x Pulau Seribu Asri

Si Pintar yang Gampang Terbaca

waktu baca 3 menit
Rabu, 22 Jul 2026 17:23 33 M Ary K

Oleh: Yusuf Ibrahim | Penikmat Tulisan

Hasil AI menulis itu seperti mendengarkan orang main gitar dengan chord tiga jurus. Enak didengar, rapi, tetapi lama-lama kita hafal arahnya. Setelah ini biasanya begitu, setelah begitu biasanya begini.

Struktur dan polanya cepat terbaca. Seperti deret angka dalam matematika. Kita sudah bisa menebak angka berikutnya yang akan muncul.

Tidak mengherankan. AI adalah mesin. Ia bekerja secara matematis dan sistematis. Ia memilih kemungkinan terbaik dari miliaran contoh yang pernah dipelajarinya. Karena itu tulisannya cenderung rapi, logis, dan mudah dipahami.

Justru di situlah batasnya.

Terlalu rapi sering kali terasa hambar. Terlalu logis membuat kejutan menghilang. Semuanya benar, tetapi tidak selalu membekas.

Makin hari AI semakin pintar. Apalagi jika terus “disuapi” data, konteks, referensi, dan contoh gaya penulisan. Hasilnya semakin mendekati manusia. Bahkan sesekali mampu mengecoh pembacanya.

Tetapi bagi saya, tetap ada sesuatu yang hilang.

Tulisan yang baik bukan sekadar rangkaian kata yang benar. Ia membawa pengalaman. Menyimpan kegelisahan. Berani mengambil posisi. Kadang lahir dari kegagalan, kehilangan, bahkan luka yang belum selesai. Hal-hal seperti itu tidak lahir dari algoritma. Ia lahir dari kehidupan.

Karena itulah, lama-kelamaan membaca tulisan AI tanpa sentuhan manusia bisa terasa membosankan. Bawaannya ingin skip-skip aja. Habis… ritmenya mirip. Skema dan komposisinya baku. Metaforanya sering terlalu bersih. Antitesisnya kadang dipaksakan. Semuanya terasa benar, tetapi jarang terasa baru.

Bukan berarti AI tidak berguna. Justru sebaliknya. AI adalah alat yang luar biasa. Ia mempercepat pencarian data, merangkum informasi, membandingkan referensi, menyusun kerangka tulisan, bahkan menjadi teman berdiskusi yang nyaris tidak pernah lelah.

Namun saya tetap percaya, AI tidak seharusnya menggantikan proses berpikir manusia. Cukuplah AI mengurus dan mencarikan data. Biarkan manusia mengurus maknanya.

Ada satu hal yang sampai hari ini belum bisa dihitung oleh algoritma. Yakni kegelisahan. Maklum, karena AI tak punya perasaan.

Dari kegelisahan itulah nanti akan lahir tulisan-tulisan yang membekas dan bertahan lama.

Seorang penulis kadang salah memilih kata. Kadang kalimatnya terlalu panjang. Kadang metaforanya meleset. Tetapi di sanalah letak manusianya. Letak serunya bermain dengan kata-kata.

Saya tidak tahu seperti apa AI sepuluh tahun lagi. Mungkin jauh lebih cerdas daripada hari ini. Mungkin pula hampir mustahil dibedakan dari tulisan manusia.

Tetapi saya masih percaya pada satu hal. Orang tidak jatuh cinta kepada struktur tulisan yang paling sempurna. Orang jatuh cinta kepada tulisan yang terasa hidup. Yang mewakili roh penulisnya. Menghadirkan kegelisahan, protes, kecewa, kritis dan mengandung konflik, sehingga memperlihatkan keberanian penulisnya.

Walau begitu saya akan tetap menulis. Peduli setan AI makin pintar dan sempurna. Hingga susah dibedakan ini manusia atau mesin.

Mau panjang atau pendek. Mau bagus atau tidak. Mau dibaca atau diabaikan. Mau viral atau tenggelam. Setidaknya saya menulis. Tetap menulis apa saja.

Tabik.

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri