x Pulau Seribu Asri

Denda di Panggung Asia Lebih Mahal Dari Yang Kita Bayangkan

waktu baca 3 menit
Jumat, 27 Feb 2026 08:19 35 Arthur

Viralterkini.id – Keikutsertaan wakil Indonesia di kompetisi Asia selalu menghadirkan rasa bangga. Musim ini, dua klub tampil membawa nama bangsa, termasuk Persib Bandung yang mampu melangkah hingga babak 16 besar AFC Champions League Two dan berhadapan dengan Ratchaburi FC.

Di leg kedua yang digelar di Bandung, Persib memang menang 1–0. Namun secara agregat, hasil tersebut belum cukup untuk memastikan tiket ke babak berikutnya. Sayangnya, cerita pertandingan tidak berhenti pada skor akhir. Kekecewaan terhadap kepemimpinan wasit memicu kegaduhan di akhir laga—mulai dari pelemparan botol, pitch invasion, hingga perusakan fasilitas.

Di sinilah persoalan sebenarnya bermula. Bukan lagi soal taktik atau efektivitas penyelesaian akhir, melainkan soal konsekuensi. Ketika insiden seperti ini masuk dalam radar penilaian disiplin konfederasi Asia, harga yang harus dibayar jauh lebih mahal dari sekadar kekecewaan semalam.

Standar Asia, Konsekuensi Global
Di kompetisi domestik, pelanggaran suporter berada di bawah kewenangan Komite Disiplin PSSI. Dalam beberapa musim terakhir, denda untuk kasus pelemparan benda, flare, atau masuknya penonton ke lapangan umumnya berada di kisaran Rp50 juta hingga Rp250 juta, tergantung tingkat pelanggaran dan unsur pengulangan.

Nominal itu tentu bukan angka kecil. Namun ketika berbicara tentang kompetisi Asia, skalanya berbeda.

Seluruh pertandingan berada di bawah yurisdiksi Asian Football Confederation (AFC). Dalam sejumlah kasus sebelumnya, klub-klub Indonesia pernah menerima denda sebesar USD 5.000 hingga USD 25.000 untuk pelanggaran seperti pitch invasion, flare, atau kegagalan mengendalikan suporter.

Jika dikonversi dengan asumsi kurs Rp15.500 per dolar AS:
USD 5.000 ≈ Rp77,5 juta
USD 10.000 ≈ Rp155 juta
USD 25.000 ≈ Rp387,5 juta

Artinya, satu insiden saja berpotensi mendekati Rp400 juta. Itu belum termasuk kemungkinan sanksi tambahan seperti laga tanpa penonton atau pembatasan kapasitas stadion jika pelanggaran dinilai berat atau berulang.

Perbedaannya bukan hanya pada angka. Di level Asia, setiap keputusan disiplin terdokumentasi dalam sistem kompetisi internasional. Sorotannya lintas negara. Reputasi klub dan federasi ikut menjadi taruhan.

Denda Bukan Sekadar Angka
Sering kali kita melihat denda sebagai konsekuensi finansial semata—sebuah pos pengeluaran tak terduga dalam laporan keuangan klub. Padahal, maknanya lebih dalam dari itu.

Ketika klub tampil di Asia, mereka tidak hanya membawa lambang di dada. Mereka membawa nama liga dan negara. Setiap insiden menjadi catatan resmi di level konfederasi. Dalam konteks itu, tindakan emosional sesaat bukan hanya merugikan klub, tetapi juga mencoreng wajah sepak bola Indonesia di mata publik internasional.

Dana ratusan juta rupiah yang berpotensi melayang sebagai denda sejatinya bisa dialokasikan untuk investasi jangka panjang: perbaikan infrastruktur stadion, peningkatan sistem keamanan, penguatan akademi, hingga program edukasi suporter. Itu semua berdampak nyata terhadap daya saing klub.

Sebaliknya, pelemparan botol atau aksi turun ke lapangan tidak mengubah hasil pertandingan. Tidak membalikkan agregat skor. Tidak mengembalikan peluang yang hilang. Yang tersisa hanyalah kerugian finansial dan citra yang tercoreng.

Naik Kelas atau Tertinggal
Kompetisi Asia menuntut standar lebih tinggi dalam hal pengamanan, pengendalian penonton, dan tanggung jawab tuan rumah. Apa yang mungkin masih sering dianggap “biasa” di liga domestik akan dinilai dengan kacamata berbeda dalam konteks internasional.

Karena itu, budaya tertib tidak bisa menunggu sampai klub lolos ke Asia. Ia harus dibangun dari rumah sendiri—di setiap pertandingan liga domestik. Disiplin adalah fondasi profesionalisme.

Sepak bola Indonesia sedang berproses menuju tata kelola yang lebih baik. Wakil kita di Asia adalah cerminan dari kualitas itu. Jika ingin dihormati, maka standar perilaku di stadion pun harus naik kelas.

Dukungan militan adalah kebanggaan. Atmosfer bergelora adalah kekuatan. Namun kedewasaan dalam bersikap adalah investasi.

Sebab pada akhirnya, harga sebuah pelanggaran di panggung Asia tidak hanya dihitung dalam dolar. Ia dihitung dalam reputasi, kredibilitas, dan masa depan sepak bola Indonesia itu sendiri.

Opini : M Ary Kristianto (Mantan Media PT. Liga Indonesia & PSSI)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INSTAGRAM

4 hours ago
4 hours ago
4 hours ago
4 hours ago
4 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri