Ekonom Senior dan Mantan Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah. Foto : ist Viralterkini.id, JAKARTA – Tak banyak ekonom Indonesia yang dikenal mampu berbicara tentang inflasi dan nilai tukar pada satu kesempatan, lalu berdiskusi mengenai filsafat, sastra, hingga kebudayaan pada kesempatan lain. Burhanuddin Abdullah termasuk di antara sedikit tokoh yang memiliki perpaduan itu.
Rekam jejaknya di bidang ekonomi telah terbentang selama puluhan tahun. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian pada 2001, kemudian dipercaya menjadi Gubernur Bank Indonesia periode 2003–2008 setelah sebelumnya meniti karier dari berbagai posisi strategis di bank sentral. Selama memimpin Bank Indonesia, ia ikut mengawal stabilitas moneter, mendorong reformasi sektor perbankan melalui Arsitektur Perbankan Indonesia (API), serta memperkuat tata kelola industri keuangan nasional. ([Ekon][1])
Namun, di balik reputasinya sebagai ekonom dan bankir sentral, Burhanuddin justru mengaku lebih banyak menghabiskan waktunya membaca buku-buku yang jauh dari dunia ekonomi.
“Saya pecinta buku. Kalau ada kesempatan ke luar negeri, saya selalu membeli lima atau enam buku,” katanya dalam sebuah podcast LPPI. Ia mengungkapkan bahwa sebagian besar koleksi di rumahnya bukan buku ekonomi, melainkan filsafat, sejarah, novel, agama, politik, hingga lingkungan hidup.

Pengakuan itu menggambarkan cara berpikir Burhanuddin yang tidak hanya dibentuk oleh teori ekonomi, tetapi juga oleh humaniora. Baginya, memahami masyarakat tidak cukup hanya melalui angka-angka statistik, melainkan juga melalui sejarah, budaya, dan pemikiran manusia.
Pandangan tersebut tercermin dalam berbagai kebijakan yang pernah diambilnya. Salah satu yang paling dikenang ialah lahirnya Arsitektur Perbankan Indonesia pada 2004, sebuah cetak biru reformasi yang dirancang untuk membangun sistem perbankan yang lebih sehat, kuat, dan tahan terhadap krisis. Kebijakan itu menjadi salah satu fondasi penting reformasi sektor keuangan Indonesia pasca-krisis 1998. ([Ekon][1])
Di luar dunia ekonomi, Burhanuddin juga aktif dalam kegiatan kebudayaan. Ia mengaku masih terlibat dalam pengembangan budaya Sunda dan dipercaya memimpin Pusat Studi Sunda setelah menerima amanah dari sastrawan Ajip Rosidi. Baginya, ekonomi dan kebudayaan bukanlah dua dunia yang saling bertolak belakang, melainkan saling melengkapi.
Kegemarannya menulis pun sudah berlangsung lama. Dengan nada bercanda, ia pernah melontarkan kritik terhadap rendahnya budaya membaca di Indonesia.
“Saya ini salah hidup. Saya mengarang ratusan buku di negara yang rakyatnya tidak suka baca,” ujarnya, disambut tawa dalam perbincangan tersebut.
Menurut Burhanuddin, rendahnya literasi tidak bisa dilepaskan dari persoalan ekonomi. Ia menilai ketimpangan kesejahteraan, kualitas pendidikan, hingga masalah gizi seperti stunting ikut memengaruhi perkembangan kemampuan kognitif masyarakat.
“Pembagian kue ekonomi yang tidak merata telah menghantam persoalan-persoalan kognitif, persoalan akademik karena stunting dan sebagainya,” katanya.
Di usia senjanya, rasa ingin tahunya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan juga tidak surut. Saat membahas kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), Burhanuddin mengaku terkesan dengan kemampuan teknologi tersebut menyusun jawaban secara sistematis.
“Kecerdasan buatan ini memang benar-benar cerdas,” ujarnya. Meski demikian, ia tetap meyakini manusia tidak akan tergantikan sepenuhnya karena memiliki nilai, keyakinan, keberanian, dan perasaan yang tidak dimiliki mesin.
Di balik berbagai jabatan strategis yang pernah diembannya, Burhanuddin menyimpan filosofi hidup yang sederhana. Ia mengibaratkan kehidupan sebagai permainan juggling dengan lima bola: pekerjaan, keluarga, teman, kesehatan, dan semangat.
“Pekerjaan itu seperti bola karet. Kalau jatuh, masih bisa memantul kembali. Tapi keluarga, pertemanan, kesehatan, dan semangat adalah bola kaca. Kalau jatuh, akan pecah dan sulit disusun kembali,” tuturnya.
Pengalaman hidup yang naik turun membuatnya percaya bahwa kegagalan bukanlah akhir perjalanan. Ia mengaku pernah menjadi menteri, kemudian kehilangan jabatan, kembali dipercaya menjadi Gubernur Bank Indonesia, menghadapi berbagai persoalan hukum, hingga akhirnya kembali mengabdi di dunia pendidikan.
“Jangan takut berbuat salah. Kreatif dan inovatif itu bisa saja salah. Kalau takut salah, kita tidak akan kreatif, tidak akan inovatif, dan akhirnya tidak berbuat apa-apa,” kata Burhanuddin.
Perjalanan panjang itulah yang membentuk sosok Burhanuddin Abdullah. Di mata banyak kalangan, ia bukan hanya seorang ekonom dengan rekam jejak panjang di bidang moneter, tetapi juga seorang pemikir yang melihat persoalan ekonomi melalui lensa yang lebih luas—menghubungkan kebijakan publik dengan budaya, literasi, dan kualitas manusia sebagai fondasi utama pembangunan bangsa. (ma)