Ilustrasi: Viralterkini.id Viralterkini.id – PT Pertamina (Persero) mengonfirmasi keberadaan empat kapal minyak milik perusahaan di kawasan Timur Tengah. Dari jumlah tersebut, dua kapal masih berada di sekitar Selat Hormuz yang saat ini tidak dapat dilalui akibat penutupan jalur oleh Iran.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa perusahaan memprioritaskan keselamatan awak kapal serta perlindungan aset.
“Kami terus memantau kondisi kapal dan berkoordinasi dengan awak serta Kementerian Luar Negeri untuk memastikan keamanan,” kata Baron di Grha Pertamina, Rabu (4/3/2026).
Ia menjelaskan, dua kapal berada di luar Selat Hormuz dan tidak terdampak langsung penutupan jalur tersebut. Seluruh kapal Pertamina saat ini berada dalam kondisi aman.
Baron menyebut sekitar 19 persen pasokan minyak mentah Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah yang biasanya melewati Selat Hormuz.
Untuk menjaga ketahanan energi nasional, Pertamina langsung mengaktifkan skema distribusi alternatif dan jalur darurat.
“Kami sudah menjalankan sistem distribusi reguler alternatif dan emergensi agar kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi,” ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, setiap hari sekitar 20,1 juta barel minyak dunia melintasi Selat Hormuz. Bagi Indonesia, jalur ini menyumbang hampir seperlima dari total impor minyak mentah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyatakan pemerintah menyiapkan langkah antisipatif menyusul konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran.
“Penutupan Selat Hormuz berdampak besar pada energi global. Pemerintah mengambil langkah cepat sesuai arahan Presiden,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Selasa (3/3/2026).
Ia menjelaskan, sekitar 20 hingga 25 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah. Sementara pasokan lainnya datang dari Afrika, Amerika Serikat, dan Brasil.
Untuk mengurangi risiko gangguan pasokan, pemerintah memutuskan mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat.
“Kami memilih skenario terburuk agar pasokan tetap aman. Sebagian crude dari Timur Tengah kami alihkan ke Amerika supaya ada kepastian ketersediaan,” tegas Bahlil.
Langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. (**)