Viralterkini.id – PT Freeport Indonesia (PTFI) mencatat penurunan kinerja yang cukup dalam sepanjang 2025. Dalam laporan keuangan yang dirilis pada Minggu (22/3/2026), perusahaan melaporkan laba bersih hanya US$2,52 miliar atau sekitar Rp42,07 triliun (kurs Rp16.698 per dolar AS). Angka ini turun 38,85% dari perolehan US$4,13 miliar pada 2024.
Pendapatan Freeport juga ikut melemah. Perusahaan hanya membukukan US$8,62 miliar (Rp143,9 triliun) pada 2025, turun dari US$10,31 miliar pada tahun sebelumnya.
Penurunan laba Freeport terutama terjadi akibat turunnya penjualan dua komoditas utama, yakni emas dan tembaga.
Selain itu, Freeport mencatat penjualan perak US$83,85 juta.
Seiring melemahnya penjualan, biaya penjualan justru naik dari US$4,45 miliar menjadi US$4,71 miliar.
Kinerja operasional Freeport ikut terdampak. Laba kotor turun menjadi US$3,91 miliar dari sebelumnya US$5,86 miliar.
Laba usaha menyusut menjadi US$3,78 miliar, turun dari US$5,74 miliar.
Penurunan laba ini juga terlihat pada laba per saham (EPS) yang merosot menjadi US$6.670,99, jauh dari US$10.907,38 pada 2024.
Kontribusi PTFI kepada negara juga melemah sepanjang 2025.
Bloomberg Technoz melaporkan bahwa produksi Freeport pada 2025 melemah signifikan akibat kecelakaan di tambang bawah tanah Grasberg pada September 2025.
Menurut laporan Freeport McMoRan Inc. (FCX):
Meski volume produksi menurun, harga komoditas justru naik:
Manajemen FCX menegaskan bahwa produksi turun karena operasi Grasberg Block Cave (GBC) berhenti total akibat banjir lumpur.
“Insiden di GBC pada September menghambat seluruh operasi bawah tanah. Kondisi ini membuat produksi turun jauh dari level normal,” demikian penjelasan manajemen FCX dalam keterbukaan informasi.
Manajemen juga menyebut bahwa dalam kondisi normal, operasi bawah tanah Freeport mampu memproduksi:
Ini menjadikan tambang Freeport salah satu operasi berbiaya rendah terbesar di dunia. (**)