Wakil Presiden ke-10 dan 12 RI, Jusuf Kalla, menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh agama dan organisasi keagamaan, termasuk perwakilan Islam dan Kristen dari wilayah Poso dan Maluku, di Jakarta, Selasa (21/4/2026). Foto : JK Viralterkini.id, JAKARTA — Wakil Presiden ke-10 dan 12 RI, Jusuf Kalla, menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh agama dan organisasi keagamaan, termasuk perwakilan Islam dan Kristen dari wilayah Poso dan Maluku, di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Pertemuan tersebut menjadi forum konsolidasi guna merespons maraknya penyebaran informasi yang dinilai menyesatkan dan berpotensi memecah belah masyarakat.
Dalam keterangannya, JK menyampaikan bahwa para tokoh yang hadir sepakat menegaskan pentingnya menjaga persatuan di tengah derasnya arus informasi yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan. Ia menilai berbagai tudingan yang beredar belakangan ini cenderung tidak berdasar dan perlu diluruskan secara terbuka.

“Pernyataan seperti itu tidak bisa dibiarkan. Harus ada pemahaman yang benar agar masyarakat tidak terpengaruh oleh informasi yang keliru,” ujar JK kepada awak media.
Menurutnya, sejumlah klaim yang muncul di ruang publik kerap disampaikan secara sepihak tanpa dukungan fakta yang jelas. Bahkan, berkembang narasi yang menyebut adanya perintah dari pihak tertentu, yang justru memperkeruh situasi dan memicu kegaduhan.
JK juga mengungkapkan bahwa beberapa pihak yang sempat disebut dalam isu tersebut telah memberikan klarifikasi dan membantah tudingan yang beredar. Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Lebih lanjut, ia mendorong peran aktif tokoh agama dan elemen masyarakat dalam memberikan edukasi kepada publik. Upaya sosialisasi dinilai penting untuk membangun pemahaman yang utuh, dengan memanfaatkan berbagai saluran komunikasi, termasuk media massa dan media sosial.
“Tujuannya jelas, agar masyarakat tidak terprovokasi dan tidak terpecah oleh fitnah yang beredar,” tegasnya.
Terkait kemungkinan langkah hukum, JK menyerahkan sepenuhnya kepada pihak yang merasa dirugikan. Ia menyebut sejumlah kelompok dari Maluku dan Sulawesi telah menyatakan keberatan atas isu yang berkembang dan tengah mempertimbangkan jalur hukum sebagai respons.
Di sisi lain, penelusuran terhadap sumber informasi juga tengah dilakukan dengan melibatkan aparat kepolisian serta ahli teknologi informasi. Penelusuran difokuskan pada jejak digital dari konten yang beredar, termasuk dugaan manipulasi atau penyisipan informasi tertentu.
“Semua sedang ditelusuri melalui jejak digital. Kami ingin mengetahui siapa yang pertama kali menyebarkan dan apa motif di baliknya,” kata JK.
Melalui langkah-langkah tersebut, diharapkan kebenaran dapat segera terungkap sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. (ma)