x Pulau Seribu Asri

Jejak Suci di Pasir Eurih: Sumur Tua yang Menjaga Ingatan Kasepuhan Sunda

waktu baca 2 menit
Rabu, 6 Mei 2026 08:00 11 Rainy Bintang

Viralterkini.id – Di sudut tenang Desa Pasir Eurih, jejak masa lalu masih bernafas pelan di antara rumah-rumah warga. Jalan kecil berliku membawa langkah menuju sebuah tempat yang tak hanya menyimpan air, tetapi juga sejarah, kepercayaan, dan warisan budaya yang bertahan lintas zaman.

Kawasan ini dalam naskah kuno seperti Babad Padjajaran dan tradisi lisan pantun Bogor dikenal sebagai Sindang Barang—wilayah penting yang pernah menjadi bagian dari kekuasaan Prabu Siliwangi. Di sinilah, konon, salah satu permaisurinya, Dewi Kentring Manik Mayang Sunda, pernah bermukim.

Tak mengherankan jika Pasir Eurih dipenuhi situs bersejarah. Salah satu yang paling sakral adalah Taman Sri Baginda Jalatunda—sebuah sumur tua yang tersembunyi di Gang Jambekuina, kawasan Kampung Budaya Sindang Barang.

Untuk mencapainya, pengunjung harus menyusuri gang sempit di antara rumah penduduk. Tak ada gerbang megah atau penanda mencolok. Namun begitu tiba, suasana berubah: hening, teduh, dan sarat nuansa spiritual.

Di sinilah Abah Encem Masta menjaga warisan leluhur. Dengan tutur yang tenang, ia mengisahkan masa ketika sumur ini menjadi pusat ritual masyarakat Sunda Wiwitan—keyakinan lokal sebelum datangnya Islam.

“Air dari sumur ini dianggap sebagai salah satu dari tujuh mata air suci di Sindang Barang,” ujarnya. “Dahulu digunakan untuk berbagai keperluan ritual kasepuhan.”

Bagi sebagian orang, air di sumur ini bukan sekadar cairan bening. Ia diyakini membawa nilai spiritual—digunakan untuk pengobatan, penyucian diri, hingga bagian dari ritual adat.

Kepercayaan itu tak pernah benar-benar pudar. Hingga kini, peziarah datang dari berbagai daerah—dari Kuningan, Cirebon, Banten, hingga Sukabumi—hanya untuk mengambil air dari sumur tersebut. Mereka membawa pulang lebih dari sekadar air; ada harapan, keyakinan, dan keterhubungan dengan masa lalu.

Air dari Taman Jalatunda juga menjadi bagian penting dalam ritual Seren Taun, khususnya prosesi Ngala Cai Kukulu—ritual menyatukan tujuh sumber mata air sebagai simbol harmoni kehidupan.

Kesadaran akan pentingnya situs ini akhirnya mendapatkan pengakuan resmi. Pemerintah Kabupaten Bogor menetapkannya sebagai cagar budaya, merujuk pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Status ini bukan sekadar label administratif, melainkan pengingat bahwa tempat seperti Jalatunda adalah bagian dari identitas. Ia bukan hanya situs, tetapi narasi panjang tentang peradaban Sunda—tentang hubungan manusia dengan alam, spiritualitas, dan sejarah.

Di tengah laju modernitas, sumur tua di Pasir Eurih itu tetap setia menjaga cerita. Airnya mungkin terlihat biasa, tetapi bagi mereka yang datang dengan keyakinan, ia adalah jembatan menuju masa lalu—dan mungkin, juga harapan untuk masa depan. (rby)

WhatsApp Image 2026-05-03 at 1.46.56 PM

VIRAL NETWORK

INSTAGRAM

13 hours ago
1 day ago
2 days ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri