x Pulau Seribu Asri

Mahakarya Sinergi: Menanam Benih Generasi Unggul di Atas Kekayaan Mineral Halteng

waktu baca 4 menit
Sabtu, 2 Mei 2026 16:57 58 Dano

Wakil Bupati Halteng, Ahlan Djumadil, berfoto bersama para siswi SMP dalam rangkaian dialog interaktif HUT Pendidikan Nasional Ke-67 di Weda Utara, Sabtu (2/5/2026). Foto. Ist

Viralterkini.id, HALTENG — Di tengah masifnya deru mesin industri pertambangan yang menjadi urat nadi ekonomi Kabupaten Halmahera Tengah, sebuah paradigma baru sedang ditenun. Pemerintah daerah setempat kini mempertegas bahwa kekayaan mineral di perut bumi Fagogoru tidak boleh sekadar menjadi komoditas ekspor, melainkan harus bertransformasi menjadi investasi manusia yang berkelanjutan.

​Dalam dialog interaktif memperingati Hari Pendidikan Nasional ke-67 di Weda Utara, Wakil Bupati Halmahera Tengah, Ahlan Djumadil, S.IP, memaparkan orkestrasi besar mengenai kolaborasi antara pemerintah daerah dan korporasi.

Visi ini meletakkan pendidikan dan kesejahteraan guru sebagai “ruh” dari pembangunan di lingkar tambang, guna memastikan daerah ini luput dari bayang-bayang kutukan sumber daya alam (resource curse).

​Menangkal Kutukan Sumber Daya

​Ahlan Djumadil mengawali pemikirannya dengan sebuah refleksi mendalam mengenai realitas strategis Halmahera Tengah. Menurutnya, sektor pertambangan adalah pisau bermata dua.

Di satu sisi, ia adalah mesin pertumbuhan ekonomi yang menciptakan efek ganda (multiplier effect) luar biasa terhadap infrastruktur dan lapangan kerja. Namun di sisi lain, ia menyimpan risiko ketimpangan jika tidak dikelola dengan prinsip good governance.

“Potensi besar ini tidak secara otomatis memberikan manfaat optimal bagi masyarakat tanpa dukungan tata kelola yang baik. Kita harus melawan fenomena resource curse, di mana kelimpahan alam justru berujung pada rendahnya kualitas manusia,” tegas Ahlan yang juga sebagai Ketua DPD Gerindra Halteng ini.

Eks Legislator tiga periode yang memimpin Partai besutan Presiden Prabowo ini menekankan bahwa kehadiran korporasi harus memberikan kontribusi nyata yang melampaui orientasi profit semata, bergerak menuju penciptaan nilai bersama (creating shared value).

​Pemerintah sebagai Dirigen Kebijakan

​Dalam upaya mewujudkan sinergi tersebut, Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah mengambil peran sebagai pengarah kebijakan (policy driver).

Ahlan menjelaskan bahwa pendekatan collaborative governance menjadi kunci. Pemerintah tidak lagi bekerja dalam sekat-sekat sektoral, melainkan bertindak sebagai koordinator yang menyatukan visi antara kepentingan industri dan kebutuhan publik.

“Kami memosisikan pemerintah sebagai dirigen yang memastikan seluruh instrumen korporasi, baik melalui Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) maupun Corporate Social Responsibility (CSR), selaras dengan napas pembangunan daerah,” ujarnya.

Pada tahun 2026 ini, langkah konkret telah diambil melalui rapat sinkronisasi program. Tujuannya jelas: memastikan program perusahaan tidak lagi bersifat sporadis atau sekadar seremoni, melainkan terintegrasi dalam dokumen perencanaan daerah demi efisiensi dan ketepatan sasaran.

​Memuliakan Guru di Lingkar Tambang

​Sektor pendidikan menjadi medan tempur utama dalam investasi manusia ini. Ahlan menyatakan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab kolektif lintas aktor. Salah satu poin krusial yang ia garis bawahi adalah mengenai pemuliaan tenaga pendidik. Ia meyakini bahwa kualitas pendidikan mustahil tercapai tanpa kesejahteraan guru yang terjamin.

“Kami secara aktif mendorong dan memfasilitasi perusahaan tambang untuk berkontribusi nyata dalam meningkatkan kesejahteraan guru, terutama guru honorer di wilayah lingkar tambang,” kata Ahlan.

Dukungan insentif melalui dana CSR/PPM menjadi prioritas untuk memperkuat stabilitas tenaga pendidik. Tak hanya materi, kolaborasi ini juga menyasar pada transformasi pedagogi, seperti pelatihan metode pembelajaran inovatif Gasing, guna menjamin mutu pembelajaran yang adaptif bagi siswa di daerah terpencil.

​Menuju Generasi Emas 2045

​Menutup paparannya, Ahlan Djumadil menegaskan bahwa seluruh orkestrasi ini bermuara pada satu tujuan: menjemput Generasi Emas 2045. Dengan menempatkan guru dan peserta didik sebagai subjek utama di tengah hiruk-pikuk industri, Halmahera Tengah sedang membangun fondasi bagi generasi yang unggul, inklusif, dan berdaya saing.

​Bagi Ahlan, kolaborasi antara pemerintah daerah dan korporasi bukan lagi sekadar pilihan teknokrasi, melainkan sebuah keharusan strategis.

“Melalui sinergi yang kokoh, kita ingin memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi dari perut bumi akan berjalan seiring dengan peningkatan derajat manusia yang tumbuh di atasnya,” pungkasnya.

​Di bawah langit Weda Utara, komitmen itu kini bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah mahakarya kolaborasi yang sedang diupayakan menjadi kenyataan bagi masa depan Maluku Utara. (Dano)

VIRAL NETWORK

INSTAGRAM

1 day ago
1 day ago
2 days ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri