x Pulau Seribu Asri

Musik dan Sepak Bola Itu Adalah Inggris

waktu baca 3 menit
Rabu, 15 Jul 2026 14:06 23 M Ary K

Penulis : Yusuf Ibrahim | Penikmat Sepak Bola

“Football and music are the two things England gave the world.”— Noel Gallagher

Begitulah Noel Gallagher, vokalis Oasis asal Inggris, pernah berkata. Ia seolah mengingatkan bahwa ada dua warisan terbesar Inggris kepada dunia yang begitu padu dan padan. Yakni, musik dan sepak bola.

Sepak-Bola-dan-Musik-Inggris

Yang satu dimainkan dengan kaki, yang lain dengan jemari. Sepak bola membutuhkan lapangan hijau, musik memerlukan panggung yang gemerlap.

Kita sudah mendengar lagu Wonderwall milik Oasis dan Hey Jude dari The Beatles menggema dari tribun saat Inggris berjaya. Lagu-lagu itu tidak sekadar dinyanyikan. Ia telah berubah menjadi doa yang diberi melodi.

Maka ketika Inggris menghadapi Argentina di semifinal Piala Dunia 2026 dini hari nanti, rasanya mereka tidak hanya membawa Harry Kane, Jude Bellingham, Bukayo Saka, Declan Rice, atau Jordan Pickford. Mereka juga membawa nama-nama besar seperti The Beatles, Queen, The Rolling Stones, The Police, Coldplay, hingga Oasis. Bukti bahwa sepak bola Inggris tak pernah benar-benar berjalan sendirian. Ia selalu ditemani musiknya.

Barangkali, di sebuah kamar hotel di Atlanta, pada menit-menit terakhir menjelang semifinal, Wonderwall sedang mengalun pelan dari gawai satu-dua pemain Inggris. Lagu itu seperti mengingatkan bahwa setiap bangsa selalu berharap memiliki seseorang yang sanggup menjadi penyelamat.

Atau mungkin Yellow milik Coldplay yang diputar. Lagu sederhana yang percaya bahwa selalu ada cahaya di ujung perjalanan.

Inggris berharap cahaya itu kembali bernama Harry Kane, dengan kematangan seorang kapten. Atau Jude Bellingham, yang memainkan bola dengan kedewasaan jauh melampaui usianya.

Begitu pula Bukayo Saka, Declan Rice, Phil Foden, dan rekan-rekannya. Masing-masing adalah tembang lapangan yang harus terdengar tepat pada waktunya.

Ketika pertandingan nanti memasuki tempo yang lebih keras, seketika Mick Jagger berteriak lewat Start Me Up.

Pokoknya, tidak ada ruang bagi pasukan Three Lions untuk gugup dan bermain lembek.

Di semifinal, setiap sentuhan bola selalu berada dalam pengawasan. Sting menyemangati bersama The Police lewat Every Breath You Take. Setiap langkah, setiap umpan, setiap tekel, bahkan setiap tarikan napas para pemain dilihat jutaan orang.

Sepak bola bukan hanya soal tenaga. Ia adalah mimpi kemenangan yang diharmonikan. Hentakan Come Together, The Beatles, mengkomandoi sebelas pemain untuk terus mengorkestrasikan kekuatan dan kemenangan.

Di lapangan, setiap passing adalah nada. Setiap tackling adalah ketukan. Setiap penyelamatan menjadi interlude yang menegangkan. Dan setiap gol menjelma refrein yang dinyanyikan puluhan ribu orang di tribun.

Lalu Oasis kembali mengingatkan lewat Don’t Look Back in Anger.

Jangan lagi menoleh kepada Hand of God, kartu merah David Beckham, atau luka-luka lama yang selalu membayangi setiap pertemuan Inggris dan Argentina.

Sejarah layak dikenang, tetapi tidak untuk dijadikan beban. Sepak bola selalu memberi kesempatan kepada generasi baru untuk menulis kisahnya sendiri.

Dan bila seluruh perjalanan itu berakhir indah, biarkan Freddie Mercury mengambil alih panggung dan mic.

Bukan sekarang.

Nanti, saat trofi benar-benar diangkat tinggi ke langit saat final.

Sebab We Are the Champions milik Queen bukan lagu untuk membakar semangat sebelum pertandingan dimulai. Ia adalah lagu kemenangan. Lagu yang hanya pantas dinyanyikan setelah seluruh perjuangan selesai.

Musik memberi irama. Sepak bola memberi cerita.

Tentu saja Argentina bukan bangsa tanpa musik. Mereka memiliki Tango, irama yang lahir dari kerinduan, keberanian, dan harga diri. Seperti sepak bolanya, Tango mengajarkan bahwa kemenangan bukan sekadar soal berlari lebih cepat, melainkan tentang bagaimana tetap anggun ketika menghadapi tekanan. Itulah jiwa Tim Tango, Albiceleste.

Lionel Messi, Julián Álvarez, Enzo Fernández, Alexis Mac Allister, hingga Emiliano Martínez tentu mengenal lagu-lagu Oasis. Namun malam nanti di lapangan, mereka hadir bukan untuk ikut menyanyikan Wonderwall. Mereka datang untuk membungkam setiap mulut yang berusaha menyanyikannya. Di Atlanta, Kamis, 16 Juli 2026, pukul 02.00 WIB, Inggris vs Argentina. Semi Final Piala Dunia 2026.

Tabik.

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri