Viralterkini.id, JAKARTA — Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) mulai mendapat perhatian di tengah pertumbuhan pasar kendaraan elektrifikasi di Indonesia. Teknologi yang menggabungkan motor listrik dan mesin pembakaran internal ini menawarkan pilihan bagi konsumen yang ingin memanfaatkan tenaga listrik untuk perjalanan sehari-hari tanpa sepenuhnya bergantung pada infrastruktur pengisian daya.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menunjukkan, distribusi kendaraan elektrifikasi yang mencakup Battery Electric Vehicle (BEV), Hybrid Electric Vehicle (HEV), dan PHEV mencapai 175.144 unit sepanjang 2025, meningkat dari 103.228 unit pada 2024.
Pangsa ketiga kategori tersebut terhadap total distribusi mobil baru nasional juga meningkat dari 11,9 persen menjadi sekitar 21,8 persen.
Di tengah pertumbuhan tersebut, PHEV mencatat kenaikan distribusi yang cukup signifikan, dari 136 unit pada 2024 menjadi 5.270 unit pada 2025. Meski demikian, jumlah tersebut masih relatif kecil dibandingkan total pasar kendaraan elektrifikasi di Indonesia.

Perkembangan ini memperlihatkan semakin beragamnya pilihan teknologi yang tersedia bagi konsumen. Namun, sebelum menentukan pilihan, calon pembeli perlu memahami perbedaan cara kerja setiap jenis kendaraan elektrifikasi serta kesesuaiannya dengan kebutuhan mobilitas sehari-hari.
Kendaraan elektrifikasi memiliki karakteristik berbeda, terutama dalam penggunaan sumber tenaga dan kebutuhan pengisian daya.
Battery Electric Vehicle (BEV) sepenuhnya mengandalkan motor listrik dengan energi yang tersimpan dalam baterai. Baterai tersebut diisi melalui sumber listrik eksternal, seperti fasilitas pengisian daya di rumah atau stasiun pengisian kendaraan listrik umum.
Sementara itu, Hybrid Electric Vehicle (HEV) menggabungkan mesin pembakaran internal dan motor listrik. Baterainya diisi melalui sistem kendaraan, termasuk pemanfaatan energi dari pengereman regeneratif, sehingga tidak memerlukan pengisian daya eksternal.
Adapun PHEV menggabungkan kedua sumber tenaga tersebut dengan baterai yang dapat diisi melalui sumber listrik eksternal. Kapasitas baterainya umumnya memungkinkan kendaraan menempuh jarak tertentu menggunakan tenaga listrik sebelum mesin konvensional mengambil peran sesuai kebutuhan sistem.
Ichsan Aria Putra, Product Expert PT Sokonindo Automobile, mengatakan salah satu hal yang perlu dipahami konsumen adalah perbedaan mendasar antara PHEV dan HEV.
Menurut dia, kemampuan mengisi baterai dari sumber listrik eksternal memungkinkan PHEV menempuh jarak lebih jauh dengan tenaga listrik dibandingkan sistem hybrid konvensional pada umumnya.
PHEV juga tetap dapat digunakan ketika daya baterai untuk berkendara listrik berkurang karena mesin konvensional dapat mendukung pengoperasian kendaraan. Meski demikian, kebiasaan mengisi daya tetap berpengaruh terhadap seberapa optimal tenaga listrik dapat dimanfaatkan.
Salah satu pertimbangan utama dalam memilih PHEV adalah kesesuaian antara kemampuan kendaraan dan pola perjalanan pemiliknya.
Untuk aktivitas rutin, seperti perjalanan menuju kantor, mengantar anak, atau mobilitas di dalam kota, pengguna dapat memanfaatkan tenaga listrik selama jarak perjalanan masih berada dalam jangkauan listrik kendaraan dan baterai memiliki daya yang cukup.
Sebagai ilustrasi, pengguna yang menempuh perjalanan harian sekitar 30–50 kilometer berpotensi mengandalkan tenaga listrik untuk sebagian besar aktivitasnya apabila jangkauan listrik kendaraan mencukupi dan baterai diisi secara rutin.
Namun, hasil aktual tetap bergantung pada kapasitas baterai, kondisi jalan, gaya berkendara, penggunaan pendingin udara, serta beban kendaraan.
Di sinilah akses pengisian daya menjadi faktor penting. Pengguna yang memiliki fasilitas pengisian daya di rumah atau tempat kerja akan lebih mudah menjaga kapasitas baterai untuk perjalanan harian.
Sebaliknya, jika baterai jarang diisi, kendaraan akan lebih sering mengandalkan mesin konvensional. Kondisi ini dapat mengurangi potensi penghematan bahan bakar yang diharapkan dari penggunaan PHEV.
Karena itu, efisiensi kendaraan plug-in hybrid tidak cukup dinilai dari kapasitas baterai atau klaim jarak tempuh. Pola penggunaan dan kedisiplinan mengisi daya turut menentukan manfaat yang dapat diperoleh pemilik kendaraan.
Kombinasi motor listrik dan mesin konvensional membuat PHEV memiliki karakter penggunaan yang berbeda dari mobil listrik murni.
Pada perjalanan jarak jauh, keberadaan mesin konvensional memberikan fleksibilitas tambahan ketika pengisian daya eksternal tidak tersedia atau sulit dijangkau. Pengemudi tidak sepenuhnya bergantung pada keberadaan stasiun pengisian kendaraan listrik di sepanjang rute.
Meski demikian, bukan berarti PHEV selalu lebih efisien untuk semua jenis perjalanan. Ketika baterai tidak terisi secara optimal, konsumsi bahan bakar dapat meningkat dibandingkan kondisi penggunaan yang memaksimalkan tenaga listrik.
Karakteristik tersebut membuat PHEV perlu dinilai berdasarkan kebutuhan masing-masing konsumen. Pengguna dengan rutinitas harian yang teratur dan akses pengisian daya memadai berpotensi memperoleh manfaat lebih besar dari kemampuan berkendara listriknya.
Sementara itu, konsumen yang lebih sering menempuh perjalanan jauh perlu mempertimbangkan konsumsi bahan bakar, kapasitas tangki, karakter sistem hybrid, dan biaya operasional kendaraan secara keseluruhan.
Pada kendaraan PHEV modern, pengelolaan perpindahan tenaga listrik dan mesin konvensional umumnya dilakukan secara otomatis oleh sistem kendaraan. Beberapa model juga menyediakan pilihan mode berkendara untuk mengatur prioritas penggunaan sumber tenaga.
Pada DFSK E5 Plus, misalnya, tersedia mode Force EV, Prefer EV, dan Smart. Ketiganya memiliki pendekatan pengelolaan tenaga yang berbeda sesuai fungsi masing-masing.
Pengguna tetap perlu memahami cara kerja setiap mode berdasarkan buku panduan kendaraan agar pemanfaatan sistem elektrifikasi sesuai dengan kondisi perjalanan.
Selain jarak tempuh, terdapat sejumlah faktor yang perlu diperhitungkan sebelum konsumen memutuskan membeli kendaraan plug-in hybrid.
Pertama, akses pengisian daya. Ketersediaan fasilitas pengisian di rumah atau tempat kerja memudahkan pengguna mengisi baterai secara rutin. Calon pembeli juga perlu mempertimbangkan kebutuhan instalasi dan biaya pengisian daya.
Kedua, pola perjalanan. Jarak perjalanan harian, frekuensi perjalanan luar kota, kondisi lalu lintas, dan ketersediaan fasilitas pengisian daya di sepanjang rute akan memengaruhi manfaat teknologi PHEV.
Ketiga, biaya kepemilikan. Perhitungan sebaiknya mencakup harga pembelian, biaya listrik dan bahan bakar, perawatan berkala, garansi baterai, serta komponen sistem elektrifikasi. Konsumen juga perlu mempertimbangkan nilai jual kembali berdasarkan kondisi pasar.
Keempat, kenyamanan dan keselamatan. Kapasitas penumpang, ruang kabin, karakter suspensi, fitur keselamatan, dan kemudahan pengoperasian tetap menjadi pertimbangan penting. Teknologi elektrifikasi tidak dengan sendirinya menjamin sebuah kendaraan lebih sesuai untuk semua pengguna.
Dengan mempertimbangkan aspek-aspek tersebut, konsumen dapat menilai apakah PHEV benar-benar sesuai dengan kebutuhan atau justru teknologi lain menawarkan solusi yang lebih praktis.
Salah satu kendaraan plug-in hybrid yang dipasarkan untuk konsumen Indonesia adalah DFSK E5 Plus. SUV ini menggunakan sistem PHEV dengan konfigurasi enam tempat duduk.
DFSK E5 Plus dibekali baterai berkapasitas 25,3 kWh. Berdasarkan pengujian dengan standar New European Driving Cycle (NEDC), kendaraan ini diklaim mampu menempuh jarak hingga 140 kilometer dalam mode listrik murni dan jarak gabungan hingga 1.400 kilometer.
Angka tersebut merupakan hasil pengujian berdasarkan standar tertentu dan tidak selalu mencerminkan kondisi penggunaan sehari-hari. Jarak tempuh aktual dapat berbeda sesuai kondisi jalan, gaya berkendara, beban kendaraan, penggunaan pendingin udara, dan faktor lainnya.
Dari sisi kabin, kendaraan ini memiliki konfigurasi enam tempat duduk dengan captain seat di baris kedua. Fitur lainnya mencakup layar hiburan belakang berukuran 15,6 inci, ventilated seats pada baris pertama dan kedua, serta teknologi bantuan pengemudi atau Advanced Driver Assistance Systems (ADAS).
Fitur bantuan pengemudi tersebut tetap memiliki batasan operasional dan tidak menggantikan kewajiban pengemudi untuk menjaga kendali serta memperhatikan kondisi jalan.
Sebagai kendaraan PHEV, E5 Plus menggabungkan kemampuan berkendara menggunakan tenaga listrik dengan dukungan mesin konvensional untuk kebutuhan perjalanan yang lebih beragam. Namun, seberapa besar manfaat efisiensi yang diperoleh tetap bergantung pada pola penggunaan dan kebiasaan pengisian daya.
Pertumbuhan pasar kendaraan elektrifikasi memberikan lebih banyak pilihan bagi konsumen Indonesia. BEV menawarkan pengalaman berkendara yang sepenuhnya menggunakan tenaga listrik, HEV menghadirkan kombinasi mesin konvensional dan motor listrik tanpa pengisian eksternal, sedangkan PHEV memberikan pilihan untuk memanfaatkan kedua sumber tenaga dengan baterai yang dapat diisi dari luar kendaraan.
Tidak ada satu teknologi yang otomatis paling sesuai untuk semua kebutuhan. Pilihan terbaik bergantung pada jarak perjalanan, akses pengisian daya, anggaran kepemilikan, serta kebiasaan berkendara.
Bagi konsumen yang ingin memanfaatkan tenaga listrik untuk mobilitas harian tetapi masih membutuhkan fleksibilitas mesin konvensional, PHEV dapat menjadi salah satu alternatif. Namun, keputusan pembelian sebaiknya didasarkan pada perhitungan biaya dan kebutuhan nyata, bukan semata-mata pada klaim jarak tempuh atau teknologi yang ditawarkan.(DP)