x Pulau Seribu Asri

Rupiah Jebol Rp17.500 per Dolar AS, Investor Panik dan Pilih Main Aman

waktu baca 3 menit
Selasa, 12 Mei 2026 17:29 15 M Ary K

Viralterkini.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan hebat hingga menembus level psikologis baru di angka Rp17.500 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Pelemahan tajam mata uang Garuda ini memicu kekhawatiran pelaku pasar dan membuat investor mulai mengambil langkah defensif terhadap aset-aset berdenominasi rupiah.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai anjloknya rupiah dipicu kombinasi tekanan global dan sentimen domestik yang datang secara bersamaan.

Menurut Josua, faktor eksternal menjadi pemicu utama pelemahan rupiah, terutama lonjakan harga minyak dunia dan penguatan dolar AS yang dipicu memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah.

Sebagai negara yang masih memiliki ketergantungan impor energi cukup tinggi, Indonesia dinilai sangat rentan terhadap kenaikan harga minyak dunia. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar karena berpotensi memperbesar beban impor dan menekan stabilitas fiskal nasional.

“Dua faktor tersebut efeknya terhadap ekonomi kita relatif cenderung lebih besar dibandingkan mungkin dengan negara-negara lain. Sehingga dampaknya pun relatif lebih cepat terhadap nilai tukar rupiah kita,” ujar Josua dalam acara PIER Economic Review Kuartal I 2026 yang digelar secara virtual di Jakarta, Selasa.

Di tengah ketidakpastian global, dolar AS kembali menjadi aset safe haven yang diburu investor. Situasi ini mendorong arus modal asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Tak hanya faktor global, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri. Pelaku pasar saat ini masih bersikap wait and see menunggu hasil MSCI Index Review periode Mei 2026 yang diumumkan Selasa waktu New York atau Rabu waktu Indonesia.

Dalam peninjauan kali ini, MSCI menerapkan aturan lebih ketat terkait High Shareholding Concentration (HSC) atau konsentrasi kepemilikan saham tinggi. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi memengaruhi sejumlah saham berkapitalisasi besar di Indonesia yang memiliki free float terbatas.

Sentimen negatif juga datang dari lembaga pemeringkat internasional. Penurunan prospek peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s Ratings dan Fitch Ratings pada awal tahun disebut masih membayangi pasar saham dan obligasi domestik.

“Kita bisa lihat bahwa rentetan risiko global ditambah lagi ada penilaian ataupun peringatan dari lembaga internasional terhadap Indonesia, sehingga ini memberikan dampak yang cukup masif terhadap risk appetite investor asing, khususnya terhadap aset-aset berdenominasi rupiah kita,” kata Josua.

Meski tekanan terhadap rupiah sangat berat, Josua menegaskan kondisi saat ini tidak bisa disamakan dengan krisis moneter 1997-1998. Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan era krisis, terutama dari sisi cadangan devisa dan pengelolaan utang luar negeri pemerintah.

Menurutnya, secara fundamental rupiah saat ini justru berada dalam kondisi undervalued atau di bawah nilai wajarnya. Artinya, pelemahan yang terjadi lebih dipengaruhi sentimen jangka pendek dibandingkan masalah fundamental ekonomi yang rapuh.

Ke depan, stabilitas rupiah diperkirakan akan sangat dipengaruhi perkembangan konflik geopolitik global serta respons kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia. Josua menilai ruang penurunan suku bunga acuan atau BI Rate kini semakin terbatas karena fokus utama otoritas moneter tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. (ma)

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri