x Viralterkini

Thailand “Tidak Kalah”, Mereka Hanya “Tidak Juara”, Indonesia Akhirnya Juara

waktu baca 3 menit
Selasa, 6 Okt 2026 10:57 29 M Ary K

Thailand “Tidak Kalah”, Mereka Hanya “Tidak Juara”
Indonesia akhirnya juara.

Oleh: Yusuf Ibrahim – Penikmat Sepak Bola

Tak perlu mencari kalimat penghibur. Trofi itu sudah menjadi milik Indonesia. Dijilat rasanya manis.

Setelah 120 menit bermain 2-2, Timnas Indonesia menang 4-2 lewat adu penalti di GBK. Sejarah pun dibuat.

Tapi justru karena Indonesia menang dan juara, bolehlah kita sedikit menepi dari kegembiraan. Merenungi apa yang sudah dipertontonkan.

Melihat Thailand, mereka bermain dengan sepuluh pemain. Mereka sempat tertinggal. Mereka kemudian menyamakan kedudukan, bahkan berbalik unggul 2-1 lewat Peeradon Chamratsamee pada menit ke-111. Indonesia baru menyamakan kedudukan lima menit kemudian.

Dan semua itu dilakukan di GBK. Di depan lautan merah yang tentu saja tidak datang untuk memberi mereka tepuk tangan, tapi tekanan!

Thailand masa bodo. Tetap bermain dengan caranya, yang sering selalu punya cara mengalahkan Indonesia. Tetap melawan. Tetap membuat Indonesia kerepotan, seheboh apapun skuadnya saat ini.

Tim Gajah Putih itu bukan pemilik mental tim yang suka kalah. Punya karakter pembeda yang khas dengan Tim Garuda.

Thailand tidak sedang membangun tim dengan ketergantungan besar kepada pemain diaspora dan naturalisasi. Fondasi mereka masih sangat kuat pada pemain yang lahir, tumbuh dan ditempa dalam ekosistem sepak bola Thailand. Tidak seperti Indonesia saat ini.

Nama-nama seperti Supachai Chaided, Supachok Sarachat, Sarach Yooyen, Anan Yodsangwal hingga Seksan Ratree adalah wajah dari proses pembinaan itu.

Bukan berarti Thailand anti pemain keturunan atau kelahiran luar negeri. Mereka juga memiliki pemain seperti Nicholas Mickelson dan Manuel Bihr. Tetapi secara struktur, mereka tetap bertumpu pada produk pembinaan sendiri.

Indonesia memilih jalan yang berbeda. Dan itu sah. Naturalisasi bukan dosa. Sepak bola memang selalu mencari cara untuk menjadi lebih kuat selama sesuai regulasi.

Tetapi final semalam memberi kita satu pertanyaan menggelitik. Bahwa, kalau pemain-pemain yang kita datangkan dari berbagai sudut negeri Kincir Angin saja masih harus berjuang mati-matian menghadapi pemain yang sebagian besar dibesarkan oleh sistem sepak bola Thailand, sebenarnya apa yang sedang kita bangun? Bagaimana kalau kawahnya Piala Asia?

Pertanyaan itu, tentu bukan untuk mengurangi kemenangan Indonesia. Justru untuk menghargainya secara lebih dewasa. Agar lebih matang kedepannya.

Thailand adalah rival lama. Bahkan secara prestasi ASEAN dengan label AFF atau Sea Games, mereka masih berada jauh di depan. Di AFF, Tujuh gelar juara menjadi bukti. Indonesia, sejeg-bujeg sebelum final ini, belum pernah menjadi juara, walau sudah enam kali menjadi runner-up.

Maka malam tadi Indonesia menang. Thailand gagal membawa pulang trofi. Selamat kita ucapkan.

Tetapi setelah pertandingan seperti itu, rasanya kurang adil kalau kita menyebut Thailand kalah begitu saja. Tidak! Ingin rasanya mengatakan mereka hanya tidak juara.

Kemenangan dan juara Indonesia kali ini terasa sangat bernilai. Bayangkan jika semalam Indonesia kalah? Bisa-bisa tulisan ini akan berjudul; Thailand Tabalkan Kegagalan Proyek Naturalisasi Erick Thohir.

Tapi untung menang. Sekali lagi, selamat untuk Timnas Indonesia. Selamatlah Erick Thohir.

VIRAL NETWORK

VIRAL TERBARU

LAINNYA
x Viralterkini