x Pulau Seribu Asri

Hari Peduli Sampah Nasional 2026: Perkuat Kolaborasi dan Strategi Terpadu untuk Mitigasi Iklim

waktu baca 3 menit
Kamis, 26 Feb 2026 15:45 26 M Ary K

Viralterkini.id, Cimahi – Seluruh elemen masyarakat Indonesia kembali memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) setiap 21 Februari. Peringatan ini menjadi pengingat atas tragedi longsor sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Leuwigajah, Cimahi, yang terjadi pada 21 Februari 2005 dan menelan banyak korban jiwa.

Pada HPSN 2026, pemerintah mengangkat tema “Kolaborasi Aksi untuk Gerakan Nasional Indonesia Asri (Aman, Sehat, Resik, dan Indah)”. Tema ini menegaskan pentingnya sinergi seluruh pihak dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, mulai dari pemilahan di sumber, pengangkutan, hingga proses daur ulang dan pemrosesan akhir.

Berdasarkan laporan Global Waste Management Outlook 2024, sebanyak 38 persen sampah global masih tidak terkelola dengan baik. Kondisi ini berkontribusi terhadap Triple Planetary Crisis, yakni perubahan iklim (climate change), kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity loss), dan polusi (pollution).

Sementara itu, data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2025 mencatat timbulan sampah Indonesia mencapai 24,8 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, hanya 34,55 persen atau sekitar 8,5 juta ton per tahun yang terkelola dengan baik, sedangkan 65,45 persen atau sekitar 16,3 juta ton per tahun belum tertangani optimal.

Dari sisi metode pemrosesan akhir, sebanyak 36,24 persen sampah masuk ke TPA dengan sistem sanitary landfill atau controlled landfill. Namun, mayoritas—63,76 persen—masih menggunakan metode open dumping atau penimbunan terbuka yang berisiko mencemari lingkungan dan memperparah emisi gas rumah kaca.

Sektor rumah tangga tercatat sebagai penyumbang sampah terbesar, yakni 56,7 persen atau sekitar 7,2 juta ton per tahun. Sumber lainnya berasal dari sektor perniagaan (7,58 persen atau 972,2 ribu ton per tahun), pasar (sekitar 1,7 juta ton per tahun), fasilitas publik (7,03 persen atau 899,7 ribu ton per tahun), kawasan (4,68 persen atau 598,6 ribu ton per tahun), kategori lainnya (6,13 persen atau 785,1 ribu ton per tahun), serta perkantoran yang menjadi penyumbang terkecil dengan 4,22 persen atau 541,8 ribu ton per tahun.

Menanggapi kondisi tersebut, Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna, menegaskan perlunya strategi terpadu dalam pengelolaan sampah guna mendukung mitigasi perubahan iklim sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Dolly, strategi tersebut harus mencakup reformasi kebijakan, inovasi teknologi, kampanye kesadaran dan edukasi publik, serta partisipasi aktif masyarakat. Reformasi kebijakan menjadi fondasi utama melalui regulasi yang tegas, pemberian insentif bagi praktik ramah lingkungan, serta sistem pengawasan yang konsisten agar pengelolaan sampah berjalan efektif.

Di sisi lain, inovasi teknologi seperti pengolahan sampah berbasis daur ulang, pemanfaatan limbah menjadi energi, serta digitalisasi sistem pengumpulan sampah dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus menekan dampak pencemaran.

Kampanye kesadaran dan edukasi publik juga berperan penting dalam membentuk perilaku masyarakat agar lebih peduli terhadap pengurangan, pemilahan, dan pengolahan sampah sejak dari sumbernya. Upaya ini akan berjalan optimal jika didukung partisipasi aktif masyarakat, baik di tingkat rumah tangga, komunitas, maupun sektor industri.

“Ketika masyarakat diberdayakan untuk mengelola sampah secara bertanggung jawab, mereka tidak hanya berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan tetapi juga membuka peluang ekonomi, yang mengarah pada masyarakat yang tangguh dan berkelanjutan,” ujar Dolly.

Ia menegaskan, pengelolaan sampah berkelanjutan bukan sekadar kewajiban lingkungan, melainkan langkah strategis menuju masa depan rendah karbon yang menguntungkan semua pihak, baik di tingkat lokal maupun global.

Peringatan HPSN 2026 pun diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi, berbagi pengetahuan, serta menerapkan solusi inovatif dalam membangun ekonomi sirkular demi menjaga Bumi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (ma)

WhatsApp Image 2026-02-26 at 3.39.20 PM
Tampak hasil pengelolaan sampau menjadi produk yang berkualitas. Foto : Belantara Foundation

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INSTAGRAM

21 hours ago
21 hours ago
21 hours ago
21 hours ago
23 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri