x Pulau Seribu Asri

Lonjakan Harga Minyak Ancam Ekonomi Amerika, Trump Panik

waktu baca 2 menit
Rabu, 4 Mar 2026 23:07 15 Arthur

Viralterkini.id – Konflik militer antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran kini menekan perekonomian AS. Serangan udara AS dan Israel ke Iran serta balasan Teheran mengguncang pasar minyak dunia, menutup sementara Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar 20% perdagangan minyak global. Akibatnya, harga minyak mentah Brent melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2024.

Analis Oxford Economics, John Canavan, memprediksi harga bensin di SPBU AS akan naik dalam beberapa hari. Ia menekankan bahwa tren kenaikan sudah terlihat sejak Januari, dan pengecer merespons cepat setiap perkembangan geopolitik yang menekan harga.

Lonjakan harga energi langsung membebani rumah tangga AS. Pengeluaran konsumen, yang menyumbang dua pertiga dari produk domestik bruto (PDB) AS, berpotensi menurun drastis.

Ekonom ING, James Knightley, menambahkan bahwa harga energi tinggi bakal mendorong tarif penerbangan lebih mahal dan biaya distribusi barang naik. Meski AS relatif swasembada gas alam, harga domestik tetap mengikuti tren global, sehingga kenaikan internasional juga berisiko menaikkan biaya listrik.

Knightley menegaskan bahwa masyarakat akan menanggung tekanan finansial lebih besar, yang bisa menekan pertumbuhan ekonomi terutama jika perang berlangsung berminggu-minggu. Situasi ini juga menimbulkan risiko politik bagi Presiden Donald Trump, karena harga energi yang tinggi bisa memengaruhi sentimen publik menjelang pemilihan.

Kepala Ekonom Nationwide, Kathy Bostjancic, memperingatkan bahwa harga bensin tinggi bisa menurunkan kepercayaan konsumen dan berimbas pada suara pemilih.

Di sisi moneter, konflik menempatkan Federal Reserve pada posisi sulit. Risiko inflasi meningkat, memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi, sementara perlambatan ekonomi dan tekanan pasar tenaga kerja membuka peluang pelonggaran kebijakan.

Presiden Federal Reserve New York, John Williams, menyatakan bank sentral terus memantau dampak konflik terhadap harga. Knightley menekankan bahwa bank sentral harus menyeimbangkan dua tujuan bertentangan: menekan inflasi dan memastikan lapangan kerja tetap maksimal.

Konflik ini menegaskan bahwa perang di Timur Tengah tidak hanya memengaruhi geopolitik, tapi juga menekan ekonomi, politik, dan kehidupan sehari-hari warga AS. (**)

INSTAGRAM

12 hours ago
12 hours ago
12 hours ago
12 hours ago
12 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri