Viralterkini.id, JAKARTA — Persoalan tentang jejak manusia, cara melihat realitas, hingga kebutuhan untuk berkomunikasi menjadi bagian dari eksplorasi karya para seniman dalam ajang 16th UOB Painting of the Year (POY) Indonesia.
Tahun ini, penghargaan kategori Established Artist diberikan kepada Begok Oner melalui karya “Urban Realism Layers”, sementara Alif Lamra meraih penghargaan Most Promising Artist of the Year kategori Emerging Artist lewat karya “Liminal Fragment 03”.
Kedua karya tersebut menawarkan pendekatan berbeda dalam membaca pengalaman manusia. Oner berangkat dari jejak yang ditinggalkan manusia pada ruang publik, sedangkan Lamra mengeksplorasi hubungan antara lanskap, persepsi, dan ketidakpastian.
“Urban Realism Layers” memadukan gambar, kata-kata, dan tekstur berlapis yang mengingatkan pada permukaan dinding ruang publik. Oner menggunakan semen plester untuk menciptakan efek relief sekaligus menghadirkan kesan bahwa berbagai cerita, tanda, dan pengalaman manusia terus bertumpuk dari waktu ke waktu.

Pendekatan tersebut tidak berhenti pada konteks kehidupan perkotaan. Oner menghubungkan bahasa visual kontemporer dengan tradisi seni cadas prasejarah, termasuk lukisan gua Lascaux di Prancis dan situs seni cadas kuno di Sulawesi Selatan.
Hubungan antara masa lalu dan masa kini menjadi dasar gagasan Oner mengenai kebutuhan manusia untuk berkomunikasi. Menurut dia, meskipun medium komunikasi terus berubah, dorongan untuk mengekspresikan pengalaman dan terhubung dengan orang lain tetap bertahan.
“Ketika melihat jejak yang ditinggalkan manusia ribuan tahun lalu, saya melihat sesuatu yang sebenarnya masih sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini. Kita terus mencari cara untuk mengungkapkan apa yang kita alami, apa yang kita yakini, dan siapa diri kita,” ujar Oner.

Penghargaan tersebut juga menandai perkembangan perjalanan artistik Oner. Pada 2023, ia sebelumnya meraih penghargaan Most Promising Artist of the Year dalam kategori Emerging Artist.
Sementara itu, karya Alif Lamra, “Liminal Fragment 03”, bergerak pada persoalan yang berbeda. Seniman berusia 29 tahun asal Yogyakarta itu menghadirkan karya monokromatik yang menampilkan fragmen laut, langit, cahaya, dan bayangan.
Lanskap dalam karya Lamra terlihat familiar, tetapi pada saat yang sama menyisakan ketidakpastian. Fragmentasi tersebut digunakan untuk mengeksplorasi bagaimana manusia memandang dan memahami ruang di sekitarnya.
Lamra banyak mengembangkan praktik artistik melalui objek dan ruang dalam kondisi transisi. Sesuatu yang awalnya terlihat familiar dapat perlahan berubah menjadi tidak pasti dan membuka kemungkinan interpretasi yang berbeda.
Pendekatan kedua seniman tersebut menjadi bagian dari penilaian dewan juri yang terdiri atas Melati Suryodarmo sebagai Chief Judge, Dr Agung Hujatnika, kurator seni independen dan dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, serta Heri Pemad, pendiri Art Jog, Artina, dan Art Bali.
Melati mengatakan karya Oner menunjukkan perkembangan gagasan artistik yang mampu bergerak dari pengalaman visual personal menuju pembahasan yang lebih luas mengenai pengalaman manusia.
“Oner telah membangun karakter artistik yang khas, yang memungkinkan masa lalu dan masa kini hadir berdampingan secara halus namun kuat,” kata Melati.
Ruang Pertemuan Seni dan Masyarakat
President Director UOB Indonesia, Hendra Gunawan, mengatakan seni memiliki kemampuan untuk mempertemukan manusia dari latar generasi, budaya, dan perspektif yang berbeda.
“Seni memiliki kemampuan yang unik untuk menghubungkan manusia lintas generasi, budaya, dan perspektif. Sebagai bagian dari komitmen jangka panjang kami terhadap seni, kami senang dapat kembali merayakan 16th UOB Painting of the Year sekaligus menyediakan wadah bagi para seniman untuk mengembangkan praktik berkesenian dan menjangkau audiens yang lebih luas,” ujar Hendra.
Menurut Hendra, karya para pemenang tahun ini menunjukkan keberagaman talenta seni Indonesia sekaligus memperlihatkan peran seni dalam membentuk cara masyarakat melihat dan memahami dunia.
“Selamat kepada Begok Oner, Alif Lamra, dan seluruh pemenang tahun ini. Karya-karya mereka mencerminkan kekayaan dan keberagaman talenta seni Indonesia, serta peran penting seni dalam membentuk cara kita melihat dan memahami dunia,” katanya.
Selain penghargaan, UOB Painting of the Year juga memberikan kesempatan bagi karya seniman Indonesia untuk memasuki ruang pamer dan jaringan seni yang lebih luas di kawasan Asia Tenggara.
Sebagai pemenang kategori Established Artist, Oner memperoleh hadiah uang tunai Rp250 juta. Karyanya selanjutnya akan mengikuti kompetisi UOB Southeast Asian POY bersama karya pemenang dari Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
Pemenang tingkat Asia Tenggara dijadwalkan diumumkan di Singapura pada 28 Oktober 2026. Oner juga berkesempatan mengikuti program residensi seni di luar negeri yang disponsori UOB.
Dukungan terhadap seniman juga dilakukan melalui pameran regional dan UOB Artist Alumni Network. Program tersebut diarahkan untuk memperluas jejaring dan kesempatan eksposur bagi seniman setelah mengikuti kompetisi.

Di Jakarta, sebanyak 48 karya finalis 16th UOB POY Indonesia, termasuk delapan karya pemenang, dipamerkan di The Melting Pot, Lantai Dasar ASHTA District 8.
Pameran berlangsung mulai 24 September hingga 10 Oktober 2026 dan terbuka untuk umum setiap hari pukul 10.00–22.00 WIB.
Pameran tersebut juga menjadi bagian dari Oktober Kreasi, kampanye nasional Kementerian Ekonomi Kreatif yang berlangsung sepanjang Oktober untuk merayakan perkembangan serta keberagaman subsektor ekonomi kreatif Indonesia.
Kompetisi UOB Painting of the Year pertama kali diselenggarakan di Singapura pada 1982 dan hadir di Indonesia sejak 2011. Perjalanan kompetisi tersebut menunjukkan semakin luasnya ruang bagi seniman Indonesia untuk memperkenalkan gagasan dan karya mereka, sekaligus mempertemukan berbagai perspektif dalam perkembangan seni rupa kontemporer.
Pada akhirnya, karya-karya yang ditampilkan tahun ini memperlihatkan bahwa seni tidak selalu hadir untuk memberikan jawaban. Sebaliknya, karya seni dapat membuka ruang bagi publik untuk mempertanyakan kembali bagaimana manusia melihat dirinya, lingkungan, pengalaman, serta jejak yang ditinggalkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.(DP)