
Viralterkini.id, Jakarta – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mendorong perubahan besar dalam dunia kerja. Di tengah transformasi tersebut, fungsi Human Resources (HR) tidak lagi hanya bertugas merekrut dan mengelola tenaga kerja, tetapi dituntut menjadi mitra strategis yang mampu membantu perusahaan menyiapkan organisasi menghadapi perubahan bisnis.
Perubahan peran tersebut menjadi sorotan dalam episode terbaru Power Talks yang diselenggarakan Jobstreet by SEEK bersama CEO & AI Transformation Architect PEEPL, Kevin Thompson. Diskusi tersebut menekankan bahwa keberhasilan transformasi AI tidak hanya bergantung pada adopsi teknologi, tetapi juga pada kesiapan perusahaan membangun strategi pengelolaan sumber daya manusia yang berorientasi jangka panjang.
Menurut Kevin, langkah pertama yang harus dilakukan perusahaan adalah mengubah pendekatan dalam strategic workforce planning. Perencanaan tenaga kerja tidak lagi cukup dilakukan ketika terjadi kekosongan posisi, melainkan harus disusun berdasarkan visi perusahaan, arah pertumbuhan bisnis, serta kompetensi yang dibutuhkan di masa depan.
“HR harus mampu membaca ke mana bisnis akan bergerak, lalu menyiapkan talenta yang mendukung arah tersebut. Inilah yang membedakan HR administratif dengan HR yang benar-benar strategis,” ujarnya.
Selain itu, perusahaan perlu memiliki pemetaan yang jelas terhadap keterampilan yang dimiliki karyawan serta kompetensi baru yang akan dibutuhkan di era AI. Dengan memahami kondisi tersebut, perusahaan dapat menentukan langkah pengembangan SDM maupun kebutuhan perekrutan secara lebih akurat sehingga investasi pada talenta menjadi lebih efektif.
Kevin juga menilai strategi pengembangan SDM tidak dapat lagi bergantung sepenuhnya pada perekrutan tenaga kerja baru. Perusahaan perlu mengombinasikan rekrutmen eksternal dengan program peningkatan kompetensi bagi karyawan yang sudah ada agar mampu beradaptasi terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan bisnis.
Dalam pemanfaatan AI, Kevin menegaskan bahwa teknologi bukan pengganti manusia, melainkan alat untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan. AI mampu membantu perusahaan mengolah data dari berbagai sistem, seperti HRIS maupun Learning Management System (LMS), sehingga menghasilkan analisis yang lebih cepat dan komprehensif.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa keputusan strategis tetap harus berada di tangan manusia.
“AI bukan untuk menggantikan manusia. Tapi AI akan menggantikan manusia yang tidak menggunakan AI,” kata Kevin Thompson.
Ia menambahkan bahwa etika tetap menjadi aspek yang tidak dapat digantikan oleh kecerdasan buatan.
“Satu hal yang tidak bisa digantikan oleh AI adalah etika. AI dapat memberikan data dan insight yang lebih baik, tetapi keputusan tetap membutuhkan pertimbangan manusia,” ujarnya.
Kevin juga menyarankan perusahaan agar tidak menunda transformasi AI karena menunggu kesiapan yang sempurna. Menurutnya, implementasi dapat dimulai melalui proyek berskala kecil di satu fungsi atau departemen sebelum diperluas ke seluruh organisasi. Pendekatan bertahap tersebut memungkinkan perusahaan memperoleh pembelajaran sekaligus meminimalkan risiko dalam proses transformasi.
Sementara itu, Head of Country Marketing Jobstreet by SEEK Indonesia, Sawitri, mengatakan perkembangan AI justru memperkuat pentingnya peran strategis HR dalam organisasi. Menurutnya, profesional HR kini dituntut mampu menghubungkan kebutuhan bisnis, pengelolaan talenta, pemanfaatan teknologi, hingga pengambilan keputusan yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan.
“Masa depan ketenagakerjaan harus memanfaatkan teknologi secara maksimal, tetapi tetap mengedepankan aspek manusia. AI dapat membantu mempercepat proses dan menghasilkan insight yang lebih baik, namun kepemimpinan, komunikasi, empati, dan judgment tetap menjadi faktor yang menentukan kualitas sebuah keputusan,” ujar Sawitri.
Ia menambahkan, transformasi HR di era AI bukan sekadar mengadopsi teknologi baru, melainkan membangun organisasi yang lebih adaptif melalui kombinasi data, inovasi digital, dan pengembangan kompetensi manusia. Pendekatan tersebut dinilai menjadi kunci bagi perusahaan untuk menjaga daya saing sekaligus menghadapi dinamika dunia kerja yang terus berubah.(DP)