x Viralterkini

Achsanul Qosasi: Jangan Paksa Orang Mencintai Madura, Bangun Dulu Kebanggaannya Lewat Sepak Bola

waktu baca 4 menit
Senin, 24 Agu 2026 08:10 20 M Ary K

Opini : Presiden Klub Madura United, Achsanul Qosasi

Viralterkini.id, JAKARTA — Presiden Klub Madura United, Achsanul Qosasi, melihat sepak bola bukan sekadar pertandingan 90 menit. Di balik gol, kemenangan, kekalahan, dan sorak suporter, ada kekuatan yang menurutnya jauh lebih besar: persatuan.

Bagi Achsanul, membangun kecintaan masyarakat terhadap Madura tidak bisa dilakukan dengan cara memaksa. Menurutnya, rasa cinta akan muncul ketika seseorang terlebih dahulu memiliki rasa bangga terhadap identitasnya.

Presiden klub Madura United Prof. Achsanul Qosasi.
Presiden klub Madura United Prof. Achsanul Qosasi. Foto :ist

“Jadi kita jangan paksa mereka mencintai Madura kalau mereka tidak bangga. Jadi bangga dulu, baru mereka punya rasa cinta,” ujar Achsanul.

Gagasan tersebut kemudian ia coba bangun melalui sepak bola. Baginya, sepak bola merupakan bahasa universal yang mampu mempertemukan siapa saja tanpa melihat status sosial maupun latar belakang.

“Football is unity. Sepak bola ini adalah persatuan, menyatukan kita semua,” katanya.

Menurut Achsanul, kekuatan sepak bola terletak pada kemampuannya menghapus sekat sosial. Di stadion, tukang becak bisa berdiri dalam emosi yang sama dengan pejabat. Kiai, santri, ustaz, pekerja, pengusaha, hingga masyarakat biasa dapat merasakan kegembiraan dan kekecewaan yang sama.

Mereka bisa menangis bersama, melompat bersama, berpelukan bersama, bahkan marah bersama. Semua terjadi karena satu hal: sepak bola.

Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan awal berdirinya Madura United. Klub yang diinisiasi Achsanul pada 2016 itu memang membawa visi untuk menyatukan masyarakat Pulau Madura melalui sepak bola profesional. Bahkan, identitas klub dibangun untuk merepresentasikan kebanggaan masyarakat dari empat kabupaten di Madura.

Belajar Menerima Kekalahan

Namun, bagi Achsanul, ada pelajaran lain yang tak kalah penting dari sepak bola, yakni menerima kekalahan.

Ia menilai masyarakat perlu belajar bahwa kalah bukanlah sebuah aib.

“Madura ini mengajarkan sebuah kekalahan. Itu nggak mudah. Bahwa kalah itu biasa. Itu sulit diterima oleh Madura,” ujarnya.

Menurutnya, jika kekalahan dianggap sebagai sesuatu yang memalukan, seseorang bisa terdorong melakukan berbagai cara untuk menghindari kekalahan.

Karena itu, sepak bola harus menjadi ruang pendidikan sosial. Menang boleh dirayakan, tetapi kalah juga harus diterima dengan kepala tegak.

Sebab, hidup sendiri adalah sebuah kompetisi.

“Ada yang menang, ada yang kalah, ada yang berbeda,” kata Achsanul.

Ia juga ingin masyarakat memahami bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk bermusuhan. Justru perbedaan harus dipandang sebagai sesuatu yang dapat memperkaya kehidupan.

Pesan itu menjadi penting bagi Madura yang memiliki empat wilayah dengan karakter dan identitas masing-masing. Achsanul menyadari perbedaan antarkelompok dapat menjadi persoalan jika tidak dikelola dengan baik.

Karena itu, ia ingin sepak bola menjadi ruang pertemuan. Bukan tempat untuk memperbesar permusuhan, melainkan sarana untuk belajar bahwa seseorang boleh berbeda pilihan, berbeda daerah, dan berbeda pandangan, tetapi tetap bisa berdiri dalam satu barisan.

IMG_20260510_105635-e1778385605391
Presiden Madura United, Achsanul Qosasi, membagikan kondisi terbaru sang pemain melalui unggahan emosional di akun Instagram pribadinya pada Sabtu malam (9/5/2026). Foto : Aq

United Bukan Sekadar Nama

Dalam pandangan Achsanul, kata “United” pada nama Madura United bukan sekadar identitas klub.

Kata itu adalah pesan.

Pesan untuk menyatukan empat kabupaten di Pulau Madura, sekaligus masyarakat Madura yang berada di perantauan. Pesan untuk mempertemukan mereka yang berbeda pilihan politik, latar sosial, maupun daerah asal.

“United adalah pesan. Ikhtiar menyatukan empat kabupaten, menyatukan orang Madura di pulau dan di rantau,” tegasnya.

Pandangan tersebut juga pernah disampaikan Achsanul bahwa sepak bola membuat Madura memiliki “bahasa baru” untuk menunjukkan kepada Indonesia bahwa masyarakat Madura hadir, bersatu, memiliki kebanggaan, dan menjunjung kesantunan.

Pada akhirnya, bagi Achsanul, sepak bola bukan hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Sepak bola adalah cara untuk mengajarkan masyarakat tentang kehidupan: berkompetisi tanpa harus bermusuhan, berbeda tanpa harus saling membenci, kalah tanpa merasa terhina, dan menang tanpa merendahkan.

Di situlah sepak bola menemukan makna yang lebih besar.

Bukan hanya mencetak gol, tetapi juga membangun kebanggaan, menumbuhkan cinta, dan menyatukan Madura.

Sumber : https://www.instagram.com/reel/DZXPfToPg-G/?igsi=ZXB6ODl2MG9qdTI1

VIRAL NETWORK

VIRAL TERBARU

LAINNYA
x Viralterkini