jocelyn Rinardi.

Superkids Records membawa sembilan performer, yaitu Kennisha Alinda Gusman, Bebbie Zy, Annaila Balqis, Reva Kirana, Mikhaela Sinaga, Zahra Mora, Felin Natasha, Bunga Shaqilla, dan Mikhayla Xaviera.

Sementara itu, Hebat Records menghadirkan Bintang Haviva dan Asmara Bulan. Adapun Senada Digital Records diwakili Amorra Melodiaz, Ivory Mei, Aisha Kamila, Sendi Permadie, Michelle Quinessha, serta Amira Kim.

Keberagaman karakter, kemampuan, dan daerah asal para performer mempertegas pesan bahwa kesempatan tampil dan berkarya tidak seharusnya dibatasi oleh kondisi seseorang.

Panggung Tanpa Batas dan Perbedaan

Salah satu founder PasarLagu, Lamhot Ivan Tobing, mengatakan keterlibatan PasarLagu sebagai penyelenggara berangkat dari kesamaan visi dengan Teman Hebat Records. Keduanya ingin menciptakan ruang berkarya yang tidak menjadikan perbedaan sebagai penghalang.

“Kami melihat adanya kesamaan visi dengan Teman Hebat Records untuk membuat sebuah karya tanpa batas tanpa melihat sebuah perbedaan. Dengan memberikan ruang yang setara antara anak tipikal dan anak berkebutuhan khusus,” ujar Lamhot.

Menurutnya, mempertemukan anak-anak dengan karakter dan kebutuhan berbeda memerlukan pendekatan khusus. Penyelenggara harus memahami kebutuhan setiap performer serta membangun suasana hangat agar seluruh anak merasa nyaman sejak persiapan hingga pertunjukan berlangsung.

Festival ini juga menjadi bagian dari ekosistem musik PasarLagu. Karya-karya para artis didistribusikan secara digital, sedangkan pertunjukan langsung menjadi ruang promosi agar musik dan pesan mereka menjangkau masyarakat lebih luas.

“Berbeda Bukan Berarti Harus Sendiri”

Salah satu penggagas Antibully Festival, Yuly Twins, mengatakan festival tersebut berawal dari keresahannya melihat anak berkebutuhan khusus yang kerap dinilai berdasarkan keterbatasannya sebelum masyarakat mengenal kemampuan, karakter, dan karya mereka.

Menurut Yuly, edukasi mengenai antiperundungan tidak cukup hanya disampaikan melalui nasihat. Anak-anak perlu mendapatkan pengalaman langsung untuk bertemu, bermain, dan berkarya bersama orang lain yang berbeda dari mereka.

Antibully Festival pun tidak dirancang sebagai panggung khusus anak berkebutuhan khusus, melainkan panggung bersama yang menjadi milik seluruh anak.

“Berbeda bukan berarti harus sendiri atau terpisah, dan bersama bukan berarti harus menjadi sama,” tegas Yuly.

Baginya, 31 performer yang tampil bukan sekadar angka. Mereka membawa 31 cerita, kemampuan, pengalaman, dan cara berekspresi yang berbeda, tetapi memperoleh kesempatan yang sama untuk tampil dan mendapatkan apresiasi.

Penampilan Kenneth Trevi Jadi Momen Mengharukan

Salah satu momen paling berkesan terjadi ketika Kenneth Trevi, penyanyi berkebutuhan khusus asal Bandung, membawakan lagu “Aku Berbeda Aku Bisa.”

Anak-anak berkebutuhan khusus dan anak tipikal kemudian naik ke panggung untuk bernyanyi, berjoget, dan melompat bersama. Suasana tersebut tidak lagi terasa seperti pertemuan dua kelompok berbeda, melainkan kebersamaan anak-anak yang menikmati musik dengan cara masing-masing.

Momen itu menjadi gambaran nyata tentang inklusi. Setiap anak dapat menjadi dirinya sendiri tanpa harus kehilangan identitas agar diterima dalam lingkungan bersama.

Penggagas Antibully Festival lainnya, Rulli Aryanto, menilai musik merupakan medium efektif untuk menyampaikan pesan antiperundungan. Musik dapat diterima berbagai kelompok dan usia tanpa membuat edukasi terasa menggurui.

Menurut Rulli, industri musik juga tidak seharusnya hanya berbicara mengenai popularitas dan keuntungan komersial. Semua orang yang memiliki karya, termasuk musisi berkebutuhan khusus, berhak mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkannya kepada masyarakat.

Antibully Jakarta Festival 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar panggung hiburan. Festival tersebut mempertemukan musik, pendidikan sosial, industri kreatif, dan semangat inklusivitas dalam satu ruang.

Melalui 31 talenta muda, festival ini menyampaikan pesan kuat bahwa setiap anak berhak didengar, setiap karya layak diapresiasi, dan setiap manusia berhak memperoleh tempat yang setara. (rby)

5 Poin Penting

  1. Diikuti 31 performer muda: Anak berkebutuhan khusus dan anak tipikal tampil bersama di Citra Xperience, Jakarta Pusat.
  2. Melibatkan empat label musik: Para performer berasal dari Teman Hebat Records, Superkids Records, Hebat Records, dan Senada Digital Records.
  3. Memasuki penyelenggaraan keempat: Antibully Festival pertama kali digelar di Yogyakarta pada 2023 dan kemudian berkembang ke sejumlah kota.
  4. Kenneth Trevi menciptakan momen istimewa: Penampilannya membawakan “Aku Berbeda Aku Bisa” membuat seluruh anak bernyanyi dan bergembira bersama.
  5. Membawa pesan antiperundungan: Festival menegaskan bahwa perbedaan bukan alasan untuk memisahkan seseorang atau membatasi kesempatan berkarya.

VIRAL NETWORK

VIRAL TERBARU

LAINNYA
x Viralterkini