Kredit Foto: Tribunnews.com Viralterkini.id – Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat membuka babak baru kerja sama ekonomi melalui perjanjian dagang Agreements on Reciprocal Trade (ART).
Kesepakatan ini langsung menuai sambutan hangat dari para pengusaha Amerika Serikat karena memberi akses besar ke pasar Indonesia yang berpenduduk lebih dari 280 juta jiwa.
Pelaku usaha Negeri Paman Sam bahkan memuji Presiden Donald Trump atas terobosan dagang tersebut. Mereka menilai ART sebagai langkah strategis yang menguntungkan sektor pertanian, peternakan, energi, dan industri ekspor Amerika.
Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat atau United States Trade Representative (USTR) menjelaskan bahwa Indonesia menyepakati penghapusan hambatan tarif terhadap lebih dari 99 persen produk asal AS.
Langkah ini membuka pintu lebar bagi perusahaan Amerika untuk menembus pasar Indonesia secara lebih luas.
“Perjanjian bersejarah ini memperkuat kemitraan ekonomi dengan mitra utama di kawasan Indo-Pasifik serta menciptakan peluang baru bagi petani, produsen, dan pelaku usaha Amerika,” tulis USTR dalam pernyataan resminya, Jumat (27/2/2026).
Presiden National Cattlemen’s Beef Association (NCBA), Gene Copenhaver, menyatakan perjanjian ini memberi keuntungan besar bagi produsen daging sapi Amerika.
Menurutnya, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia sekaligus pasar daging halal terbesar secara global.
“Kesepakatan ini membuka peluang meningkatkan profitabilitas peternak sapi Amerika,” ujar Copenhaver.
Ia juga mengapresiasi peran Trump dan Duta Besar Perdagangan AS Jamieson Greer dalam mewujudkan perjanjian tersebut.
Presiden dan CEO US Meat Export Federation (USMEF), Dan Halstrom, menyebut ART menghapus banyak hambatan yang selama ini menghalangi ekspor daging AS ke Indonesia.
Ia menilai kesepakatan ini memungkinkan konsumen Indonesia memperoleh akses yang lebih stabil terhadap daging sapi Amerika untuk pertama kalinya.
Perjanjian tersebut juga memuat komitmen pembelian tahunan sebesar 50.000 metrik ton. USMEF memperkirakan nilai ekspor bisa mencapai US$400 juta hingga US$500 juta dalam waktu dekat setelah implementasi penuh.
Selain daging sapi, Halstrom menyoroti peluang besar bagi ekspor daging babi AS. Selama ini, Indonesia membatasi impor produk tersebut melalui sistem perizinan dan persetujuan pabrik.
Melalui ART, hambatan tersebut hilang. Kondisi ini membuka jalan bagi pertumbuhan ekspor daging babi AS, termasuk produk olahan lanjutan.
Dari sektor energi, CEO Growth Energy Emily Skor menyebut kerja sama dagang baru ini memberi harapan segar bagi pertanian dan energi terbarukan Amerika.
Ia menjelaskan bahwa penerapan campuran etanol 10 persen secara nasional di Indonesia dapat membuka pasar hingga 900 juta galon bagi produsen AS.
“Ada peningkatan permintaan global untuk biofuel rendah karbon, dan Amerika berada pada posisi kuat untuk memimpin pasar tersebut,” kata Skor.
Presiden dan CEO Renewable Fuels Association, Geoff Cooper, menegaskan Indonesia telah lama menjadi pasar prioritas bagi etanol AS.
Ia memperkirakan kebutuhan etanol Indonesia bisa mencapai sekitar 1 miliar galon jika kebijakan campuran etanol 10 persen diterapkan secara nasional.
“Kami berharap bisa bekerja sama dengan pemerintah Indonesia agar kebijakan impor memberi ruang bagi produksi dalam negeri sekaligus memungkinkan etanol AS menutup kekurangan pasokan,” ujarnya.
Perjanjian ART menunjukkan arah baru hubungan dagang Indonesia–Amerika Serikat. Dari sudut pandang pengusaha AS, kesepakatan ini membuka peluang besar di sektor pangan, peternakan, dan energi.
Dengan akses pasar yang lebih luas dan penghapusan hambatan tarif, Amerika Serikat kini memandang Indonesia sebagai mitra strategis utama di kawasan Indo-Pasifik sekaligus pasar masa depan bagi produk ekspornya. (**)
Tidak ada komentar