x Pulau Seribu Asri

Bupati Halteng Sang Juru Damai dari Tanah Fagogoru, Memilih Cinta Rakyat di Atas Segalanya

waktu baca 5 menit
Rabu, 8 Apr 2026 21:55 811 Dano

Bupati Halteng, Ikram M. Sangadji, beristirahat sejenak dengan ekspresi kelelahan setelah berhari-hari memimpin upaya pemulihan pasca-bentrok di Patani Barat, Selasa (7/4/2026). Di tengah dilema kondisi istrinya yang sakit dirujuk ke Jakarta, ia tetap mendampingi warga di lokasi konflik. Foto: Supriansah Nurdin

Viralterkini.id, HALTENG – Tisu basah di tangannya tak mampu menghapus gurat lelah yang terpahat dalam di wajah Ikram Malan Sangadji. Namun, air mata yang tumpah di Patani Barat menjadi saksi bisu; bahwa bagi sang Bupati, cinta kepada rakyat adalah sebuah pengabdian yang melampaui batas logika, bahkan di atas kepentingan pribadinya sendiri.

​Momen itu terekam dalam potongan video karya Supriansah Nurdin yang beredar luas menangkap fragmen manusiawi yang sangat kuat: sang Bupati, dengan napas yang tampak berat, membasuh wajah dan kepalanya menggunakan air dan tisu basah.

Ia sedang mencoba mengusir penat yang memuncak, namun guratan di keningnya berbicara lebih banyak tentang beban batin yang sedang ia panggul demi kedamaian warganya.

Jumat, 3 April: Isak Tangis di Tengah Bara

​Guncangan itu bermula pada Jumat (3/4). Konflik warga pecah di Patani Barat, melibatkan masyarakat Banemo dan Sibenpopo. Ketegangan menelan korban, api melahap hunian, dan ketakutan menyelimuti cakrawala. Namun, sesaat setelah bentrok mereda, kamera Supriansah Nurdin merekam momen yang menggetarkan sanubari.

​Di tengah reruntuhan bangunan yang masih menyisakan bau hangus dan kepulan asap, Ikram Malan Sangadji berdiri. Ia tidak datang dengan barisan ajudan yang menjaga jarak; ia hadir di episentrum luka.

Tak kuasa menahan kesedihan melihat rakyatnya bertikai, sang Bupati menangis terisak. Air matanya jatuh di depan warga, sebuah pemandangan langka yang menunjukkan bahwa jabatan baginya hanyalah perpanjangan dari rasa kemanusiaan.

​Ia tidak mencari kambing hitam. Dengan suara parau, ia justru melakukan sesuatu yang hanya berani dilakukan oleh pemimpin berjiwa besar: ia menyalahkan dirinya sendiri.

“Jangan salahkan siapa-siapa, salahkan saya,” ujarnya getir.

Inilah cerminan pemimpin yang menempatkan diri sebagai orang tua. Sebelum tragedi ini, ribuan lansia, janda, anak yatim, disabilitas, hingga keluarga muda telah menitikkan air mata syukur atas tangan dinginnya melalui program rumah layak huni, pendidikan gratis, dan kesehatan gratis.

Kini, air mata itu berganti menjadi empati kolektif saat melihat sang pemimpin memikul seluruh duka itu.

Dilema Antara Cinta dan Tugas Negara

​Sisi paling menyentuh dari dedikasi ini diungkapkan oleh Wakapolda Maluku Utara, Brigjen (Pol) Stephen M. Napiun, saat bertatap muka dengan warga Sibenpopo yang mengungsi di Desa Yekke. Sang Jenderal bintang dua itu membuka sebuah rahasia pilu yang selama ini dipendam sang Bupati di balik wajah lelahnya.

“Pemerintah hadir terus berjuang untuk rakyatnya. Bupati memimpin bukan sekadar memimpin, tapi atas pilihan rakyat,” ujar Wakapolda dengan nada emosional.

Ia kemudian mengungkap fakta yang menyayat hati: di saat Ikram berpeluh di lokasi konflik, istrinya sedang berjuang di IGD dan telah dirujuk ke Jakarta karena sakit.

“Kalau mungkin istri atau keluarga bilang, ‘Suami macam apa ini?’, itu wajar. Tapi beliau tetap hadir di sini, kenapa? Karena beliau lebih mengutamakan rakyatnya,” tambah Wakapolda.

Ikram memilih tetap berpijak di tanah konflik untuk menjamin keamanan rakyatnya, sementara separuh jiwanya terbang ke ruang perawatan istrinya di ibu kota.

Senin, 6 April: Mencetak Sejarah di Lapangan Sibenpopo

​Memasuki Senin (6/4), sebuah peristiwa yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah pemerintahan di negeri ini terukir. Sebuah Apel Akbar gabungan TNI-Polri dan Pemerintahan digelar tepat di jantung lokasi konflik, dipimpin langsung oleh Bupati Halteng, bertempat di lapangan Desa Sibenpopo .

Tampak hadir Wakil Bupati Ahlan Djumadil, dan Sekda Bahri Sudirman, Kapolres Halteng dan Danrem.

​Di hadapan barisan, Bupati Ikram menegaskan visinya:

“Kita ingin masyarakat selalu hidup damai, kita ingin masyarakat hidup sejahtera. Kami pemerintah bersama TNI-Polri hadir di tengah masyarakat untuk memastikan kehidupan yang aman dan damai.”

Bukan sekadar retorika, usai apel, Bupati memimpin langsung kerja bakti massal. Bersama Ahlan Djumadil dan Bahri Sudirman, sang Bupati turun di tengah puing-puing reruntuhan rumah yang terbakar.

Mereka mengangkat kayu-kayu hangus dan memindahkan material bangunan bersama para ASN dan aparat.

Di sela-sela istirahat, kamera kembali menangkap wajah lelah sang Bupati yang membasuh tisu dengan air ke kepala dan wajahnya—sebuah potret lelah yang lahir dari cinta yang tulus.

​Pemda langsung merilis kebijakan konkret. Bupati secara langsung menunjuk Sekda Halteng, Bahri Sudirman sebagai Ketua Tim pemulihan pasca bentrok dan pembangunan rumah. Langkah konkret itu diantaranya:

  • Pembangunan Hunian: Rumah rusak berat (terbakar) akan dibangun baru, sementara rusak ringan akan direnovasi total oleh Pemda.
  • Layanan Kemanusiaan: Bantuan makanan, pakaian, dan pengobatan gratis telah dimasifkan bagi seluruh warga terdampak.
  • Pemulangan Pengungsi: Warga Sibenpopo telah dipulangkan ke rumah masing-masing dengan jaminan keamanan penuh.

Selasa, 7 April: Gema Fagogoru di Pelataran Gereja

​Puncak dari rangkaian pengabdian ini terjadi pada Selasa (7/4). Di pelataran Gereja Sibenpopo, gema perdamaian membumbung tinggi. Deklarasi Damai antara masyarakat Banemo dan Sibenpopo resmi ditandatangani.

​Kapolda Malut, Dandim, Danrem, dan Kapolres hadir menyaksikan prosesi rekonsiliasi yang mengharukan ini. Dalam pidatonya, Bupati Ikram menekankan bahwa perpisahan fisik dan emosional adalah kerugian kolektif.

Pakta integritas ditandatangani, memuat larangan tegas terhadap provokasi dan kesediaan tunduk pada supremasi hukum.

​Momen puncak terjadi saat warga kedua desa tanpa komando mulai saling mendekat. Jabat tangan berubah menjadi pelukan persaudaraan yang tulus di halaman gereja. Isak tangis pecah—kali ini bukan tangis ketakutan, melainkan tangis pengampunan.

Sang Juru Damai yang Tak Kenal Lelah

​Masyarakat sepakat bahwa nilai Fagogoru yang terjabar dalam pilar “ngaku re rasai, Budi re bahaya, sopan rehormat, meta re miymoi—menjunjung tinggi persaudaraan, Budi pekerti dan tutur bahasa, takut dan malu serta saling menghormati—harus kembali menjadi benteng utama.

Ikram Malan Sangadji telah meneguhkan posisinya bukan hanya sebagai kepala daerah, melainkan sebagai Sang Juru Damai dari Tanah Fagogoru.

​Lelahnya hari itu, keringat yang ia basuh dengan tisu, dan air mata yang jatuh di tengah reruntuhan adalah manifestasi dari cinta yang diletakkan di atas segalanya. Di Halmahera Tengah, rakyat kini tahu bahwa di balik seragam dinas itu, bersemayam hati seorang “Ayah” yang selalu siap mendekap luka anak-anaknya demi masa depan yang damai. (Dano)

VIRAL NETWORK

INSTAGRAM

7 hours ago
7 hours ago
7 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri