x Pulau Seribu Asri

CINTA ITU BUTA, TERMASUK CINTA KITA KEPADA TIMNAS

waktu baca 2 menit
Selasa, 4 Agu 2026 09:35 93 M Ary K

Penulis: Yusuf Ibrahim – Penikmat Sepak Bola

Ada sebuah Grup WA namanya Rembuk Sepak Bola Nasional (RSN). Membernya 419 orang dan boleh dibilang anggotanya tidak kaleng-kaleng.

Ada mantan pemain, pelatih, pengurus, pengamat, jurnalis senior, pemilik klub, penggiat, serta beberapa pengurus PSSI pusat dan daerah. Pokoknya orang-orang yang rata-rata pernah bersinggungan dengan perkembangan sepak bola nasional dan PSSI.

Dalam grup itu ada kuis tebak skor berhadiah jersey. Yang ikut nebak 67 orang, 16% saja. 1 mewakili 16 member. Matchnya Indonesia vs Vietnam di AFF, tadi malam.

Hasilnya? Ini yang kocak. Tidak ada satu pun yang tebakan yang benar. Saya pun tertawa seraya merenung sesudahnya, sambil ngopi pagi ini.

Mengapa saya sebut kocak? Lah, yang rata-rata mengaku tahu dan klotokan kekuatan dan kelemahan bola Timnas aja salah nebak. Bagaimana yang bergelar FOMO? Apa yang salah dari semua tebakan itu? Tebakan meleset jauh dari 0-3.

Mayoritas memilih Indonesia menang. Sebagian kecil seri. Hanya segelintir yang berani memilih Vietnam menang, itu pun tipis-tipis. Tidak ada yang membayangkan skor akhir 0-3.

Padahal tanda-tandanya sudah ada. Reuters menulis, Vietnam hadir sebagai juara bertahan ASEAN Championship, dengan organisasi permainan yang lebih matang dan pengalaman yang lebih stabil. Indonesia memang sedang naik daun, tetapi performanya belum benar-benar teruji saat menghadapi lawan selevel Vietnam.

Bagi penulis, yang menarik bukan kekalahan Timnas. Yang menarik adalah kegagalan para penebaknya. Mungkin juga kegagalan rata-rata pecinta Timnas dalam menebak saat sebelum match digelar.

Ini bukan soal knowledge. Kalau soal knowledge, penghuni RSN boleh dibilang overqualified. Ini soal bias. Bahasa Jaksel-nya, “We were emotionally invested”. Kita melihat Timnas yang kita harapkan, bukan Timnas yang benar-benar ada.

Sepak bola Indonesia memang unik. Setiap kemenangan dianggap pertanda kejayaan. Setiap kekalahan dianggap kecelakaan. Padahal sering kali hasil pertandingan hanyalah citra terjujur dari kualitas sebuah tim.

Malam itu Vietnam tidak mengalahkan Indonesia saja. Vietnam juga mengalahkan optimisme kolektif pecintanya di grup WA RSN, dan publik umumnya.

Dari situ saya mencatat dan merenung, bahwa semakin besar cinta kita kepada Timnas, semakin besar pula risiko kita kehilangan objektivitas. Karena kadang-kadang, yang buta bukan wasitnya dan pemain lawan. Yang buta adalah rasa sayang dan cinta kita sendiri.

Siapa kitaaaa…? Mari berkaca lagi.

WhatsApp Image 2026-08-04 at 09.39.31
LAINNYA
x Pulau Seribu Asri