Anggota DPRD Provinsi Maluku Utara, dr. Haryadi Ahmad, memberikan orasi dalam pembukaan Intermediate Training (LK II) Nasional HMI Cabang Ternate. Foto: Supriansah Nurdin
Viralterkini.id, TERNATE – Eksistensi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai kawah candradimuka kepemimpinan nasional sangat bergantung pada konsistensi perkaderan yang berkualitas. Dalam sebuah forum akademik formal, Sekretaris Komisi V DPRD Provinsi Maluku Utara, dr. Haryadi Ahmad, menegaskan bahwa training bukan sekadar rutinitas organisasi, melainkan konstitusi hidup yang menjadi roh bagi keberlanjutan peradaban bangsa.
Pernyataan tersebut disampaikan dr. Haryadi saat memberikan orasi dalam pembukaan rangkaian kegiatan nasional yang diselenggarakan HMI Cabang Ternate, Rabu (22/04/2026).
Agenda besar ini mencakup Intermediate Training (LK II) Tingkat Nasional, Latihan Kader Kohati (LKK), serta Senior Course (SC), dengan mengusung tema sentral: “Trajectory Ecocracy: Intervensi HMI Menuju Masyarakat Cita.”

Legislator dr. Haryadi Ahmad menekankan bahwa HMI memiliki mekanisme internal yang unik dalam mendesain karakter kadernya.
Menurut beliau, setiap jenjang pelatihan, mulai dari Basic Training (LK I), Intermediate Training (LK II), hingga Advance Training (LK III), merupakan urat nadi yang menjaga organisasi tetap relevan di tengah disrupsi zaman yang kian kompleks.
“Training pada HMI adalah roh dari organisasi. Agar HMI selalu eksis dan memberikan warna bagi arah bangsa, maka proses pengaderan harus terus berjalan dinamis dan berkualitas. Tanpa itu, organisasi hanya akan menjadi cangkang kosong tanpa substansi intelektual,” ujar politisi muda Partai Bulan Bintang (PBB) tersebut.
Kapasitas dr. Haryadi dalam membedah anatomi organisasi ini berakar pada rekam jejaknya yang panjang di level pusat.
Pengalaman beliau saat menjabat sebagai Direktur Keuangan Badan Koordinasi Nasional Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (Bakornas LKMI) Pengurus Besar HMI, memberikan perspektif mendalam bahwa profesionalisme organisasi dan kematangan kepemimpinan hanya bisa lahir dari disiplin perkaderan yang terukur.

Lebih jauh, legislator Maluku Utara ini mengingatkan bahwa predikat “lulus” dari sebuah pelatihan nasional memikul beban moral yang tidak ringan.
Ia menyoroti bahwa pengembangan kapasitas (capacity building) tidak boleh berhenti di ruang-ruang diskusi, melainkan harus bertransformasi menjadi solusi nyata di tengah masyarakat.
“Setiap kader yang dinyatakan lulus mempunyai beban dan tanggung jawab untuk mampu mengimplementasikan setiap ilmu yang diterima selama training. Masyarakat tidak membutuhkan teori yang mengendap, mereka membutuhkan intervensi nyata dari kader-kader yang memiliki kecakapan intelektual dan kepedulian sosial,” tegas dr. Haryadi.
Di akhir orasinya, dr. Haryadi Ahmad mendorong HMI Cabang Ternate untuk terus menjadi motor penggerak dalam mencetak stok pemimpin berintegritas.

Melalui tema Ecocracy, ia berharap kader HMI mampu mengintervensi kebijakan publik yang berbasis pada keadilan lingkungan dan kesejahteraan umat.
”Kita sedang menyiapkan pemimpin masa depan melalui agenda training yang berkelanjutan. Dari forum-forum seperti inilah, calon pemimpin Maluku Utara dan Indonesia dilahirkan untuk menjawab tantangan peradaban,” pungkasnya.
Kegiatan yang dihadiri oleh utusan kader dari berbagai cabang se-Indonesia ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan intelektual mahasiswa di wilayah Timur Indonesia, sekaligus mempertegas posisi Ternate sebagai salah satu episentrum pengaderan nasional yang disegani. (Dano)