x Pulau Seribu Asri

8 Tanda Seseorang Tidak Dapat Dipercaya Menurut Psikologi

waktu baca 4 menit
Jumat, 27 Feb 2026 23:12 15 Arthur

Viralterkini.id – Kepekaan membaca sinyal psikologis membantu kamu menghindari hubungan yang tidak sehat dengan orang yang sulit dipercaya. Psikologi menegaskan bahwa kepercayaan tumbuh dari konsistensi perilaku, bukan dari kata-kata manis semata.

Saat kamu memahami pola psikologis seseorang, kamu dapat menilai karakter mereka secara lebih objektif.

Sejumlah kajian psikologi menyebutkan bahwa orang yang tidak dapat dipercaya hampir selalu menunjukkan tanda-tanda tertentu dalam sikap dan cara berinteraksi.

Berikut delapan tanda yang perlu kamu waspadai.

Ceritanya Sering Berubah-ubah

Perhatikan ketika seseorang menceritakan peristiwa yang sama tetapi versinya terus berganti dari waktu ke waktu. Perubahan ini sering muncul sebagai upaya tidak sadar untuk membentuk citra diri yang lebih baik di mata orang lain.

Psikologi menyebut pola ini sebagai manajemen kesan, yaitu kecenderungan mengubah fakta agar terlihat lebih menarik atau lebih benar. Semua orang melakukannya sesekali, tetapi jika inkonsistensi terus berulang, kamu patut meningkatkan kewaspadaan.

Jika seseorang sering menyangkal ucapannya sendiri atau langsung defensif saat kamu meminta klarifikasi, itu menjadi sinyal bahaya yang jelas.

Terlalu Menekankan Bahwa Dirinya Jujur

Orang yang benar-benar dapat dipercaya jarang merasa perlu mengumumkan kejujurannya. Sebaliknya, orang manipulatif sering berkata, “Aku hanya jujur,” atau “Aku tidak akan bohong padamu.”

Riset tentang kebohongan menunjukkan bahwa pembohong memakai lebih banyak kalimat penegas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Semakin keras seseorang menegaskan kejujurannya, semakin besar alasanmu untuk bersikap kritis.

Pepatah lama menggambarkan hal ini dengan tepat: jika seseorang terus menyebut dirinya baik, kemungkinan besar ia sedang menutupi sesuatu.

Menghindari Tanggung Jawab atas Kesalahan

Orang yang dapat dipercaya mengakui kesalahan tanpa menyalahkan pihak lain. Mereka belajar dari kekeliruan dan berusaha memperbaiki diri.

Sebaliknya, orang yang sulit dipercaya akan menyalahkan keadaan, orang lain, atau bahkan memilih diam ketika kesalahan terungkap. Dalam psikologi, pola ini berkaitan dengan locus of control eksternal, yaitu keyakinan bahwa semua masalah berasal dari luar dirinya.

Kalimat seperti “Ini bukan salahku” atau “Kamu yang membuat aku seperti ini” menjadi ciri khas orang yang menolak tanggung jawab.

Terlalu Menawan di Awal Pertemuan

Pesona memang bisa menarik, tetapi kamu perlu waspada ketika seseorang menunjukkan kehangatan berlebihan sejak awal. Peneliti menyebut strategi ini sebagai ingratiation, yaitu usaha memperoleh simpati melalui sanjungan dan keramahan yang dibuat-buat.

Manipulator dan narsisis sering meniru minatmu, memujimu secara ekstrem, dan terlihat sangat memahami dirimu dalam waktu singkat. Mereka membangun kepercayaan secara instan padahal hubungan belum memiliki dasar yang kuat.

Kedekatan yang sehat tumbuh perlahan, bukan melalui ledakan emosi yang terlalu cepat.

Empatinya Terasa Palsu

Empati tulus terlihat dari kepedulian yang konsisten, bukan hanya dari kata-kata manis. Kamu bisa mengenalinya dari cara seseorang bereaksi ketika situasi tidak menguntungkan bagi mereka.

Apakah mereka hadir saat kamu kesulitan, atau hanya muncul ketika mereka membutuhkan sesuatu? Apakah mereka mendengarkan ceritamu dengan sungguh-sungguh, atau justru mengalihkan topik agar pembicaraan kembali berpusat pada diri mereka?

Hubungan sehat membutuhkan timbal balik emosional, di mana kedua pihak saling peduli dan memberi ruang untuk didengar.

Suka Menggosip dan Membicarakan Orang Lain

Seseorang yang mudah membicarakan keburukan orang lain kemungkinan besar akan melakukan hal yang sama tentangmu saat kamu tidak ada.

Dari sudut pandang psikologi, gosip sering berfungsi sebagai alat untuk menaikkan status sosial atau memengaruhi opini orang lain. Kebiasaan ini mencerminkan kurangnya integritas dan rasa aman dalam diri seseorang.

Cara seseorang berbicara tentang orang yang tidak hadir menunjukkan karakter aslinya.

Tidak Selaras antara Nilai dan Tindakan

Kamu mungkin pernah bertemu orang yang mengaku menjunjung kejujuran atau loyalitas, tetapi perilakunya justru berlawanan. Psikologi menyebut kondisi ini sebagai disonansi kognitif, yaitu ketidaksesuaian antara keyakinan dan tindakan.

Contohnya, seseorang mengaku membenci drama tetapi terus memicu konflik, atau seseorang mengaku menjunjung transparansi tetapi menyembunyikan hal penting.

Orang yang dapat dipercaya menyelaraskan kata dan perbuatannya, bahkan saat itu terasa tidak nyaman.

Kamu Merasa Tidak Nyaman di Dekatnya

Insting sering bekerja lebih cepat daripada pikiran sadar. Penelitian menunjukkan bahwa otak emosional mampu menangkap isyarat halus seperti perubahan nada suara, bahasa tubuh, atau ekspresi wajah yang tidak selaras.

Rasa tidak nyaman yang muncul saat berinteraksi dengan seseorang bisa menjadi sinyal bahwa bawah sadarmu mendeteksi ketidaktulusan. Intuisi bukanlah hal magis, melainkan hasil pengenalan pola yang bekerja secara otomatis.

Jika perasaanmu terus memberi peringatan, dengarkan dengan serius.

Pentingnya Mengenali Pola Sejak Dini

Mengenali tanda-tanda orang yang tidak dapat dipercaya bukan untuk menumbuhkan rasa curiga berlebihan, melainkan untuk melindungi diri dari hubungan yang merugikan.

Kepercayaan tumbuh dari konsistensi, tanggung jawab, empati, dan keselarasan antara ucapan dan tindakan. Saat kamu melihat pola yang berlawanan, kamu berhak menjaga jarak demi kesehatan emosionalmu sendiri.

Dengan memahami psikologi perilaku ini, kamu dapat membangun relasi yang lebih sehat, jujur, dan aman di masa depan. (**)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INSTAGRAM

18 hours ago
19 hours ago
19 hours ago
19 hours ago
19 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri